Lintas Kampus

Warga Kebon Jeruk Kembali Melawan

Masa aksi tengah melakukan aksinya didepan kantor Daop II PT.KAI Stasiun Barat, Kota Bandung, (Rabu 19/7/2017). Mereka menuntut PT.KAI yang sudah melanggar hukum dan adanya Intimidasi dari PT.KAI terhadap warga yang sudah memenangkan haknya di pengadilan hukum. (Rafi Fachmi/ SUAKA).

SUAKAONLINE.COM Sejak pukul 10.00 masa aksi dari komite rakyat kebon jeruk dan mahasiswa, berkumpul didepan posko penggusuran kebon jeruk. Dengan menggunakan pakaian serba hitam, rakyat dan mahasiswa melakukan aksinya menuntut PT.KAI yang sudah melanggar hukum dan tidak adanya Intimidasi dari PT.KAI terhdap warga yang sudah memenangkan haknya di pengadilan hukum, di depan kantor Daop II PT.KAI Stasiun Barat Kota Bandung, Rabu (19/7/2017).

Semenjak memanangkan haknya dipengadilan pada tanggal 21 mei 2017, warga kebon jeruk mulai kembali membangun perekonomiannya dengan berjualan. Akan Tetapi setelah itu PT.KAI yang mengatasnamakan Daop II kembali mengintimidasi warga kebon jeruk dengan memberikan surat peringatan kepada warga, agar mengosongkan kembali tempat tinggal atau kios mereka dari stasiun barat hingga timur.

Masa aksi yang ada di Kantor Daop II ini melakukan orasi-orasi politiknya didepan kantor, sambil menunggu perwakilan dari manajer aset Daop II. Masa aksi terus malakukan pembacaan orasi-orasi dan puisi, meski sempat terjadi perselisihan antara masa aksi dan polisi. Masa sempat kecewa, karena tidak adanya perwakilan dari pihak PT.KAI, akhirnya masa memblokir akses jalan stasiun barat dan pintu masuk stasiun barat, hingga menimbulkan perselisihan.

Menurut Koordinator Lapangan dari masa aksi, Barra Malik, “Aksi bersama warga dan mahiswa antar kampus-kampus ini sebenarnya untuk memberikan ultimatum peringatan kepada PT.KAI jangan lagi menggangu usaha rakyat dengan melakukan ancaman-ancaman penggusuran atau intimidasi seperti kemarin, dengan cara mengirim surat agar mengkosongkan stasiun barat hingga timur,” ujarnya.

Baca juga:  Dan Satriana : Keterbukaan Informasi Hak Setiap Orang

Salah seorang warga korban penggusuran, Hamdiah mengatakan, sejauh ini warga sudah mengikuti semua prosedur yang diberikan oleh PT. KAI seperti menempuh jalur hukum dan warga memenangkannya. “Kita masyarakat dan tidak punya apa-apa, kenapa mereka meski takut menemui kita. Kita juga sudah menang melalui jalur hukum tanpa melanggar apapun, malah PT.KAI seharusnya mengganti rugi,” jelasnya.

Sebelumnya warga sempat diminta untuk bermediasi oleh pihak Polisi dengan salah satu staf PT.KAI, hanya saja saat itu yang dituju sedang tidak ada. Barra juga mengharapkan, agar PT. KAI tidak lagi mengintimidasi warga dan membiarkannya tetap melanjutkan berjualan.

 

Reporter : Rafi Fachmi

Redaktur : Hasna Salma

 

 

 

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas