Opini

Minim Tempat Sampah di Area Kampus

Oleh Restu Nugraha Sauqi*


Kebersihan pada suatu lingkungan pada dasarnya bukan tanggungjawab seorang petugas kebersihan saja, melain tanggungjawab seluruh unsur masyarakat yang menempati lingkungan itu sendiri. Dan kesadaran setiap individu juga akan muncul apabila dibarengi dengan fasilitas yang mendukung.


Kota Bandung sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang  mulai melakukan dan konsen penangan terhadap  masalah sampah dan kebersihan. Kita masih ingat sekitar tahun 2010 lalu Bandung sempat dijuluki sebagai kota lautan sampah, sehingga akrab dengan sebutan Bandung lautan sampah.


Selain hal tersebut, kita masih ingat dengan  seorang warga Bulgaria, Inna Savova, yang mendadak ngetrend di dunia maya Indonesia. Ia menuliskan pandangannya terhadap sampah yang banyak menumpuk di Indonesia, terutama di Bandung dalam blog pribadinya
venusgotgonorrhea.wordpress.com.


Inna Savova menganalogikan Bandung sebagai the city of pigs yang berarti Kota Babi.  Menurut pengakuannya, sebutan tersebut diambil dari istilah yang pernah digunakan Socrates. Dalam hal ini, ia kembali melihat mayoritas warga Bandung tidak suka dan jijik terhadap babi karena terlalu kotor untuk dimakan. Sementara itu, mereka hidup di lingkungan yang lebih kotor dari babi.


Gencarnya pemerintah Kota Bandung dalam menanggulangi kebersihan, terbukti  dengan diluncurkannya program “Bandung Bebersih” yang  diiringi dengan pemasangan 5.000 tong sampah ramah lingkungan berbahan plastik tapioka (singkong) yang telah disebar di seluruh tempat umum dan  trotoar jalan kota,  pada Desember 2013 lalu. Ternyata program tersebut belum didukung penuh oleh lembaga pendidikan seperti UIN SGD Bandung.


UIN SGD Bandung sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berdomisili di Kota Bandung seharusnya mendukung program Bandung Bersih tersebut. Bagaimana tidak, area kampus yang luas masih belum dibarengi dengan sarana tong sampah yang memadai. Maka tak jarang jika para mahasiswa sulit membuang sampah pada tempatnya.


Semoga setelah maksimalnya pembangunan fasilitas gedung di kampus UIN SGD Bandung dapat pula dibarengi dengan sarana-sarana lain yang bisa menunjang. Serta semua unsur ikut turut serta dalam menjaga dan memelihara fasilitas gedung terutama dalam hal  kebersihan.

 


*Penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi.


Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas