Infografis

Mereka Yang Mati Muda

 

SUAKAONLINE.COM, Infografis – Di sebuah suratnya, seorang perempuan pribumi anak bupati menulis: “Panggil aku Kartini saja –itulah namaku!” Hanya segelintir yang tahu, kalau Kartini bukan sekadar pelopor emansipasi perempuan, melainkan juga pengkritik tangguh feodalisme Jawa dengan segala tetek bengek kerumitannya. Dialah jugalah, pemula sejarah moderen Indonesia.

Sepanjang ada penindasan, maka sepanjang itu pula dalam masyarakat muncul perlawanan dan gerakan. Keinginan menjadi bangsa berdaulat awal hingga pertengahan abad 20 menjadi ruh perjuangan pejuang Indonesia. Hingga, kemudian lahirlah nama-nama revolusioner seperti Wolter Mongisidi, Supriyadi, hingga Sudirman. Dari ranah sastra, dengan sajak-sajak hero-nya, Chairil menjadi pemantik semangat ’45.

Lain halnya dengan generasi muda yang hidup masa sebaya Wahib, seperti diutarakan penggerak pembaharuan lain, Soe Hok Gie, merupakan manusia-manusia baru –generasi kemerdekaan Indonesia. Lalu, kembali ketika situasi normal terhenti dan dihentikan, revolusi kembali diputar. Munir dengan humanitarianismenya menjadi cahaya bagi para korban pelanggaran HAM. Meski dirinya bertubi-tubi diteror, nyalinya tak pernah ciut. Sebelum ajal menjemput, di usia yang muda mereka telah menjadi obor perjuangan bangsa Indonesia.

 

Peneliti: Muhammad Machally

Sumber: Litbang Suaka, Buku Mereka yang Mati Muda karangan Arifin Surya Nugraha, dkk.

Baca juga:  Mencium Bau Limbah, Warga Panyileukan Resah
Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas