Kampusiana

Akar Berkembangnya Berita Hoax

Ilustrasi : Nolis Solihah

Ilustrasi : Nolis Solihah

SUAKAONLINE.COM – Di awal tahun 2017 masyarakat kembali digegerkan dengan berita palsu atau yang kita kenal berita hoax. Mulai dari jumlah pekerja cina di Indonesia, sampai dengan beredarnya informasi tentang permasalahan penistaan agama. Informasi disampaikan secara personal atau berantai secara massal melaui media sosial, hingga melalui media massa, bahkan penyebaran masif oleh perusahaan pengiklan terbesar di dunia, Google.

Menurut pendiri search engine Geevv, Azka, teknologi menjadi salah satu faktor bagi tumbuhnya berita hoax. Selain itu, saat ini orang sudah mulai tidak percaya media mainstream, mereka mencari alternatif untuk mendapatkan informasi melalui media sosial, bahkan blog. “Karena semua orang bebas memproduksi dan mendapatkan informasi,” ujarnya saat dihubungi lewat email. (4/2/2017).

Mesin pencari Google menerapkan algoritma khusus, tujuan sebenarnya untuk personalisasi hasil pencarian yang dilakukan. Akan tetapi, personalisasi konten di internet sekarang ini mengarahkan pada satu efek ‘Filter bubble’. Dimana, filter-filter konten yang dilakukan untuk personalisasi tadi, menjebak ke dalam ruang lingkup tertentu. Yang akhirnya, bisa membuat terjebak dalam pemikiran atau ideologi tertentu, agar  tidak terpapar informasi-informasi kontra dari informasi yang diberikan mesin pencari Google.

Azka mengatakan, Informasi yang difilter ini biasanya menyesuaikan dengan apa yang menjadi preferensi dari pengguna internet tersebut, apa yang dia suka, dan apa yang menjadi kebiasaanya. Mesin pencari seperti Google melakukan track riwayat pencarian, pembelian di internet, klik iklan, data demografi, lokasi, dan 200 lebih data lain yang ditinggalkan di internet. Dari data ini, mesin pencari, menebak dan mengkategorisasi profil, sesuai tipe yang sudah mereka tetapkan, lalu memberikan hasil pencarian yang cocok untuk tipe yang tadi ditebak oleh mesin pencari.

Baca juga:  Sistem Kontrol KKN Gunakan Line Here

“Kita sering kali tidak menyadari adanya filtering ini di internet, ini bahaya. Bahanya ketika kita sekali dua kali terpapar dengan informasi hoax, itu akan terekam di data google, dan akan menjadi dasar untuk menentukan hasil pencarian kita selanjutnya,” ujar Azka.

Agung Sedayu, wartawan Tempo mengatakan bagi produsen media, baik media utama, komunitas atau blogger harus lebih meningkatkan kualitas warta yang diproduksi. Pewarta harus memastikan setiap berita yang diproduksi akurat, terverifikasi, terkonfirmasi, lengkap datanya, sumbernya terpercaya dan bisa dipertanggungjawabkan.

Bagi Pengguna media sosial pun jangan mudah menyebar informasi yang belum terverifikasi dan terkonfirmasi. “Tahan diri, dan tahan jempol,” ujarnya. Selanjutnya, dia menghimbau untuk tidak asal mengakses informasi dari situs yang belum jelas kredibilitasnya. Hindari situs-situs yang suka menyebar berita berbau propaganda, menebar kebencian, dan SARA. Karena menurutnya, situs seperti ini adalah situs yang dimanfaatkan untuk menebar berita palsu.

Pers mahasiswa bisa menjadi salah satu alternatif di tengah tergerusnya kepercayaan media arus utama dan dilema menjamurnya berita palsu di media sosial. Menjadi media alternatif yang tidak hanya terjaga independensinya namun sekaligus mampu menyajikan berita yang lebih cerdas, kritis, berbobot, akurat, dan mendalam.

“Verifikasi itu tidak hanya berlaku untuk pembuat berita, tapi juga konsumen berita. Setelah menerima informasi tertentu kita tidak boleh langsung berhenti pada berita itu atau justru langsung main sebar. Kita harus melakukan verifikasi, baik dengan cara mencari sumber-sumber lain yang terpercaya, cross check sumber berita, dan verifikasi langsung terhadap objek pemberitaan,” Pungkas Azka.

 

Reporter : Ismail Abdurrahman Azizi

Redaktur : Dadan M. Ridwan

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas