Lintas Kampus

Hawe Setiawan : Jaga dan Lestarikan Budaya Sunda

Hawe Setiawan (kiri) dan Tobing Jr (kanan) sedang membuka acara bedah buku ‘Tanah dan Air Sunda’ yang berlangsung di Museum Konferensi Asia Afrika, Jalan Asia Afrika no 65 Kota Bandung, Jumat (17/3/2017). Dalam acara ini Hawe Setiawan menceritakan sunda mulai dari bahasa sampai budaya, dan ia mengatakan bahwa sunda adalah peninggalan leluhur yang harus kita jaga. ( Muhamad Emiriza/ Magang).

SUAKAONLINE.COM – Sore itu Buku kumpulan essay Tanah dan Air Sunda karya Hawe Setiawan diulas dalam acara bedah buku, yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Museum KAA, dalam acara Pekan Literasi Asia Afrika di Jalan Asia Afrika no 65 Kota Bandung, Jumat (17/3/2017). Dalam kesempatan tersebut, ia menceritakan tentang sunda, mulai dari bahasa, kebudayaan, masyarakat dan sastra sunda.

Hawe sendiri menjelaskan bahwa, sunda adalah suatu peninggalan leluhur yang harus dijaga kelestariannya. Baik itu dalam segi bahasa, kebudayaan sampai sastranya, harus kita jaga dan turunkan pada generasi generasi berikutnya.

Menurutnya sunda telah melekat di kehidupannya, bahkan ketika ia berbicara dengan ibunya menggunakan bahasa indonesia, hal tersebut dirasa asing dan aneh. “Ibu saya tidak pernah menjawab ketika saya berbicara menggunakan bahasa indonesia, padahal ia mengerti tapi ia tetap saja diam dan merautkan wajahnya,” ujar Dosen Fakultas Sastra, Universitas Pasundan tersebut.

Hawe lahir di Subang tahun 1968, ia sama seperti orang sunda lain pada umumnya, namun kecintaannya pada menulis mengantarkan ia bekerja di Majalah Tiras sebagai jurnalis, editor di DeTAK dan Dunia Pustaka Jaya tahun 1995 – 2000. Hingga akhirnya ia sadar akan dirinya yang berasal dari sunda, dan mulai berpindah menjadi editor majalah sunda, Cupumanik tahun 2002-2009, editor Sundalana, jurnal dari Pusat Studi Sunda, bahkan sejak 2014 mulai merangkap menjadi Wakil Pimpinan di Pusat Studi Sunda.

Baca juga:  Pikiran Rakyat Menolak Gugatan yang Diajukan Zaky Yamani

Meski saat ini zaman semakin berkembang dan pembaca jarang melirik buku yang mengangkat daerah sunda, Hawe tetap optimis bukunya akan laku dan bermanfaat bagi para pembaca. “Laku berapa eksemplar pun saya syukuri, tapi yang terpenting adalah buku ini dapat bermanfaat bagi para pembaca apalagi bagi orang sunda yang kehilangan identitas nya,”ujarnya.

Salah satu pengunjung diskusi, Yogi, Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sangat mengapresiasi Buku Tanah dan Air Sunda. Menurutnya buku ini dapat membantu, karena ia kuliah di Jurusan Sastra Sunda dan dapat melihat budaya sunda dari berbagai sudut pandang. “Bukunya sangat membantu, dan mungkin jadi referensi untuk skripsi saya nanti,” ujarnya.

 

Reporter : Muhamad Emiriza/ Magang

Redaktur : Hasna Salma

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas