Opini

Birokrasi yang Tidak Jelas

Oleh Shaba*


Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Secara teori, gaya kepemimpinan yang berlaku di UIN SGD Bandung adalah gaya kepemimpinan otoriter


Kepintaran dan kecerdasan dalam berorganisasi seakan tidak berarti, kini semua dijadikan sebagai penindasan dan penipuan yang terorganisir dan struktural. Semua dikemas dalam kegiatan kemahasiswaan untuk menyembunyikan kebobrokan kampus. Hampir semua orang terpenting di kampus berbicara tentang kebenaran, proforsional, profesional, dan keterbukaan sampai kesinambungan. Birokrasi menuntut mahasiswa menjalankan semua yang telah disepakati, dengan adanya “Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Lamjut” yang dilaksakan di Garut dan dihadiri oleh perwakilan UKM, UKK, SENAT Fakultas, dan juga HIMA-J, mereka memberikan semua materi yang tidak jelas arah dan tujuannya.


Permasalahan demi permaslahan di kampus bukan lagi rahasia melainkan sudah menjadi konsumsi semua civitas akademika di UIN SGD Bandung. Dari mulai transparansi keuangan sampai kebijakan dalam kampus. Semua itu kebanyakan mengambil keputusan sebelah pihak, terutama bagian kemahasiswaan atas penggunaan Student Center (SC) tanpa mempertimbangkan dan mengajak semua penghuni SC untuk bermusyawarah secara demokrasi. Hampir semua berbicara, “mari kita ciptakan kampus yang bernuansa Islami,” karena dengan alasan kita berada di bawah naungan Kementrian Agama Islam. Tapi nyatanya para Birokrasi tidak memberikan contoh yang jelas. Teori tinggalah teori, semua hanya mengajarkan kita menjadi penjahat birokrasi, karena di kampus kita kebenarannya ialah “Kesalahan Yang Disepakati Bersama.”


Problematika penggunaan SC yang dibahas di pertemuan pertama yang bertempat Vila Pangjugjugan Sumedang, meninggalkan permasalahan-permasalahan yang belum selesai. Dengan adanya pelatihan kemarin, semua perwakilan UKM mesti menyepakati apa yang telah mereka buat dengan sedemikian rupa, tanpa adanya konfirmasi yang jelas dan sosialisasi kepada semua penghuni SC, sehingga memancing kemarahan dan protes yang keras terhadap Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan, M. Ali Ramdani dan birokrasi kemhasiswaan UIN SGD Bandung. Karena mereka semua telah mengesahkan Tata Tertib penggunaan gedung Student Center tanpa adanya musyawarah secara mupakat bersama ketua dan para anggota UKM, yang jelas-jelas permasalahan di Sumedang beluk beres.


Semakin tidak jelas dan tidak dimengerti dengan birokrasi kampus UIN SGD Bandung, sehingga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak masing-masing UKM yang datang pada pertemuan ke dua itu. Malah, semakin memperumit dan mengkerdilkan kreativitas para anggota UKM. Hiruk pikuk birokrasi kampus UIN bandung semakin menggila dan tidak jelas transparansinya kepada semua mahasiswa, apalagi masalah “Dana” atau pembiayaan kegiatan kemahasiswaan. Mestinya para birokrasi terbuka dan jujur dengan semua problematika yang menyangkut mahasiswanya bukan menutupi dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Karena mereka tidak menganggap kita mahasiswa maka pembodohanlah dan pengkerdilan kreativitaslah yang terjadi tehadapa kita semua, yang nyatanya kalah dengan sistem IAIN.


Salam pergerakan dan mari kita aksi turun ke jalan, “Demo” dengan besar-besaran terhadap para birokrasi yang tidak jelas.


Mari bertukar sapa dalam keindahan.

*0303

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas