Kampusiana

Sastra, Karakter Bangsa dan Kemajuan Budaya

Ian Sacthwell (kanan) dan Lilly Awalludin( tengah) sedang memberikan materi dalam seminar Art and Language Festivel 2016 yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Bahasa (LPB) UIN SGD Bandung di gedung Abdjan Soelaeman, Sabtu (3/12/2016).

Ian Sacthwell (kanan) dan Lili Awalludin( tengah) sedang memberikan materi dalam seminar Art and Language Festivel 2016 yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Bahasa (LPB) UIN SGD Bandung di aula Abdjan Soelaeman, Sabtu (3/12/2016). (SUAKA / Anisa Dewi A.)

SUAKAONLINE.COM, — Berbicara masalah sastra, berarti juga berbicara mengenai karakter bangsa. Budaya merupakan dorongan yang besar dari manusia. Tidak saja untuk bertahan tetapi untuk bergerak ke arah yang lebih maju. Pembahasan mengenai kemajuan tak jauh dari budaya. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ian Satchwell selaku Senior Fellow Australia and Indonesia Bussines Council dalam seminar Art and Language Festival 2016, di aula Abdjan Soelaeman UIN SGD Bandung, Sabtu (3/12/2016).

”Orang – orang Indonesia memiliki kebudayaan, perspektif, tingkah laku yang berbeda- beda, maka dari itu kita harus memastikan bahwa varietas budaya bagian dari asosiasi kita dalam hidup,” ungkap Ian dalam acara yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Bahasa (LPB) tersebut.

Ketua Jurusan Sastra Inggris UIN SGD Bandung, sekaligus pemateri dalam acara tersebut, Lili Awalludin menjelaskan bahwa sastra adalah unsur terkecil  dari seni. Sementara seni adalah bagian dari budaya. Jadi sebelum mengetahui bagaimana definisi sastra dalam budaya, terlebih dahulu mengetahui apa itu budaya. Sastra secara umum menguatkan tentang fiksi, ketika orang – orang berbicara mengenai sastra maka yang dibicarakanya adalah fiksi, imajiner, fiksi yang tidak nyata.

Ia menambahkan bahwa pembagian sastra dilihat dari genrenya dibagi menjadi tiga macam. Pertama, sesuatu yang hanya terbatas jumlahnya dari orang – orang yang bisa menulis misalnya Ayu Utami, Chairil Anwar, Eka Kurniawan. Kedua, beberapa bahasa mengekspresikan ketika ada kombinasi antara seni dan bahasa karena pada dasarnya sastra berarti Some kind of language in artistic. Ketiga, sastra tradisional pada dasarnya tanpa cetak karena untuk kebutuhan penerbit, distribusi, akhirnya dilakukan. Tetapi kita masih memelihara untuk menambahkan tradisi dari segi warisan budaya. Seperti Malin Kundang, tidak ada yang menulis juga memproduksi muncul begitu saja dari orang – orang Minang.

Baca juga:  Terbentuknya Kepanitiaan OPAK

“Sastra berubah dari waktu ke waktu novel pada abad ke-17 itu seperti mengalami kemunduran banyak yang tidak melihat artikel tentang novel, Pertama kali terbit di Inggris, Robinson Crusoe yang merupakan puisi pahlawan dahulu termasuk hal yang nyata. Pada abad ke-18 sastra hanya dianggap  tidak lebih dari sekedar novel,” jelas Lili.

Lili juga menjelaskan, pada abad ke-19, khutbah dipahami sebagai sastra bukan sekadar ekspresi tapi juga dari segi bahasa. Tahun 1940-an, sastra membutuhkan sesuatu yang lain, karena media elektronik seperti televisi, radio pada dasarnya ikut membangun sebuah invensi yang baru. Hubungan antara sastra dan media elektronik melahirkan suatu masyarakat yang kontemporer dan sastra populer.

Menurutnya, pantun tradisional, lagu lagu pop, video game, sinetron itu juga merupakan bagian dari sastra. Sastra muncul dari berbagai banyak perbedaan bentuk dan aturan yang mana tidak mungkin menjadi gamblang dan tergenggam. Karena Sastra terus berkembang, maka hal ini dapat diibaratkan seperti Wikipedia yang never ending dan tidak bisa diprediksi karena artikel yang terus berputar.

Reporter : Anisa Dewi A.

Redaktur : Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas