Lintas Kampus

Aksi Tuntut Hak Kesetaraan Perempuan

Sejumlah massa aksi sedang melakukan orasi dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD), di depan Gedung Sate Jalan Diponogoro, Bandung, Rabu (8/3/2017). Aliansi yang tergabung dalam Komite Perjuangan Pembebasan Perempuan menggelar aksi dalam rangka menuntut hak-hak kesetaraan perempuan dengan tema Perempuan Bersatu, Berjuang untuk Demokrasi, dan Kesetaraan. (Edi Setio/ Magang)

 

SUAKAONLINE.COM – Memperingati International Women’s Day (WID), Komite Perjuangan Pembebasan Perempuan menggelar aksi dalam rangka menuntut hak-hak kesetaraan perempuan, di depan Gedung Sate Jalan Diponogoro, Bandung, Rabu (8/3/2017). Aksi tersebut mengusung tema  Perempuan Bersatu, Berjuang untuk Demokrasi, dan Kesetaraan.

Koordinator Lapangan, Gesia Nurlita, mengatakan bahwa aksi ini bermaksud untuk menuntut hak-hak kesetaraan kaum perempuan. Dirinya memandang bahwa perempuan memiliki beberapa hak yang sama dengan laki-laki baik dalam hak berpolitik, hak bersosial, hak berbudaya, maupun hak dalam ekonomi. “Perempuan juga bisa mempunyai kesetaraan seperti laki-laki, kita (perempuan) juga bisa,” tuturnya.

Menurut Gesia, perempuan itu sudah lama sekali dibungkam sejak Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI). Dengan adanya aksi tersebut, sudah saatnya perempuan merebut kembali hak-hak perempuan yang sudah direnggut. Saat ini, meski perempuan telah dilibatkan dalam hal politik, namun masih dalam jumlah yang minim.

Hak-hak perempuan yang direnggut pada zaman penjajahan menurut Gesia adalah perbudakan, namun setelah adanya kapitalisme perempuan tidak menjadi budak, mereka dapat bekerja dan kebanyakan di pabrik. “Perempuan dipabrik itu masih mengalami penindasan, diskriminasi, dan pelecehan seksual,” ungkapnya.

Aksi yang diikuti sekitar 50 massa tersebut menyuarakan beberapa tuntutan, yaitu agar pemerintah dapat merevisi, memperketat, bahkan mengubah undang-undang terhadap kekerasan yang dialami oleh perempuan. Hal tersebut didukung dengan polemik mengenai maraknya tindakan diskriminasi terhadap perempuan juga beberapa kasus pelecehan terhadap perempuan. “Harapan saya itu adalah perempuan diperlakukan bukan hanya karena faktor biologisnya saja, tapi diperlakukan sebagai kriteria tindakan politik. Sehingga laki-laki tidak berani melakukan hal-hal itu pada perempuan,” ungkapnya.

Baca juga:  Segudang PR untuk Wisuda 68

Untuk menanggapi hal tersebut, dirinya menginginkan agar perempuan Indonesia dapat gabung dan aktif melakukan tindakan secara kolektif, dengan bergabung dalam organisasi perempuan yang militan dan revolusioner, yang membahas berbagai macam isu perempuan di Indonesia.

Salah satu peserta aksi, Nede mengatakan bahwa aksi tersebut memang harus dilakukan mengingat daruratnya berbagai permasalahan perempuan di Indonesia. Senada dengan Gesia, menurutnya perempuan di Indonesia saat ini berada dalam posisi ketertindasan. Terlebih dengan maraknya kejahatan seksual di Indonesia. “Kita mau pakai baju apa aja kan itu terserah kita. Mereka (laki-laki) ngga boleh melecehkan seperti itu. Terus jika kita melawan itu, mereka (lelaki) malah ketawa-ketawa seakan-akan kita itu objek hiburan,” ungkapnya. Dirinya pun mengaharapkan agar perempuan mendapatkan hak yang setara anatara perempuan dengan laki-laki.

Reporter : Edi Setio/ Magang

Redaktur : Dadan M. Ridwan

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas