Opini

Gedung SC Gedungnya Mahasiswa, Ali Ramdhani Harus Demokratis

*Oleh Yoga Zaraandrita


Jumat, 17 Januari 2014. Kabarnya dalam kontrak yang dibuat antara pihak IDB (Islamic Depelopment Bank) dengan pihak UIN SGD Bandung terkait pembangunan kampus, tertera aturan yang menyatakan bahwa Gedung Student Center nantinya ketika telah siap pakai tidak boleh diinapi mahasiswa. Ada batasan-batasan waktu kegiatan di gedung Student Center.


Maka jangan heran, baru-baru ini (ketika gedung SC (student center) sudah bisa dipakai mahasiswa) penghuni gedung yang notabene adalah mahasiswa anggota aktif dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), dan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) mendapat sosialisasi aturan mengenai itu.


Aturan itu tentu saja disepakati oleh pihak UIN Bandung. Tak tanggung-tanggung, dana pinjaman yang digelontorkan IDB kepada negara untuk UIN Bandung sebesar 60 milyar (LHP BPK). Maka wajar jika pihak UIN Bandung menyepakatinya. AliRamdhani lah yang bertugas mensosialisasikan hal itu kepada mahasiswa. Ia adalah pejabat kampus yang menduduki posisi penting, ialah sebagai (Warek III), Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan, tugasnya tentu saja “menjinakan mahasiswa”. Teman-teman di LPM SUAKA mungkin masih ingat, beberapa waktu lalu sempat kena omong Ali Ramdhani.


Ali Ramdhani pernah meminta redaksi SUAKA melalui telpon untuk menghentikan distribusi majalahyang kotroversial itu (Berjudul “YANG TERSANGKUT DI GEDUNG REKTORAT”). Enggak jelas apa alasannya, padahal kalau kita mau kembali ke doktrin demokrasi, media massa adalah elemen penting yang menopang demokrasi, tentu saja media massa yang belum diprivatisasi atau dalam bahasa lainnya MEDIA MASSA YANG INDEPENDENT.


Dan SUAKA adalah media massa macam itu. Mengintervensi kebijakan SUAKA dengan dalih SUAKA didanai rektorat, itu namanya mencederai demokrasi. Memangnya kampus ini miliknya rector atau miliknya Ali Ramdhani? mentang-mentang mereka di posisi tinggi dalam hirarki kepejabatan kampus. Enggak, pemikiran macam itu keliru, mereka itu cuman pegawai negeri yang gajinya diambil dari duit pajak negara, duit pajak yang dibayarkan orang tua kita.


Aturan penggunaan gedung SC disosialisasikan di acara ‘Workshop Penantaan Organisasi’ yang diselenggarakan pihak rektorat di Tempat Wisata Pangjugjugab Sumedang selama dua hari (lih. Suakaonline: Penggunaan Gedung SC Disesuaikan Jam Akademik). Dalam acara itu pihak rektorat secara sepihak menetapkan aturan yang tidak menguntungkan bagi mahasiswa yang berkegiatan di gedung SC melalui UKM dan HMJ. Anehnya perwakilan UKM, HMJ dan DeMa (Dewan Mahasiswa) banyak yang menyepakati aturan yang ditetapkan pihak rektorat. Setelah saya teliti rupa-rupanya dalam undangan yang disampaikan pada ketua UKM masing-masing.

Tidak ada acara sosialisasi aturan penggunaan gedung SC, maka mereka mengutus anggota UKM-nya masing-masing tanpa membekali mereka dengan aspirasi UKM nya. Walaupun aturan yang tak berpihak pada mahasiswa itu kabarnya bakal diterapkan secara efektif hari senin tanggal 14 januari yang lalu. Nyatanya sampai detik ini aturan macam itu Cuma basa-basi tak ada tindak lanjutnya.

 

Walaupun tak efektif, namun mahasiswa pegiat UKM dan HMJ tetaplah mesti waspada siapa tahu pihak rektorat berkeras hati ingin mewujudkan tatanan gedung SC seperti di UIN Jogja sana, yaitu tunduk dan patuh pada aturan yang ditetapkan.



Ini Semua Tentang Hobi


Atau mungkin bagi mereka para pejabat kampus, membuat aturan itu semacam hobi. Membuat aturan sebagai hobi memang tak menuntut penerapan. Pencapaian tertingginya adalah terciptanya aturan itu sendiri, perkara efektif diterapkan atau tidaknya sebuah aturan, itu bukan urusan mereka lagi.


Membuat aturan semacam hobi, bagi mereka. Membangun gedung-gedung di kampus ini pun jangan-jangan cuma hobi. Lihat saja misalnya gedung SC. Gedung SC ini dibangun lengkap dengan WC di dalamnya (WC) ada tempat kencing berdiri, buang air besar duduk dan jongkok namun tak tersedia air. Gedung ini terdiri dari empat lantai, di setiap lantainya ada WC, di dekat WC nya ada mushola, tapi tidak ada air. Meskipun kini di WC lantai satu dan empat sudah ada air, namun perlu dicatat jauh sesudah gedung ini dihuni tak ada air di setiap WC nya.


Keadaan ini telah mengkondisikan beberapa mahasiswa penghuni gedung membuang air kencing ke dalam botol plastik. Ini baru fenomena yang saya potret, masih banyak botol air kencing yang berserakan dan masih ada fenomena lainnya yang lebih menjijikan. Fenomena ini adalah salah satu dari konsekuensi hobi membangun gedung. Yang lain-lainnya entah urusan siapa. Pertanyaan saya kemudian, kenapa mereka hobi sekali membangun gedung megah dan hobi sekali bikin aturan tanpa melibatkan mahasiswa dalam perencanaannya, sebagai partner setara??


*Penulis adalah mahasiswa jurusan Aqidah Filsafat, Fakultas Ushuludin UIN SGD Bandung, aktif di LPIK.

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas