Kampusiana

DKM UIN Bandung Tak Masalahkan Shalat Berhadiah

 

[Suakaonline]- Ketua Dewan Keluarga Masjid (DKM) Iqomah UIN SGD Bandung, Bachrun Rifa’i (57) memandang wajar maraknya shalat berhadiah di berbagai daerah. Menurutnya, hal tersebut baik dilakukan untuk memotivasi jemaah dalam memakmurkan masjid.

 

“Untuk mencapai kenikmatan dalam beribadah bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk imbalan bahkan paksaan, cara shalat berhadiah itu bagus,” papar Bachrun saat dijumpai di ruangannya pada Jumat (14/02).

 

Fenomena shalat berhadiah ini, kata Bachrun, bisa menjadi awal yang baik untuk terciptanya kebiasaan dalam beribadah. Selama yang menyelenggarakan shalat berhadiah itu benar-benar berharap ridha Allah.

 

“Sah-sah saja jika ada shalat berhadiah asal yang penyelenggara tidak menggunakan uang haram, soal keikhlasan jemaah itu urusan mereka karena ikhlas itu  tidak bisa diukur,” jelas bapak tiga anak tersebut.

 

Senada dengan yang diucapkan Bachrun, Yogi Prayitno (21) juga menanggapi positif soal shalat berhadiah tersebut. “Saya setuju, karena masjid harus dimakmurkan dengan cara apapun seperti embel-embel mobil atau umroh gratis yang dilakukan di Yogyakarta maupun Bengkulu,kata mahasiswa asal Bekasi itu.

 

Yogi yang juga ketua Himpunan Mahasiswa Sains Kimia (Himasaiki) melihat hal ini sebagai teguran untuk para ulama.

 

“Secara tidak langsung shalat berhadiah ini meminta para ulama untuk meningkatkan kualitas dakwahnya supaya lebih banyak jemaah yang memakmurkan masjid,” ujarnya.

 

Ihwal metode shalat berhadiah yang mungkin diterapkan di masjid Iqomah, Bachrun begitu antusias. Menurutnya, jika ia punya uang banyak maka akan melakukan hal serupa.

 

“Sayangnya cara ini tidak etis jika menggunakan dana masjid, saudara kita di Bengkulu misalnya, mereka melakukan shalat berhadiah karena uang pribadi wali kota,” katanya.

 

Sempat ada beberapa dosen melakukan cara yang hampir sama. Mahasiswa akan diberi nilai bagus ketika mereka rutin melakukan shalat di masjid. Program tersebut berlangsung selama hampir satu semester. Hal itu bertujuan menciptakan kebiasaan baik bagi mahasiswa dengan shalat berjemaah.

 

“Sudah seharusnya mahasiswa UIN SGD Bandung bersikap dewasa, jika sudah biasa maka kenikmatan dalam beribadah akan terasa,” tandas Bachrun yang juga merupakan dosen Ilmu Fiqih di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.

 


Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas