Kampusiana

Bale Istri, Pelindung Hak-hak Perempuan

Ayah Soyiganati (dari kiri) , Yani, Galah (moderator), Ayah dan Yani sebagai perwakilan dari komunitas Bale Istri mengenalkan Bale Istri sebagai perkumpulan yang mengadvokasi segala sesuatu mengenai keperempuanan, baik KDRT ataupun kekerasan lainya dalam diskusi publik yang diadakan oleh Women Study Center (WSC) Dibawah Pohon Rindang (DPR), Sabtu, (22/4/2017). (Yosep Saepul ramdan/ Magang).

SUAKAONLINE.COM – “Ayo ditunggu kehadirannya yah, mau bapak-bapak, ibu-ibu, mahasiswa semuanya. Ini terbuka untuk umum,” ujar salah seorang panitia, yang mengundang para pejalan kaki disekitar area dibawah pohon rindang (DPR). Dedaunan pohon beringin Dibawah Pohon Rindang (DPR) masih berjatuhan, satu dua orang peserta diskusi mulai menduduki tempat yang disediakan, dan pembawa acara mulai membuka acara.

Salah satu rangkaian acara diskusi publik yang diadakan oleh Women Study Center (WSC) yang diselenggarakan di DPR, mengusung tema ‘Sosok Kartini Di Era Sekarang’ dan ‘Masa Depan Apresiasi Kartini’. Dengan tujuan mengenalkan Bale Istri sebagai kelompok  yang melindungi hak-hak para perempuan.

Pembicara yang mewakili Bale Istri, Agah Soyiganati menjelaskan bahwa, bale istri dengan fungsinya sebagai satu perkumpulan yang membantu mengadvokasi para perempuan dalam menangani segala bentuk kekerasan. Baik itu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ataupun bentuk kekerasan lainnya yang bersangkutan dengan perempuan.

“Awalnya ibu tidak tau tentang isu-isu seperti ini, tapi pada taun 2007 saat ada mahasiswa dan mahasiswi yang mengadakan pelatihan tentang isu kewanitaan. Ibu pun diajak dan ikut , sekarang ibu jadi faham,” ujar ibu empat anak itu. Sabtu (22/4/2017).

Salah seorang pembicara dari Bale Istri, Yani menjelaskan, dalam penanganan kasus-kasus pun tidak sedikit kasus yang berat bahkan dia menceritakan bahwa dia sempat menangani kasus seorang suami yang mengejar istrinya sambil membawa benda tajam berupa arit. “Pengalaman itu inget terus, sampe setiap kali liat arit selalu inget kasus itu,” ujar ibu yang berprofesi sebagai guru PAUD ini, Sabtu (22/4/2017).

Baca juga:  Mencium Bau Limbah, Warga Panyileukan Resah

Hal itupun diamini oleh Agah yang menyatakan bahwa penangan dalam kasus itu tidak selamanya harus dengan lemah lembut, adakalanya kita pun harus keras menyesuaikan dengan kondisi korban dan pelaku kekerasannya. “Kalau dalam pelatihan itu penanganan pada kekerasan harus dengan lemah lembut, tapi dilapangan beda. Jadi penanganannya tergantung situasi saja,” tambahnya.

 

Reporter : Yosep Saepul ramdan/ Magang

Redaktur : Hasna Salma

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas