Kampusiana

Tingkatkan Literasi, Rumah Diskusi Gelar Perpustakaan Jalanan

Pengunjung sedang membaca salah satu buku koleksi perpustakaan jalanan, Rabu (5/4/2017). Sekitar 80 buku bacaan disediakan oleh kumpulan mahasiswa yang tergabung dalam Rumah Diskusi. (Edi Setio/ Magang)

 

SUAKAONLINE.COM – Kumpulan mahasiswa yang tergabung dalam Rumah Diskusi menggelar perpustakaan jalanan. Perpustakaan ini buka sejak pukul 13.30 hingga 17.30 WIB, bertempat di trotoar jalan depan gedung Fakultas Ushuluddin, UIN SGD Bandung. Melemahnya literasi mahasiswa menjadi alasan utama mereka membuka perpustakaan jalanan.

“Intinya, ingin mengembalikan iklim kampus, terutama iklim berdiskusi, iklim literasi yang hari ini oleh mahasiswa mulai tidak ada,” ungkap salah satu anggota Rumah Diskusi, Restu Nugraha Sauqi, Rabu (5/4/2017). Restu menilai, bahwa minat berdiskusi bagi mahasiswa sudah memudar sejak saat ini.

Menurutnya era digital pada saat ini, telah mampu mengalihkan perhatian masyarakat dan mahasiswa dari kebiasaan membaca, karena saat ini mahasiswa belum mapan pada era digital. Menurutnya  orang barat mampu menjadi mapan diera digital karena sebelumnya budaya literasi, budaya membaca dan budaya menulis sudah ditanamkan dalam dirinya. Sehingga orang barat sudah mumpuni dan mempunyai bekal untuk menghadapi era digital.

Masyarakat Indonesia dan mahasiswa, dinilainya telah mengabaikan tahap penting sebelum menghadapi era digital. “Kita (masyarakat Indonesia dan mahasiswa) belum mapan dalam budaya membaca dan menulis, sudah disuguhi dengan budaya digital, nah itu masalahnya,” ujarnya. Dengan digelarnya perpustakaan jalanan, diharapkan akan memperkokoh budaya literasi. Menurutnya, orang yang telah mapan dengan budaya literasi akan mapan pula sistematika proses berfikirnya.

Ide adanya perpustakaan jalanan tersebut diinisiasi oleh semua anggota Rumah Diskusi. Namun, seiring berjalannya waktu perpustakaan tersebut tidak terlalu ramai dikunjungi. Meski demikian, kampanye akan pentingnya literasi tutur Restu terus digemakan. “Hadirnya lapak-lapak buku baik di kampus maupun di tempat umum itu merupakan sesuatu yang harus kita apresiasi bersama,” tuturnya.

Baca juga:  Segudang PR untuk Wisuda 68

Selain menyadarkan akan pentingnya sebuah literasi bagi semua mahasiswa, kampanye kesadaran tersebut dilakukan terhadap anggota Rumah Diskusi. Buku-buku tersebut diperoleh dari setiap anggota Rumah Diskusi dan dari beberapa mahasiswa yang sengaja meminjamkan bukunya untuk dibaca pengunjung. Di perpustakaan jalanan tersebut terdapat sekitar 80 buku bacaan yang mereka sediakan.

Salah satu pengunjung yang merupakan alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam, Rikhsan Abdurrahman menilai bahwa adanya perpustakaan jalanan merupakan hal bagus bagi mahasiswa. Menurutnya, perbendaharaan buku di perpustakaan kampus berbeda dengan yang ada di perpustakaan jalanan. “Ya kalau di sana (perpustakaan UIN SGD Bandung) buku-bukunya itu kan paketan, kebanyakan buku bacaan mata kuliah, kalau disini beda. Jadi tidak hanya bacaan kuliah saja, disini luas,” ungkapnya.

Menurut Rikhsan buku yang disediakan di perpustakaan jalanan tersebut bermacam-macam. Berbeda dengan buku-buku bacaan yang tersedia di perpustakaan kampus. Dirinya berharap agar mahasiswa-mahasiswa  di UIN SGD Bandung meningkatkan minat bacanya. “Karena mahasiswa harus mampu melakukan perubahan di masyarakat pada masa yang akan datang,” pungkasnya.

 

Reporter : Edi Setio/ Magang

Redaktur : Dadan M. Ridwan

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas