Lintas Kampus

An-Nur Perpustakaan Pertama di Pameungpeuk

Anak-anak Sekolah Dasar (SD) hingga remaja Sekolah Menengah Atas (SMA) antusias berkunjung keperpustakaan An-Nur yang terletak di Kampung Lengonsari, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Sabtu  (4/3/2017). (Yosep Saepul Ramdan/ Magang).

SUAKAONLINE.COM – Saat gerimis masih mengguyur kampung Langonsari, terlihat anak-anak Sekolah Dasar (SD) berbondong menaiki anak tangga menuju lantai dua masjid An-Nur, tujuannya tak lain untuk ke perpustakaan. Dua perempuan seusia Sekolah Menengah Pertama (SMP), sudah terlihat siap membaca. Diruangan berukuran 5 X 5 meter itu, berjejer buku-buku mulai dari buku cerita hingga buku serius keperluan mahasiswa.

Terletak di Kampung Langonsari, Desa Langonsari, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten  Bandung, perputakaan An-Nur didirikan atas keresahan seorang Qoyyim masjid (DKM), Kosim Kusnadi. Melihat kondisi anak-anak di lingkunganya yang tidak memiliki fasilitas seperti perpustakaan, yang bisa mewadahi para penggemar baca. Dengan tekad yang kuat, Kosim berhasil mengumpulkan dana dari hasil swadaya masyarakat dan pengajuan proposal ke berbagai perusahaan.

“Secara wilayah, melihat Pameungpeuk yang belum memiliki perpustakaan. Karena belum mendengar ada perpustakaan pada awalnya. Ada rasa kekhawatiran juga, dalam arti kesibukan anak-anak yang terlihat kegiatannya hanya main saja,” ujarnya, Sabtu (4/3/2017).

Kini perpustakaan An-Nur dikelola oleh komunitas membaca yang menamai dirinya dengan ‘Pameungpeuk Reading Club’. Hingga akhirnya mulai melebarkan sayap dengan mengadakan diskusi dan memperkenalkan perpustakaan ini kepada masyarakat, dengan memasang pamflet dan dipublikasikan melalui media sosial.

Menurut salah satu pengelola perpustakaan, Milda Zulfa menjelaskan bahwa, minat masyarakat untuk mengunjungi perpustakaan cukup baik terutama dari kalangan anak-anak SD, hingga usia remaja yang menginjak SMA. “Antusias untuk anak-anak allhamdulillah baik, tapi untuk lansia  belum ada,” jelasnya, Sabtu (4/3/2017).

Sebagai salah seorang pengelola juga, Septian Nugroho menambahkan bahwa, perpustakaan yang baru didirikan dua minggu kebelakang ini secara fasilitas memang masih jauh dari memadai, dikarenakan buku yang tersedia pun masih sangat minim. Namun disamping itu, para pengelola sedang berusaha mengajukan proposal bantuan untuk lebih melengkapi fasilitas, baik buku maupun fasilitas lainnya.

Baca juga:  Menanggulangi Hoax Dengan Jurnalisme Data

Mengamini apa yang diutarakan septian, salah seorang pengunjung, Itsna Nuraini Qolbi mengatakan bahwa keberadaan perpustakaan ini sangat membantu, namun buku yang tersedia masih kurang. “Kan masih banyak anak-anak, biasanya anak-anak nggak mungkin baca buku kaya gini (serius ilmiah) masih belum ngerti, perbanyak buku anak-anak dan sains juga,” pungkas remaja yang duduk di kelas tiga Aliyah ini, Sabtu (4/3/2017).

 

Reporter : Yosep Saepul Ramdan/ Magang

Redaktur : Hasna Salma

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas