Kolom

Generasi Milenial dan Anti-Intelektualisme

Dok. net

Oleh : Galih Muhamad

Einstein pernah berkata “Setiap anak adalah jenius, tapi kalau kalian nilai cara ikan memanjat pohon, maka ikan tersebut akan merasa bodoh sepanjang hidupnya”. Orang yang terkenal dengan teori relativitasnya ini dikabarkan pernah beberapa kali bertengkar bahkan pergi dari ruang kelas karena ketidaksepakatan, atas pembelajaran dan metode yang diberikan oleh sang guru.

Kiranya kata-kata Einstein tersebut seperti cambuk terhadap kebebalan pendidikan zaman sekarang, pendidikan yang sudah membongkar pasang kurikulumnya sebanyak 11 kali dari rentan waktu 1947-2013. Pendidikan yang masih saja menuntut untuk sama bukan untuk beda, pendidikan yang diharuskan untuk menghafal bukan untuk memahami.

Mantan presiden Indonesia pun pernah memiliki cerita yang sama dengan Einstein, pada tahun 1963 Abdurrahman Wahid atau sering disapa Gus Dur berangkat ke Kairo, Mesir, untuk kuliah di Al-Azhar. Ketidakpuasan dengan metode dan pembelajaran yang diberikan di Al-Azhar membuat Gus Dur muda pergi ke Baghdad, Irak, dan berkuliah di Universitas Baghdad sampai tahun 1970.

Dulu, Adolf Hitler dianggap sebagai anak yang cerdas, dimana hampir semua pelajaran mendapatkan nilai A dan tak pernah bolos sekolah. Tapi muncul kekhawatiran diantara para guru dimana ternyata Adolf jarang sekali memperhatikan pelajaran-pelajaran yang disampaikan gurunya, dan seringkali melamun. Namun kekhawatiran itu sirna karena para guru sudah tahu bahwa Adolf bercita-cita menjadi seorang prajurit. Dari kasus tersebut masalah guru sebagai kompas bagi anak terdidik di pertanyakan. Andai saja guru tersebut bisa melihat potensi diri dari Adolf Hitler dan mengarahkannya, mungkin kisah hidup Adolf Hitler bisa beda cerita.

Terkadang memang kualitas guru yang menjadi masalah, banyak guru yang tidak peka akan potensi siswanya ataupun guru yang menerapkan metode belajar yang itu-itu saja, dengan cara berorasi didepan kelas, lantas menghujani siswa dengan beragam tugas. Hal-hal seperti itu kadang membuat tumpul rasa ketertarikan belajar siswa, sehingga para siswa kebingungan saat dikelas, yang berujung membolos untuk sekolah dan bermain dengan teman-temannya.

Baca juga:  Rohingya yang Teraniaya

Maka jangan heran apabila remaja-remaja sekarang atau sering disebut generasi milenial, lebih suka menggenggam gadget daripada buku, lebih suka menghabiskan waktu di café dari pada di perpustakaan. Jangan kaget apabila remaja sekarang tidak tahu apa-apa tentang hal-hal intelektualistas. Remaja sekarang lebih sering membicarakan tentang cinta dan sex. Maka menurut sebuah penelitan generasi milenial adalah generasi galau.

Generasi milenial hari ini memang memprihatinkan, pada tahun 2013 majalah TIME pernah membahas tentang generasi milenial yang dianggap pemalas, generasi milenial dianggap terlalu memikirkan eksistensi diri sendiri, tak mau berusaha dan tak mau berkerja keras, lebih suka sesuatu yang instan dan tidak mau repot. Generasi milenial menikmati kartu kredit, tapi yang membayar orangtuanya, ingin mandiri dan dihargai tapi masih tinggal serumah dengan orangtuanya, ingin terdidik, tetapi kuliah selalu bolos.

Generasi milenial adalah yang lahir pada periode tahun 1980 sampai sekarang, sejarah mencatat ada beberapa generasi yang dianggap terbaik, diantaranya Greates Generation periode 1901-1924 dan generasi Silent periode 1928-1945 dengan menyumbangkan orang-orang seperti Martin Luther King, Malcolm X, dalam lingkup seni ada Andy Warhol, John Lennon, Jim Morrison, dan dalam intelektualitas ada diantaranya Noam Chomsky.

Dalam kamus Merriam – Webster ada istilah Pseudoscience atau Pseudosains, yang diartikan teori, asumsi, dan metode yang secara keliru tapi dianggap ilmiah. Dalam opini Windu Jusuf yang berjudul “Propaganda anti-sains dan pentingnya kita bela akal” menyindir para remaja atau generasi milenial yang dianggap meyakini hal-hal benar secara ilmiah tapi kenyataanya tidak.

Beberapa contoh yang diyakini para Pseudosains seperti teori konspirasi Iluminati, teori flat earth, Atlantis adalah Indonesia, Zodiak, ramalan golongan darah tentang kehidupan sehari-hari, dan lain halnya. Pada kenyataanya memang para remaja banyak yang mengkonsumsi hal-hal yang bombastis tersebut, dan secara tidak langsung dengan seringkalinya kita mengkonsumsi hal tersebut, kita secara pelan-pelan sedang mengninabobokan akal sehat kita.

Baca juga:  Masa Kontrak Pengadaan Almamater Berakhir 10 November

Dan ada yang lebih mengerikan lagi dari pada berkembangnya para Pseudosains, yaitu mewabahnya kaum Anti Intelektualisme, Dalam tulisan Zen RS yang berjudul Wabah Anti-Intelektualisme yang dimuat oleh Jawa Pos, Anti Intelektualiseme menurut rumusan Richard Hofstadter adalah perendahan, purbasangka, penolakan dan perlawanan yang terus-menurus, ajek, serta konstan terhadap dunia ide dan siapa pun yang dianggap menekuninya. Atau secara singkat berburuk sangka terhadap filsafat, sains, sastra dan seni, atau yang paling kasar adalah mencurigai teori.

Seringkali ada celetukan dari orang-orang yang mengatakan “Ah, teori” orang seperti ini adalah orang yang terjangkit wabah anti-intelektualisme. Padahal teori adalah agregasi tiada henti dari berbagai fakta, beragam hipotesis, yang satu sama lain saling berdialog dan kadang bertarung, sampai kemudian disepakati sebuah rumusan.

Menurut artikel Zen RS, teori sulit lahir dari pemeluk teguh, yang dimaksudkan adalah kebenaran sebagai iman yang diterima tanpa syarat, dan teori kurang cocok dengan mereka yang terobsesi dengan mufakat. Mufakat sendiri dari artikel tersebut memiliki kelemahan diantaranya sedikit sekali ruang untuk berdebat dan ruang untuk mengkritisi.

Hemat saya, dari opini yang saya tulisankan ada keterkaitan dan peran besar pendidikan yang seharusnya mengasah akal sehat manusia untuk menciptakan manusia-manusia yang mampu “perang akal”, dan tidak membuat manusia tersebut menjadi pseudosains ataupun terjangkit wabah anti-intelektualisme, berhenti mengatakan “ah itu mah Cuma teori” , ingat Revolus Prancis bermulai dari sebuah teori, dan tanpa adanya teori E=MCAmerika dan Rusia tidak akan menjadi Negara adikuasa.

Kalau di Amerika ada March For Science, dimana para aktivis sains dan kaum intelektual turun ke jalan. Sekiranya para aktivis sains, kaum intelektual Indonesia juga harus mengikutinya, jangan mau kalah dengan demo-demo nomor cantik kemarin, kalau bisa gunakan hashtag#Belaakalsehat #Tolakkriminalisasiakal dan lainnya.

Baca juga:  Mahasiswa Peringati Robohnya Fakultas Adab dan Humaniora

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas