Opini

Maqam Kitabullah, Al-Qur’an Al-Karim

*Oleh Totoh Tohary

 

Al-Qur’an merupakan kitab suci sekaligus kitab kunci umat Islam. Fungsinya begitu lengkap, variatif dan komprehensif. Di antaranya sebagai; al-Hudan (pentunjuk), al-Furqan (pembeda), asy-Syifa (pengobat), Adz-Dzikr (pelajaran), dan rahmat bagi semesta alam (lihat: QS. Al-Baqarah: 2, 180, Al-Furqan: 32, Al-Anfal: 41, Al-Qomar: 17, 22, 32, 40, Ad-Dukhan: 58 dan Al-Isra: 82). Dalam ayat lain dikatakan, Al-Qur’an juga hadir sebagai pemberi kabar gembira, sekaligus pemberi peringatan bagi seluruh umat manusia (Q.S. Maryam: 98). Selain itu, turunnya Al-Qur’an sungguh menjadi mukjizat yang tak tertandingi, baik secara tekstual maupun kontekstualnya. Bahkan, secara tegas Allah swt menantang jin dan manusia, untuk membuat goresan agung layaknya Al-Qur’an, walaupun seayat saja. Maka, yang ada hanyalah satu kemustahilan (Q.S. Al-Baqarah: 23, Al-Isra: 88). Tak ada seorang pun, golongan apapun, manusia ataupun yang bukan manusia, yang sanggup menyaingi keagungan sang Furqan, kitab yang mulia itu[1].


Tatkala Rasulullah saw menjelang wafat, beliau meninggalkan pesan yang begitu agung. Diceritakan dari Ibnu ‘Umar ra, Rasulullah saw berkata, “telah ku tinggalkan dua perkara yang engkau tidak akan tersesat olehnya, Kitaballah dan Sunnahku” (HR. Bukhari). Hadis lain yang senada, dikisahkan ketika Thalhah bertanya kepada Abdullah bin Abu Aufa, “Apakah Nabi saw pernah berwasiat? Ia menjawab, “Tidak”. Aku berkata, “Lalu bagaimana wasiat itu diwajibkan atas orang-orang untuk menunaikannya, sementara beliau tidak berwasiat?” Ia menjawab, “Beliau telah berwasiat dengan Kitabullah” (HR. Bukhari). Kitabullah di sini, bermakna Al-Qur’an.


Pada kesempatan yang berbeda, Nabi Muhammad saw juga  bersabda. Pertama, barangsiapa yang ingin bercakap-cakap dengan Allah, hendaklah membaca Al-Qur’an. Kedua, ibadah yang paling utama bagi umatku adalah membaca Al-Qur’an. Ketiga, orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang mau belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Keempat, bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat selaku pemohon ampun bagi pembacanya. Kelima, sinarilah rumahmu denga shalat dan bacaan Al-Qur’an[2].


Bila diperhatikan secara seksama, informasi-informasi di atas—baik secara eksplisit maupun implisit—memiliki pesan yang begitu jernih, sangat penting, dan teramat mulia. Yakni baca, pelajari, pahami, pegang dan amalkanlah Al-Qur’an. Bagi muslim, tidaklah ada rujukan utama, kecuali Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dua kunci ini, sejatinya menjadi denyut nadi dan nafas kehidupan seorang muslim. Sebab, legitimasinya sudah sebegitu jelas. Al-Qur’an akan menuntun hambanya pada cahaya Illahi, cahaya penuntun keselamatan di dunia hingga di akhirat kelak.


Sekaitan dengan maqam[3] Kitabullah—dalam perspektif tulisan ini—diberi dwi-makna. Pertama, maqam Al-Qur’an secara khusus. Artinya, rangkaian firman-firman Tuhan ini memiliki tempat (maqam) khusus. Seperti yang telah Allah swt informasikan dalam berbagai ayat. Misalnya, dalam Surat Al-Buruj ayat 21-22, dikatakan “Bahkan yang didustakan mereka ialah Al-Qur’an yang mulia, Yang (tersimpan) dalam lauh al-mahfuzh”. Ayat lain yang menguatkan, terdapat dalam Surat Al-Waqi’ah, ayat 77-80. Artinya, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (lauh al-mahfuzh), tidak menyentuhnya, kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam.


Menurut Guru Besar Tafsir Al-Qur’an, Prof. Rosihon Anwar, kedua ayat tadi terkorelasi dengan proses turunya Al-Qur’an. Dalam bukunya Samudera Al-Qur’an, dijelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam tiga tahapan.


Tahap pertama, Al-Qur’an turun sekaligus dari Allah ke Lauh al-Mahfuzh[4], yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah swt.


Tahap kedua, Al-Qur’an di turunkan dari Lauh al-Mahfuzh ke bait al-Izzah (tempat yang berada di langit dunia). Proses kedua ini diisyaratkan Allah dalam Surat Al-Qodar, ayat pertama. Artinya, “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan”. Ayat lain juga berbunyi, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan” (Q.S. Ad-Dukhan: 3).


Tahap ketiga, Al-Qur’an diturunkan dari bait al-Izzah ke dalam hati Nabi Muhammad saw, dengan jalan berangsur-angsur sesuai kebutuhan. Adakalanya satu ayat, dua ayat, dan kadang-kadang satu surat. Mengenai proses turun dalam tahap ketiga, diisyaratkan dalam ayat 193-195 Surat As-Syu’ara. Berbunyi, “…Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”


Lebih lanjut, Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Bandung ini menjelaskan, Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, melalui Malaikat Jibril, tidaklah secara langsung. Melainkan secara bertahap dan berangsur-angsur, sesuai kebutuhan. Sering pula wahyu turun, guna menjawab pertanyaan para sahabat yang dilontarkan kepada Nabi atau membenarkan tindakan Nabi saw. Banyak pula ayat atau surat yang diturunkan tanpa melalui latar belakang pertanyaan atau kejadian tertentu.


Kedua, maqam Al-Qur’an secara umum. Hal ini berkaitan dengan kedudukan Al-Qur’an dalam kehidupan. Dengan kata lain, bagaimana manusia menempatkan Kitabullah ini sebagai Guidance hidupnya. Misalkan, tatkala Allah swt membuka firman-Nya itu dengan lafaz “Bismillahirrahmaanirrahiim”, maka sikap (saling) mengasihi (ar-Rahman) dan menyayangi (ar-Rahim) sejatinya diimplementasikan. Hilangnya rasa kebencian dengan sesama, rasa iri, dengki dan prilaku serupa, adalah buah dari aplikasi ar-Rahman dan ar-Rahim. Begitu pun dengan ayat-ayat berikutnya.


Dengan begitu, bila Al-Qur’an telah menjadi pedoman hidup seseorang, ia akan senantiasa berjalan pada jalur yang syar’i. Seperti yang di-utswah-kan oleh Baginda Nabi Muhammad saw, yang memiliki akhlak mulia, akhlaqul al-karimah. Tulisan ini, tidak bermaksud memberikan penafsiran ayat-ayat agung tersebut. Melainkan, berupaya mengajak seluruh kaum muslimin dan muslimat untuk senantiasa “membaca” Al-Qur’an. Sang Ulama Besar, Qurais Syihab, menulis sebuah buku yang berujudul “Membumikan Al-Qur’an”. Adalah ungkapan lain yang memiliki kesamaan esensi, marilah “baca” kitab agung itu.


Baginda Nabi pernah bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin yang gemar membaca Al-Qur’an, layaknya buah Utrujjah, rasanya lezat dan baunya pun harum. Sedangkan seorang mukmin yang tidak gemar membaca Al-Qur’an, seumpama buah kurma, rasanya manis namun tidak berbau. Adapun orang Fajir yang membaca Al-Qur’an, diibaratkan buah Raihanah, baunya harum tapi rasanya pahit. Dan perumapaan orang Fajir yang tidak membaca Al-Qur’an, ibarat buah Hanzhalah, rasanya pahit dan baunya juga tidak sedap (HR. Bukhari).


Rasulullah saw kembali menegaskan, “Bacalah Al-Qur’a
n! Karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya (yang berpegang pada petunjuk-petunjuknya)untuk menjelaskan segala sesuatu
(HR. Muslim). Selanjutnya, dari ‘Aisyah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an, maka nanti akan berkumpul bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Sedangkan orang yang kesulitan dan berat jika (belajar) membaca Al-Qur’an, maka ia mendapat dua pahala (HR. Bukhari dan Muslim).


Seruan lainnya, sabda Rasulullah saw, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah di mana mereka membaca Al-Qur’an serta mempelajari di antara mereka melainkan mereka dikelilingi oleh para malaikat, diberi ketenangan, dinaungi rahmat, serta disebut-sebut oleh Allah kepada malaikat di sisi-Nya” (HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmizi, Ahmad dan Ibnu Hibban).


Kesimpulannya, tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an yang agung memiliki maqam yang teramat mulia (fi lauh al-mahfuz). Tentu sudah menjadi keniscayaan bagi seorang muslim, tatkala ingin meraih maqam setinggi Al-Qur’an, berarti harus bisa “membacanya”. Mari baca Al-Qur’an, mari bumikan Al-Qur’an. Wallahu A’lam bish-shawab.

 


Referensi :

1 Prof. Dr.H. Rosihon Anwar, M.Ag. 2001. Samudera Al-Qur’an. Bandung: CV. Pustaka Setia.

2 H. Abdul Madjid Sofie. 2007. Belajar Mudah Al-Qur’an. Bandung: el-Fath, hal. xv

3 Maqam berasal dari bahasa Arab. Secara harfiah berarti tempat, posisi atau kedudukan.

4 Lauh al-Mahfuzh adalah sebuah tempat yang di dalamnya terdapat catatan mengenai sesuatu yang eksis dan ditulis sejak zaman azali.

 

 

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Humas semester 8. Ia pernah meraih penghargaan UIN Award Tahun 2013 sebagai mahasiswa kreatif di bidang penulisan. Sebelumnya ia juga meraih Juara I LKTI BKKBN Tahun 2013, dan Juara III Nasional LKTI Polda Jabar di tahun yang sama. Tak lama lagi, ia pun akan mengikuti ajang MTQ cabang M2IQ tingkat provinsi di Kabupaten Kuningan. Mohon do’anya.

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas