Opini

Orang Miskin Dilarang Kuliah

orang mskin dilarang kuliah

Sumber Foto: http://rivanputra.files.wordpress.com/2010/08/orng-miskin.jpg

Oleh Shaba

Tidak disangkal lagi, matinya spiritualitas pada abad modern yang serba canggih dan dianggap zaman reproduksi mekanis ini, menyebabkan berbagai problematika yang mengikis nilai moralitas dan humanitas manusia di dalam kampus Islam.

Apapun alasan, apapun kebutuhan, apapun keinginan, kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan spiritualitas. Birokrasi di kampus Islam kita sangat kapitalis dan tidak beraturan, dari hal yang kecil sampai hal yang besar semua dijadikan lahan bisnis para birokrasi, di atas kepalan anak-anak miskin yang kuliah dikampus Islam kita.

Kekerdilan dan kegersangan jiwa menjadi ciri akses destruktif nilai kemodernan, tanpa diiringi oleh subtansi dan esensi hidup. Pada dasarnya mahasiswa lama dan calon mahsiswa baru dijadikan investasi berjalan, apalagi dengan akan dinaikannya “Biaya kuliah tunggal dan Uang kuliah tunggal,” di kampus Islam kita. Kebanyakan manusia terjebak pada nilai kuantitas hidup, tanpa peduli pada nilai kualitas hidup yang seharusnya jadi penyeimbang demi tercapainya kebahagian, dan kesejahteraan sejati.

Hukum alam yang telah digariskan Tuhan. “Islam adalah norma kehidupan yang sempurna dapat beradaptasi dengan setiap bangsa dan waktu. Firman allah adalah abadi dan universal,” sebuah agresidari bagian atau komponen yang berinteraksi, antara bagian pikiran yang dipicu dari korban tatanan birokrasi kampus Islam kita yang tidak memberikan contoh nyata.

Dalamsituasi dan kondisi permasalahan di dunia kampus Islam yang demikian, jadi penting bagi setiap mahasiswa yang ada di dalamnya untuk mencari kebenaran, dan ketenangan demi melesatkan kecerdasan emosional dan meraih kebijaksanaan dari para birokrasi. Pada tingkat kesadaran keagamaan di dalam kampus Islam sangat penting terhadap fakta-fakta dan transendensi hidup sosial terhadap penomena yang telah berubah di kampus Islam, tidak lagi realitas berupa sekumpulan data informatif. Dalam hal ini logos terwakili secara shahih dan psikologi kampus.

Mahasiswa adalah jiwa kampus, laksana bongkahan gunung es. Sebagian besar aktivitas hidup yang berupa dorongan, nafsu, ide, dan perasaan yang ditekan dengan sistem kapitalis kampus. Abstraksi terhadap penomena dan fakta yang ada dikampus kita ini, logos mengajarkan kepada kita, bahwa abstraksi, menjadi cara yang penting yang dilakukan setiap orang untuk menyelami hakikat persoalan yang dihadapi.

Jika dilihat dari permasalahan yang ada sekarang, di dunia kampus kita sudah berhasil menanamkan kejahatan birokrasi masal kepada umat Islam, dengan agama dan keilmuan yang ada. Ada dua kutub yang tidak tersatukan dalam kampus Islam dan semuanya mencakup perlawanan antara penguasa dan yang dikuasai. Dalam akar realisasi kekuasaan beraksi dan berlaku sebagai matrixs umum tidak ada dualistas.

Kampus Islam tidak lagi ramah dengan kenyataan yang ada dalam birokrasi kampus, campur tangan terhadap nilai-nilai kemahasiswaan bukan lagi hal yang rahasia. Melainkan sudah jadi laten di tatanan birokrasi kampus Islam terutama di kampus kita ini.

Kesadaran terhadap sosial keislaman tidak lagi terasa dalam kampus ini. Entah dari mana awalnya, entah dari mana pergeseran pemikiran dan kesadaran terhadap dunia pendidikan. Apalagi untuk orang-orang miskin melanjutkan ke jenjang kuliah. Birokrasi yang mengajarkan terbiasa dengan hal-hal yang bersifat kapitalis dalam kampus Islam, kini saatnya semua calon cendikiawan muda dan calon filosof Islam memberikan perlawanan pemikiran terhadap sistem kampus Islam yang tidak semua dipahami oleh seluruh mahasiswa. Realitas dan angka-angka statistik biarkan berbicara sendiri tentang kampus Islam, karena kampus dalam proses menuju akhir dan terbukti bahwa mahasiswa pun dalam proses pemusnahan.

Hal yang menyebabkan adanya kampus Islam, itu karena berbagai tendensi keagamaan yang terkooptasi. Kekuasaan di kampus ini hanya sekedar ritus dan kepercayaan ukhrawi. Padahal realitas Islam bukan merupakan representasi dari sistem Islam, sehingga gebyar ritus dan perayaan justru menjadi topeng yang menyembunyikan wajah dominasi Barat dan kapitalisme nepotis. liberalisme yang masih berkuasa dari penguasa sebelumnya, ternyata didikte oleh kebudayaan Barat, berprilaku seperti penguasa kolonial. Kampus Islam kita hanya melayani kelas elite yang menjadi aset kampus oleh para birokrasinya.

Kini bukan saatnya lagi berwacana dalam problematika kampus Islam kita, melainkan berfikir dan bergerak menciptakan perubahan untuk masa depan dunia Islam. dengan menunjukan karya dan keilmuan yang ada pada diri kita selaku calon cendikiawan muda Islam.

Salam pergerakan dan perubahan!

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas