Kampusiana

Reiner : Berita Palsu Jadi Pendorong Pemikiran Konspirasi

Akademisi dan Praktisi asal Amerika Serikat, Steven Reiner (kiri) sedang memaparkan materi kuliah umum mengenai berita palsu di Auditorium Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Padjajaran (UNPAD), Jalan Bandung Sumedang, Jatinangor, Sumedang, Jumat (5/5/2017). Kuliah umum tersebut diadakan dalam rangka memperingati International World Press Freedom Day atau Hari Kebebasan Pers Internasional. (Muhammad Mufti/ Magang)

 

SUAKAONLINE.COM- Dalam rangka memperingati International World Press Freedom Day atau Hari Kebebasan Pers Internasional, Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Padjajaran (UNPAD) bekerja sama dengan Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat menyelenggarakan Kuliah Umum yang bertempat di Auditorium Pascasarjana FIKOM, UNPAD, Jalan Raya Bandung Sumedang, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jumat (5/5/2017).

Acara bertopik Digital Journalist Literacy And Combating Fake News tersebut, menghadirkan pemateri seorang akademisi dan praktisi media asal Amerika Serikat, Professor Steven Reiner. Dalam kuliah umumnya, Reiner menyampaikan beberapa hal penting yang harus diketahui oleh seorang jurnalis seputar berita palsu yang semakin hari kian marak beredar, terutama di dunia maya dan media sosial.

Menurut Reiner, kecanggihan teknologi informasi menjadi salah satu pemicu maraknya penyebaran fake news atau yang kita kenal dengan sebutan berita palsu atau hoax. Berita palsu ini lebih mudah menyebar melalui media sosial, karena kebanyakan pengguna media sosial adalah masyarakat muda yang notabene masih belum matang emosinya dalam menanggapi berbagai berita palsu tersebut.

Reiner juga menuturkan bahwa Facebook dan twitter yang merupakan media sosial terbesar di dunia banyak digunakan sebagai media utama dalam menyebarkan berita palsu. Bukan hanya facebook dan twitter saja, bahkan blog seperti blogger milik google dan blog wordpress juga rentan menjadi tempat penyebaran berita palsu. Apalagi jika berkaitan dengan politik, banyak terjadi saling fitnah lewat media sosial dan bermunculannya Black Campaign atau kampanye hitam.

Baca juga:  Zulfa Hendri: Peluang UIN Bandung dalam Financial Market

Berdasarkan pengamatan Reiner, ada beberapa pihak yang biasanya menjadi agen dalam menyebarkan berita palsu. Diantaranya adalah penyedia usaha digital, pendukung suatu partai politik, dan pemerintah. Selain itu, dari hasil pengamatannya tersebut, ada beberapa hal yang menjadi alasan kenapa berita palsu bisa hidup dan berkembang. “Berita palsu dapat hidup atau berkembang di antaranya karena dapat memanipulasi pikiran kita, memenuhi bias konfirmasi dan mendorong pemikiran konspirasi,” ujar Reiner.

Jumlah berita palsu semakin hari kian banyak, terutama pada waktu-waktu pemilu. Banyak berita palsu yang menyalip berita yang benar pada waktu-waktu pemilu sehingga mengganggu kelancaran pemilu. Namun, dengan maraknya berita palsu ini bukan berarti tidak ada solusinya. Reiner memberikan beberapa solusi yang dapat ditempuh oleh masyarakat dalam menyaring berita palsu. “Apakah ada solusinya? Tentu ada. Beberapa hal dapat kita lakukan sebagai solusi menyaring berita palsu, di antarnya yaitu program melek berita dan media dan melakukan check terhadap fakta yang terjadi,” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Mufti/ Magang

Redaktur : Hasna Salma

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas