Lintas Kampus

Aksi Solidaritas Tuntut Mimbar Kebebasan Demokrasi

Sejumlah masa yang tergabung dalam Komite Rakyat Peduli Literasi sudah berkumpul di halaman Gedung Sate Jalan Dipenogoro, Kota Bandung. Mereka membawa sejumlah spanduk yang berisikan penolakan terhadap pemberangusan buku dan kebebasan akademik. (Yudistira/ Magang).

SUAKAONLINE.COM – Sejumlah masa yang tergabung dalam Komite Rakyat Peduli Literasi menggelar aksi solidaritas di depan Halaman Kantor Pusat Graha Merah Putih Telkom, Jalan Japati No 1 Bandung, Selasa (14/3/2017). Aksi ini merupakan bentuk solidaritas terhadap tiga mahasiswa Telkom University yang di skorsing.

Puluhan masa dari lintas komunitas turun ke jalanan untuk melakukan aksi unjuk rasa sebagai bentuk solidaritas dan dukungan terhadap tiga mahasiswa Telkom University yang diskorsing. Ketiga Mahasiswa itu Edo, Fariz, dan Lintang yang diskorsing sejak 16 Januari 2017  dengan tuduhan telah membuka lapak buku tanpa Izin, Indikasi menyebarkan Paham Komunis, dan mencemarkan nama baik rekotrat.

Sejak setengah sebelas siang, sejumlah masa yang tergabung dalam Komite Rakyat Peduli Literasi sudah berkumpul di halaman Gedung Sate Jalan Dipenogoro, Kota Bandung. Mereka membawa sejumlah spanduk yang berisikan penolakan terhadap pemberangusan buku dan kebebasan akademik. Sambil membentangkan spanduk, peserta aksi  bergantian berorasi menyuarakan aspirasinya dan meminta putusan skorsing itu dicabut, dan meminta kampus membuka mimbar kebebasan demokrasi seluas luasnya.

Tak berhenti disitu, masa aksi bergerak ke Yayasan Kesehatan Pegawai Telkom di Jalan Cisanggung no.2 Bandung. Disana mereka berorasi menyuarakan tunututnnya, terdapat empat tuntutan yang disuarakan yaitu, mencabut skorsing terhadap tiga mahasiswa Telkom University, menurunkan Rektor, Mochamad Ashari dan Wakil Rektor IV, Yahya Arwiyah, membuka ruang demokrasi dan kebebasan literasi seluas- luasnya, serta ucapan maaf dari pihak rektorat kepada seluruh civitas akademika, pegiat literasi, dan rakyat Indonesia.

Baca juga:  Tendy : Media Sudah Tidak Eksklusif Lagi

Sementara itu perwakilan dari Yayasan Pendidikan Telkom (Building The Civilatioan), miftadi, mendatangi masa aksi dan mengusulkan untuk mencari solulsi terbaik. “Saya mengajak perwakilan dari 3 mahasiswa yang di skorsing untuk berunding, kami akan mencoba untuk memfasilitasi,“ ujarnya.

Akan tetapi usulan tersebut di tolak peserta aksi. Mereka tetap menginginkan pihak Yayasan Pendidikan Telkom mengabulkan tuntutannya dan menolak berunding, dengan dalih bahwa ketiga mahasiwa itu sudah di panggil terlebih dahulu. “Skorsing sudah Jatuh, massa mau berunding (Mediasi),“ ujar Koridantor Lapangan, Barra saat aksi berlangsung.

Menurutnya, permasalahan pemberangusan buku itu bukan masalah lokal, akan tetapi sudah menjadi permasalahan Nasional. Banyak penyitaan buku – buku yang dilakukan oleh pemerintah dan berbagai kelompok.  “Konsolidasi ini perlu sebagai bentuk dukungan terhadap 3 korban mahasiwa yang di skorsing dan sebagai bentuk kebebasan Demokrasi,” tambahnya.

Salah satu peserta aksi yang berasal dari Aliansi Rakyat Papua, William Robert menyayangkan adanya pemberangusan buku dan skorsing terhadap tiga mahasiswa tersebut. Dirinya menilai bahwa kampus seharusnya memberikan kebebasan terhadap gerakan gerakan literasi yang akan menunjang ilmu pengetahuan. “Kami disini bersolidaritas untuk menuntut keadilan dan mengutuk keras pemberangusan buku yang dilakukan rektorat, saya berharap akar rektor mencabut skorsing dan membuka luas kebebasan berdemokrasi, “ ujarnya.

 

Reporter : Yudistira/ Magang

Redaktur : Hasna Salma

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas