Lingkungan dan Kesehatan

Air Limbah Cemari Dua Petak Sawah di Panyileukan

Caption: Air limbah mencemari tanah bekas sawah, dan menggenangi sawah di Jalan Terusan Panyileukan, Kelurahan Cipadung Kidul, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung. Masyarakat mengeluhkan bau tak sedap yang keluar dari genangan tersebut. Warga, pihak kelurahan dan kecamatan menduga air tersebut berasal dari pabrik tekstil yang berada di Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kamis (20/04/2017). (Muhammad Iqbal/ SUAKA).

SUAKAONLINE.COM – Bau tidak sedap yang menusuk hidung, akan tercium ketika melewati Jalan Terusan Panyileukan, Kelurahan Cipadung Kidul, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung.  Aroma ini berasal dari air pekat warna hitam yang menggenangi dua petak  tanah bekas sawah, tepatnya sebelum Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Panyileukan.

Tanah tersebut diduga terpapar air limbah yang berasal dari pabrik tekstil yang memproduksi denim, tepatnya di Kecamatan Cibiru, disamping Tempat Pembuangan Sampah Cibiru. Kondisi saat ini, dua petak sawah tersebut sudah ditumbuhi tumbuhan eceng gondok, sedangkan yang satunya ditimbun tanah. Diperkirakan, tanah ini sudah tergenang oleh air limbah sejak 2015 lalu.

Sejauh pantauan Suaka, air hitam muncul pertama kali dari selokan khusus pabrik yang terdorong oleh air yang berada di belakang pabrik, air Gunung Manglayang. Kemudian yang keluar, bercampur dengan selokan warga. Menurut penjual bunga yang berada tepat di depan pabrik tersebut, Eti (58) mengatakan, setiap pagi warna air yang keluar dari pabrik selalu hitam. “Kalau siang, ibu suka pakai airnya buat siram tanaman ibu,” ujar ibu yang sudah berjualan sejak 1996 itu, Jumat (2/6/2017).

Sekilas dapat dilihat bahwa, di selokan tersebut banyak terdapat endapan tanah yang sudah menghitam. Pada siang hari air yang mengalir akan nampak bersih, namun endapan bekas limbah tekstil masih tersisa disana. Setelah tercampur dengan selokan warga, air akan mengalir dan bertemu dengan air selokan dari arah Desa Cipadung dan tercampur kembali hingga mengalir ke arah kawasan Perumahan dekat Pertamina yang berlokasi di Panyileukan.

Baca juga:  Terbentuknya Kepanitiaan OPAK

Air itu mengalir cukup banyak menuju selokan di Jalan Soekarno Hatta, air berbelok arah menuju selokan Perumahan Bumi Panyileukan yang luasnya terus mengecil. Kemudian diperparah lagi dengan sampah warga, yang berbentuk sampah plastik.

Ibu Eti mengeluh, ia sering merasa gatal pada tangan setelah mengambil air dari selokan tersebut. Selain itu menurut seorang tukang tambal ban di daerah Panyileukan, Aep, yang tempatnya terlewati aliran air selokan tersebut. Ada kiranya satu kali dalam seminggu tercium bau menyengat dari selokan. “Hari-hari libur biasanya, kalau nggak Sabtu atau Minggu. Kadang warnanya berubah, kadang hitamnya lebih dari ini,” ujarnya sambil melihat genangan air selokan.

Keluhan juga muncul dari warga RT 07 RW 01, Rukiman mengatakan, terkadang bau dari selokan itu bisa sampai ke rumah di wilayah tersebut, yang jaraknya hanya 100 meter dari selokan. “Kalau malam, baunya bisa sampe rumah,” keluhnya saat ditemui di bilik depan rumah ketua RT 07 RW 01.

Tepat di lokasi terdampak, ada sebuah garasi rumah yang berhadapan langsung dengan sawah yang tergenang. Rumah itu milik Ihwan, ia juga mengeluhkan bau dari air genangan tersebut. “Ke dalam rumah Alhamdulillah tidak bau. Tapi kalo bapak keluar. Bau. Apalagi pagi-pagi, masih hitam airnya,” ujar pria yang sudah tinggal disana sejak 2014 lalu.

Ketua RW 12, Eman, menjelaskan bahwa tanah tersebut sebagian masuk ke wilayah RW 01 dan RW 12 Kelurahan Cipadung Kidul. Tanah itu dulunya adalah tanah produktif untuk menanam padi. “Sudah beberapa tahun ini air itu tidak kering, meskipun musim kemarau,” ujarnya di kantor pelayanan warga RW 12 dekat rumahnya. Dan, akibatnya tanah tersebut tidak bisa dipergunakan kembali menjadi sawah. Sedangkan Ketua RW 01, Heri, mengaku belum ada laporan dari warga soal air limbah tersebut.

Baca juga:  Persiapan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan

Beberapa sawah pun terlihat sengaja dibatasi dengan karung berisi pasir agar air limbah tidak masuk ke daerah sawah lainnya. Bila dilihat dari atas, terlihat sekali perbedaan warna air sawah yang terkena limbah dan tidak.

Sampai saat ini baik pihak Kelurahan Cipadung Kidul dan Kecamatan Panyileukan mengaku belum tahu asal air tersebut. Kepala Kelurahan Cipadung Kidul, Bahrudin mengatakan, air yang menggenang itu berasal dari perusahaan tekstil di daerah Cipadung Wetan. “Tapi belum tahu perusahaan yang mana,” ujarnya Jumat. (9/6).

Sedangkan Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kecamatan Panyileukan, Mimin Aminah yang bertanggung jawab juga mengenai masalah gorong gorong. Pihak kecamatan akan lebih hati-hati bila sudah mengetahui asal air limbah tersebut, ia mengatakan pihaknya akan mencari lebih banyak lagi informasi dari berbagai pihak.

Sejauh ini sudah banyak masyarakat yang mengeluhkan masalah air tersebut. “Kami akan berkoordinasi dengan pihak di Kecamatan Cibiru,” ujarnya Jumat. Ia pun mengaku pernah melihat langsung air hitam dari selokan saat ia mengunjungi Kantor Kelurahan Cipadung Wetan.

Suaka sudah mencoba menghubungi pihak salah satu perusahaan, tapi pihak perusahaan masih belum bisa memberi waktu untuk memberi tanggapan. Sejauh ini Suaka mendapat informasi dari Ketua RW 01 Kelurahan Cipadung Wetan, Deni Heriyana mengatakan, perusahaan sedang dalam proses perbaikan pengolahan limbah, salah satunya memindahkan tempat penampungan limbah, karena penampungan limbah sebelumnya berada dekat permukiman warga.

 

Reporter : Muhammad Iqbal

Redaktur : Hasna Salma

1 Comment

1 Comment

  1. Ichwanudin

    28 Juni 2017 at 14:22

    Sdr ikbal, sy yg timggal di terusan panyileukan blok kav iv no 21 mengenai air limbah , memang klu tdk ada aktipitas / kegiatan di pabrik airnya jernih apalagi klu libur idul fitri seperti skrng, dan sy juga bukti vidio

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas