Kampusiana

Dai di Zaman Moderen Harus Berkarakter

Ilustrasi (Akhmad Jauhari/Magang)

SUAKAONLINE.COM –  Islam memerintahkan setiap pemeluknya untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun dan dapat diterima oleh pendengarnya. Sudah banyak teladan dan contoh kongkret yang mempraktikkan hal tersebut. Namun di zaman serba canggih ini justru tidak diimbangi dengan kesantunan sikapnya, seperti munculnya kelompok-kelompok Islam yang menyampaikan dakwah dengan cara yang tidak semestinya.

Menurut Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Enjang As, dakwah adalah kesadaran seorang muslim untuk menyampaikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai inti kebudayaan manusia. Sejatinya menurut epistemologi dakwah adalah mengajak, maka makna yang dapat diambil adalah dakwah merupakan ajakan kepada umat manusia tentang Al Qur’an dan Sunnah. Kewajiban mengajak ini dimiliki setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan.

Namun saat ini, dakwah justru disampaikan dengan cara yang kurang santun, menurut Enjang hal ini didasari keterbatasan pengetahuan dari para dai. Selain itu pemikiran dan pemahaman sang dai yang cenderung sempit, mendorong munculnya fenomena tersebut. Seorang dai dituntut untuk memiliki kapasitas dan kapabilitas yang memadai agar pesan yang disampaikan bisa diterima masyarakat. “Dai selayaknya memiliki sikap profesional, kapabilitas dan integritas yang memadai,” tambahnya, Selasa (11/4/2017).

Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ihsan Bandung, Tantan Taqiyyudin, menyatakan bahwa, banyak metode yang bisa digunakan berdakwah, diantaranya bisa melalui tulisan, karya seni, budaya, dan film.  Bahkan dakwah yang disampaikan dalam bentuk perilaku atau tindakan, justru lebih mengena ketimbang dengan cara lisan. Metode tersebut sah-sah saja dipakai oleh para dai, tentunya jika tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah digariskan ajaran Islam.

Ia juga menambahkan, dalam berdakwah hendaknya perlu memerhatikan dengan siapa para dai berhadapan. Penyampaian dakwah kepada anak-anak dan kaum ibu tentu berbeda dengan mahasiswa dan kaum intelektual. “Dakwah itu merangkul, bukan memukul. Mengajak, bukan mengejek. Ini dilakukan supaya penyampainnya menyejukkan,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya, Kamis (13/4/2017).

Baca juga:  Zulfa Hendri: Peluang UIN Bandung dalam Financial Market

Menyikapi kasus penghinaan atau penistaan agama Islam yang ramai diperbincangkan, terdapat hal  yang perlu diperhatikan oleh para dai. Pada umumnya, para dai seharusnya tidak mengedepankan sikap kebencian. Enjang menuturkan bahwa, perlu digalakkannya check and recheck atau tabayyun terlebih dahulu. Hal ini diperlukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan persepsi atau kesalahpahaman. Sedangkan menurut Tantan, kewajiban seorang dai adalah menjelaskan duduk perkara serta kebenaran dari hal tersebut secara jelas, dengan tidak mengedepankan emosi.

 

Reporter : Akhmad Jauhari/ Magang

Redaktur : Hasna Salma

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas