Opini

Hapuskan Politisasi Organisasi Intra Kampus

 

Oleh Restu Nugraha Sauqi*


Mahasiswa yang dalam status sosial banyak yang menyebutnya sebagai agent of development, agent of social control, agent of cange. Punya tanggung jawab yang begitu besar dalam setiap perubahan di lingkungan kampus dan masyarakat umum. Pada realitanya, tanggung jawab perubahan tersebut telah ternodai dan tercemari oleh kepentingankepentingan golongan serta kepentingan organisasi politik.

 

Jika kita melihat dengan seksama, banyak sekali organisasi ekstra kampus yang merupakan anderbow partai-partai politik. Sesungguhnya apapun partai politiknya tidak selayaknya melakukan intervensi terhadap kampus apalagi melakukan kaderisasi terhadap kampus, karena memang belum waktunya. Melihat fenomena terpecahnya kekuatan mahasiswa, sesungguhnya kita perlu menyadari dan mengembalikan kejayaan mahasiswa serta melakukan reformasi kampus ketika kita hendak melakukan reformasi di negeri ini.


Sungguh tidaklah pantas jika kampus dikatakan sebagai miniatur negara, ketika kampus sudah dianggap sebagai miniatur negara, seolah-olah kampus seperti Negara. Di mana adanya politik, di mana adanya intervensi, kalau di negara kita mengetahui adanya intervensi asing maka di kampus adanya intervensi partai politik. Sama, tetapi tidak selayaknya seperti itu.


Mahasiswa serta organisasi mahasiswa tempat bernaungnya kader-kader bangsa yang telah terkontaminasi politik praktis kampus seolah-olah memisahkan jarak ataupun sesungguhnya sengaja memisahkan jarak antar mahasiswa lainya. Karena ini memicu perpecahan di tubuh mahasiswa sendiri. Sesungguhnya kita sebagai mahasiswa harus mendekatkan jarak antar golongan, tidak peduli apakah dia HMI, KAMMI, PMKRI, GMKI, PMII, tidak peduli dia mahasiswi tidak berjilbab, jilbab pendek, maupun jilbab panjang, mahasiswa harus mempunyai satu payung yang kokoh, untuk menghindari terpaan badai politik.


Kampus layak dikatakan sebagai benih pertumbuhan Negara, baik dan tidaknya pohon yang akan tumbuh, bergantung bagaimana kita memperoleh dan merawat benih tersebut. Karena di kampuslah tempat kaum intelektual diasah dan ditempa untuk mengubah masa depan bangsa yang lebih baik lagi. Begitupun tatkala benih tersebut sudah kita pupuk dengan kualitas pupuk yang jelek, maka hasilnya pun akan jelek.


Bahwa menjadikan kampus, sebagai arena pertarungan kepentingan politik akan mengakibatkan terpecah belahnya kekuatan mahasiswa sebagai sosial kontrol dan teraborsinya gerakan moral mahasiswa. Sungguh sangat memprihatikan mahasiswa yang mestinya menjadi centre of excellence ternyata bermain mata dengan partai politik, sehingga kritisasi, ilmiah, dan wibawa kampus di grogoti, dan kita berharap jangan sampai ini adalah akhir dari independensi kampus.


Sekarang ini prosesi pergantian pucuk pimpinan organisasi intra kampus rentan diwarnai politik praktis. Sebenarnya bukan tidak boleh berpolitik praktis. Mahasiswa, selaku individu, tentu boleh saja karena memang memiliki hak politik. Tetapi tidak boleh dilakukan jika mengatas namakan mahasiswa, terlebih organisasi kemahasiswaan. Sehingga mahasiswa juga belum memiliki kekuasaan untuk menentukan kebijakan yang memihak rakyat.


Ironisnya partai politik terus berupaya menggoda mahasiswa untuk memperkuat barisan partainya. Celakanya, sebagian aktivis mahasiswa ikut terbujuk masuk dalam pusaran politik itu. Tentu dengan argumen agar cita-cita mahasiswa untuk perbaikan bangsa dapat tersalur melalui partai, atau mungkin sekadar jalan meretas karir politik bagi mahasiswa bersangkutan.


Sudah selayaknya mahasiswa berada pada barisan oposisi permanent pemerintah, sebagai control sosial masyarakat, sudah selayaknya mahasiswa membela kepentingan rakyat bukan membela partai politik, apalagi dengan bujukan alih-alih membela kepentingan masyarakan apalagi partai yang didukungnya berkuasa praktis mahasiswa dengan politik praktisnya tidak dapat kritis, sehingga letak wibawa, intekluatis, kritis mahasiswa dipertanyakan.


Geliat masuknya politik praktis di kampus dapat kita lihat mulai dari keberadaan salah satu organisasi ekstra kampus yang sering sejalan dalam mengampanyekan isu yang sama dengan partai afiliasinya. Bahkan jargon, simbol, atribut dan ideologinya nyaris sama. Pada acara seminar, pembicara yang dihadirkan acapkali seideologi, bahkan menjadi pengurus partai tersebut.


Mereka pun antusias merebut kursi kepresidenan di level mahasiswa melalui organisasi intra kampus, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Melalui BEM inilah, mereka berupaya merapatkan diri dengan jajaran kampus, mengampanyekan jargon dan ideologi partainya, dan melakukan kaderisasi terhadap sejumlah mahasiswa. korban utama gerakan ini adalah mahasiswa yang buta politik, yaitu silent majority mahasiswa.


Mereka merasa bahwa BEM dan organisasi intra kampus mahasiswa lainnya tidak berpengaruh. Dengan memanfaatkan fanatisme buta mahasi
wa awam tersebut pada fakultas atau jurusan masing-masing, kader partai yang telah ditanam di organisasi ekstra akan mencalonkan diri sebagai ketua BEM atau organisasi lainnya.


Terkecohlah mahasiswa awam. Maksud hati ingin mendukung calon yang diharapkan bisa memajukan fakultas atau jurusannya, tetapi malah keliru memilih calon yang akan membawa kampusnya dalam pusaran politik praktis yang berbahaya.


Sementara mahasiswa yang masih setia dalam barisan oposisi permanen, para intelektual yang belum terkooptasi syahwat politis, dan siapa pun yang anti politik praktis di kampus, tak berniat mengisi kursi pucuk organisasi mahasiswa intra kampus. Inilah kekalahan kalangan intelektual sejati.

 

Jika pun ada yang mencalonkan diri, mereka tidak memiliki strategi yang matang. Berbeda dengan mahasiswa yang sudah ngebet berpolitik praktis, yang telah menyiapkan strategisnya dengan baik. Termasuk masalah pendanaan, yang telah disediakan partai. Ini bisa dilihat dari mewahnya poster dan baliho kampanye mereka.

 

Konon di sekretariat partai politik tertentu telah dipetakan mana kampus yang telah dikuasai dan mana yang belum. Dengan naluri politik -bukan ilmiah- mereka menyusun strategi kampus mana lagi yang harus dikuasai, baik para mahasiswa maupun birokrasinya. Tanpa disadari, mereka telah membantu keruntuhan otoritas keilmuan di jantung ilmu itu sendiri, yaitu kampus.

 

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi

 


 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas