Lintas Kampus

Iip Dzulkifli : Pesantren Untuk Perdamaian

Foto bersama peserta seminar dengan tamu undangan dan pemateri dalam rangkaian kegiatan seminar Local Day Of Human Rights PPMU Al-Islami, di Mahad Universal PPMU Al-Islami Cipadung, Bandung, Minggu (26/2/2017). (Elsa Yulandri/ Magang).

SUAKAONLINE.COM-  Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU) Al-Islami  bekerjasama dengan Center for The Study for Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar seminar Local Day of Human Rights III, di Mahad Universal PPMU Al-Islami Cipadung, Minggu (26/2/2017). Seminar ini dihadiri oleh beberapa delegasi dari 34 pesantren yang ada di kota Bandung.

“Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah kami ingin memberikan pemahaman kepada santri dan pondok pesantren mengenai stigma negatif tentang santri dan pesantren yang tidak benar, kita harus bisa membuat bagaimana stigma-stigma itu mulai dikikis dan menunjukan bahwa islam tidak anti HAM justru islam itu rahmatan lil alamin dan sangat menjujung tinggi toleransi,” ujar Ketua Panitia Taufik Ridwan, Minggu (26/2/2017).

Taufik menyebutkan bahwa acara local day of human rights saat ini, merupakan yang ketiga kali, setelah sebelumnya Local day of human rights pertama dan kedua diadakan pada Agustus dan  November 2016. Ia juga menambahkan agar kerja sama ini bisa berlanjut dan pesantren for peace bisa menjadi ajang silaturrahmi untuk sesama pesantren.

“Kegiatan seminar Local Day Of Human Rights Pesantren for Peace ini dilatarbelakangi oleh kejadian-kejadian pada tahun 2004 dan 2005, yaitu salah satunya penyerangan gereja Kristen Pasundan oleh umat islam,” tambahnya. Oleh karena itu CSRC mencoba untuk membuat suatu program, hingga kegiatan ini dibangun dan dirancang oleh pesantren itu sendiri dan pihak CSRC hanya memfasilitasi.

Dengan mengusung tema ‘Penguatan jejaring kerja santri dan pondok pesantren dalam implementasi nilai-nilai HAM, toleransi, resolusi konflik secara damai dan bermartabat’, seminar ini menghadirkan narasumber utama, Iip Dzulkifli Yahya dengan bahasan Pesantren Untuk Perdamaian. Dalam pemaparannya beliau mengatakan bahwa Islam diterima oleh mayoritas masyarakat Sunda melalui pendekatan budaya, dan melalui jalur pesantren (pendidikan). Pesantren di Tatar Sunda harus selalu berkoordinasi dan berbagi peran agar tujuan utama mendidik santri tidak terganggu oleh hal-hal di luarnya.

Baca juga:  Pembangunan Rumah Deret Harus Dihentikan

Selain itu hadir pula beberapa pemateri yang merupakan delegasi pertukaran santri dari berbagai pesantren di Pulau Jawa, diantaranya Rodia Miftah dan Rizqi Fadlillah yang merupakan delegasi dari Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya. Mereka membahas mengenai pemahaman pesantren tentang toleransi, hak-hak minoritas, dalam pemaparannya mereka menjelaskan bahwa kualitas SDM yang harus ditingkatkan. Pada prinsipnya pesantren berkonsentrasi pada dimensi tasawuf sehingga nilai-nilai akhlaqul karimah penting untuk ditingkatkan di setiap elemen pondok pesantren agar pembangunan perdamaian dapat terwujud.

Kemudian dua delegasi lagi ditempatkan di Pesantren Kyai Gading Demak yaitu Citra Rahmawati dan Muhammad Zainal Mustafa. Dalam pemaparan presentasinya mereka menyebutkan bahwa tidak mudah untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi dan perdamaian melalui pesantren. banyak tantangan yang mereka hadapi seperti keterbatasan pengetahuan masyarakat, menganggap aliran suatu pesantren salah, dan lingkungan disekitar pesantren yang homogen.

Ketua Dewan Pengasuh PPMU, Tatang Astaruddin menambahkan bahwa dengan kegiatan seminar ini ia berharap , semoga pesantren bisa menjadi role model. Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan lembaga multifungsi, dapat membangun toleransi dan perdamaian. Diharapkan sesama pesantren dan masyarakat pesantren dengan stakeholdernya itu punya cara komunikasi yang damai.

 

Reporter : Elsa Yulandri/ Magang

Redaktur : Dadan M. Ridwan

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas