Opini

Wajah Baru UIN SGD Bandung

*Oleh Totoh Tohary

Mahasiswa UIN Bandung, patut merasa bangga. Pasalnya, renovasi kampus yang sudah menginjak tahun ketiga itu, “nyaris” rampung. Kendati masih tahap finishing, “wajah baru” kampus nampaknya sudah kelihatan. Proyek yang berlangsung sejak penghujung 2010 itu, digadang-gadang tuntas di akhir 2012. Ternyata, proyek itu molor. Wacananya, akan dituntaskan tahun kemarin, tahun 2013. Ternyata, molor juga. Hingga awal 2014, proyek kampus ini belum juga usai. Terlalu!


Selama kurun waktu tiga tahun pembangunan, banyak cerita menarik seputar kampus Islam ini. Sepanjang permulaan renovasi digulirkan, sepanjang itu pula gejolak kampus berlangsung. Tidak sedikit mahasiswa yang tidak setuju dengan kebijakan “merombak” kampus. Berbagai penolakan pun diekspresikan dalam beragam cara. Ada yang berdemo di depan rektorat, ada pula yang berdemo berkeliling kampus, menyanyikan yel-yel penolakan atau hanya sekedar nempelin poster dan membagikan selebaran “enggak setuju”, dengan adanya proyek pembangunan kampus. Lebih parahnya lagi, ketika ada mahasiswa yang meluapkan ekspresinya, sambil berteriak-teriak di jam belajar. Mungkin mereka tidak menyadari, hal itu sangat merusak ketengan belajar mahasiswa lainnya.


Namun tidak sedikit juga mahasiswa yang memilih “pasrah” atas kebijakan renovasi tersebut. Barangkali inilah ungkapan “setuju” yang tidak diekspresikan. Dengan kata lain, kebanyakan mahasiswa “angkat tangan”, tidak tahu dan tidak mau tahu dengan proyek kampus. Boleh jadi, ekspresi ini sebagai bentuk dukungan atas kebijakan renovasi tempat kuliah mereka, namun tidak diungkapkan secara fulgar. Entahlah.


Proyek renovasi kampus UIN ini, menyisakan banyak masalah. Bahkan proyek ini dinilai kurang terencana dengan baik. Hal ini nampak dari relokasi kampus ke tempat yang kurang representatif, malah jauh dari kesan tempat belajarnya “anak kuliahan”. Jelas, hal ini sangat berdampak pada tingkat efektivitas Kegiatan Belajar Mengajar  (KBM) mahasiswa. Setidaknya, hal ini dapat dilihat dari tiga aspek.


Pertama, aspek presensi, yakni tingkat kehadiran mahasiswa dan dosen di kelas. Relokasi tempat kuliah ke lokasi yang cukup jauh, menyisakan banyak persoalan. Salah satunya ialah tingkat kehadiran mahasiswa yang menurun. Hal ini sangat wajar. Lantaran tempat kuliah yang kurang nyaman, belajar dengan kondisi seadanya, jam belajar yang dipangkas, ditambah jarak tempuh yang tidak dekat dan kondisi jalan yang sering macet, menyebabkan gairah belajar mahasiswa kian melempem. Tak terkecuali bagi kalangan dosen, pun demikian.


Bila pra-renovasi kampus dilaksanakan, presensi mahasiswa dan dosen cukup baik, maka pasca-renovasi kampus terjadi sebaliknya. Kalau pun hadir, tidak sedikit—baik mahasiswa atau pun dosen—yang datang terlambat. Logikanya, ketika kuliah di kampus UIN Bandung saja banyak yang terlambat, apalagi ketika direlokasi ke tempat yang cukup jauh. Nampaknya, semakin punya banyak alasan!


Kedua, aspek interaksi, yakni tingkat keaktifan mahasiswa selama belajar di kelas. Bisa dibayangkan, tempat perkuliahan yang jauh, macet, bahkan ada yang harus berjalan kaki kurang lebih 1 Km untuk sampai ke lokasi perkuliahan—misalnya mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi (FIDKOM) yang pindah ke SMK Karyabudi Tagog, Cileunyi—mengakibatkan kondisi fisik dan psikis yang cukup lelah. Jelas, hal ini sangat mempengaruhi daya keaktifan mahasiswa selama belajar, menjadi kurang aktif dan interaktif. Boro-boro bisa aktif, sudah sampai di tempat kuliah pun Alhamdulillah.


Ketiga, aspek evaluasi, yakni tingkat keberhasilan belajar mahasiswa yang diukur lewat nilai Indeks Prestasi (IP) atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Boleh jadi, ada mahasiswa yang tidak terpengaruh dengan relokasi kampus. Tetapi, rasanya tidak sedikit pula yang terpengaruh dengan kondisi tersebut. Bayangkan saja, bagaimana KBM mau efektif dan nilai evaluasi bisa tinggi, bila kondisi perkuliahan; kurang representatif, jam kuliah dipotong, datang terlambat, kurang aktif, perpustakaan jauh, atau materi dari sang dosen hanya “seadanya”, mungkin ketika evaluasinya pun sama, “seadanya” saja. Kondisi ini disadari atau tidak, sangat berpengaruh pada nilai IP dan IPK (sebagian) mahasiswa yang cenderung menurun.


Kendati demikian, penulis masih memiliki harapan besar. Terutama setelah menyaksikan “wajah baru” kampus tercinta, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yang hampir tuntas. Semoga saja, tiga persoalan di atas tadi bisa ditangani oleh semua elemen kampus.


Persoalan yang lebih krusial ialah hadirnya wajah baru kampus, belum dibarengi dengan hadirnya “kesadaran” rasa cinta terhadap kampus. Mungkin sense of belonging civitas akademik UIN Bandung masih belum nampak. Perhatikan saja, gedung-gedung yang belum lama direnovasi, sudah terlihat banyak kerusakan; pintunya rusak, toiletnya rusak, tempat pipisnya pun rusak dan airnya banyak yang tidak jalan. Bahkan yang lebih menyayat hati, tatkala melihat tempat wudlu yang kurang terawat dan toilet Masjid Iqomah yang sudah mampet. Padahal, bangunan itu belum lama. Bahkan—katanya—belum diserahterimakan dari pihak kontraktor kepada pihak kampus. Tetapi kondisi bangunannya, seperti sudah udzur lagi. Masya Allah.


Kelihatannya, baik pihak kampus, mahasiswa atau mereka yang merasa warga kampus, seolah kompak untuk tidak memperhatikan kampus, terutama pada aspek kebersihan. Ingat lho, kita ini kampus UIN, yang berlabel Islam. Bukankah Islam mencintai kebersihan? Bukankah kebersihan itu bagian dari iman? Malu rasanya, kalau urusan kecil saja kalah, bagaimana dengan urusan yang lebih besar.


Oleh karena itu, melalui tulisan singkat ini, tersirat ajakan untuk sama-sama menumbuhkan rasa cinta, rasa kesadaran dan rasa memiliki kampus UIN Bandung. Mari kita terapkan jargon “UIN Bandung Milik Kita” dalam aktivitas kampus. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi.



*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Humas semester 8. Ia pernah meraih penghargaan UIN Award Tahun 2013 sebagai mahasiswa kreatif di bidang penulisan.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas