Lintas Kampus

Rindu Menanti, Gerakan Radikal Santai Menebar Literasi

Warung Mang Salim adalah salah satu Warung Pinter (Wanter) yang terletak di Jalan Cijawura Girang V Buana Cigi Regency, Bandung, Jumat  (17/2/2017). Mulai dari buku, membuat spanduk, membuat rak buku dari kain merupakan biaya uang saku dan donatur. (Rendy M. Muthaqin/ SUAKA)

SUAKAONLINE.COM – Rindu menanti adalah gerakan radikal santai dalam menebar virus gemar membaca di ruang publik, salah satunya menyuguhkan bacaan bagi para pengunjung halte. Komunitas ini dibuat oleh Rosihan Fahmi sejak 11 November 2015 lalu, dan diperuntukan bagi masyarakat angkutan umum di halte-halte terpilih. Melalui gerakan berbagi dan melayani ini diharapkan mampu melahirkan kesadaran, bahwa menanti tidak selalu membosankan.

Menurut Pendiri Rindu Menanti, Rosihan Fahmi, alasannya memilih halte karena ia sering nongkrong disana. Kemudian kondisi ruang publik di halte, seperti vandalism, dan kotor menjadi potret buram sebuah halte. Halte adalah tempat pemberhentian, tapi jarang orang yang mau berhenti disana. Dari sana, Fahmi menawarkan bahan bacaan. Diharapkan Rindu menanti ini bisa memberi fasilitas bahan bacaan untuk masyarakat disana.

Stereotipe perpustakaan identik dengan akademisi, ketika kamu menawarkan bacaan di ruang publik seperti halte, dan angkot, membuat buruh pabrik, tukang baso, sampai preman sekalipun mau baca buku. Saya tidak percaya orang Indonesia tidak suka baca, karena fasilitasnya terbatas,” pungkas Fahmi (17/2/2016).

Alasannya mendirikan Komunitas Rindu Menanti ini karena kegelisahannya terhadap masyarakat Indonesia tingkat membacanya masih rendah. Dengan melakukan proses seperti ini, Fahmi mempertanyakan ulang bahwa tingkat baca masyarakat Indonesia masih kurang. Karena jika disediakan buku, para pengunjung halte mau membaca buku tersebut. Sama seperti halte, di angkot para penumpang memilih membaca buku dari pada memainkan handphone.

“Bukan masyarakat Indonesia yang males baca buku, jangan-jangan tidak dikondisikan? Selama dikondisikan buku bertebaran dimana-mana, buku bisa menjadi pilihan. Pengkondisian itu yang harus kita lakukan,” jelas bapak tiga anak tersebut.

Baca juga:  Kebon Jeruk Memanggil

Program yang komunitas ini lakukan dengan membuat Angkot Pinter (Anter) bekerjasama dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung, pada bulan Januari membuat Warung Pinter (Wanter) dan berkaitan dengan Budi Rustandi yaitu membuat Perpustakaan Keliling (Pusling) ‘Tjap Toekang Pikoel’ yang menjadi keluarga Rindu Menanti.

“Dulu saya mengajar teologi modern di jurusan Aqidah Filsafat untuk menggarap program khidmad atau pengabdian. Ditawarkan banyak hal, saya mempresentasikan Rindu Menantinya, dan sekian banyak orang, Budi yang mengadopsi apa yang saya lakukan. Kalau saya melakukannya di halte, Budi melakukan dengan tanggungan agar-agar nya,” pungkasnya.

Bukan hanya Budi, para pemilik warung yang ditawari Fahmi pun banyak yang ingin menebarkan virus membaca kepada masyarakat, asalkan bukunya tersedia, memasang spanduk dan membuat rak buku dari kain dikemas semenarik mungkin. Buku yang komunitas ini dapatkan, berasal dari donasi orang lain. Selain menebarkan bahan bacaan, mereka juga menuliskan apa yang sudah dilakukan, karena literasi bagian dari membaca dan menulis.

 

Reporter : Rendy M. Muthaqin

Redaktur : Hasna Salma

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas