Lintas Kampus

Pergeseran Makna Generasi Milenial

lkjhgfdaszxcvbnm

SUAKAONLINE – Topik tentang generasi millenial masih menjadi topik yang  hangat untuk dibicarakan. Penyebabnya antara lain karena generasi tersebut sedang bertransformasi menuju garda depan kebudayaan kontemporer.

Hal tersebut dibenarkan oleh akademisi teknokultur, Harry Nuriman, menurutnya mitos-mitos terkait generasi melenial yang  narsis, haus pengakuan, lembek, serta minim kepedulian sosial. Dipatahkan dengan kenyataan lain dari generasi millenial yang juga berdampak baik.

“Millenial memilih berwirausaha, membuka lapangan pekerjaan. Dibuktikan dengan start-up yang mulai bermunculan,” ujar dosen Fakultas Seni Rupa Institute Teknologi Bandung (ITB) tersebut saat menjadi pembicara dalam Seminar Millennials and Digital Culture, yang diselenggarakan oleh Institute Francis Indonesia (IFI), Kamis (3/8/2017).

Selain itu, ada pula generasi millenial yang turut menjaga kebudayaan Indonesia. “Ada aplikasi-aplikasi yang menunjang seperti Wayang, Alat Musik Sunda, Cerita Rakyat Indonesia, Batik Indonesia, Nulis Aksara Jawa, resep makanan Indonesia, Indonesian Doll Fashion Sallon, dan Adat Budaya Indonesia,” tambah Harry.

Harry mengklasifikasi ada beberapa ciri standar kaum millenial, pertama sangat melek teknologi, memilih ponsel ketimbang televisi, kurang suka membaca buku konvensional, tanggap terhadap produk baru. “Jenis smartphone keluaran terbaru, mereka selalu tahu.”

Generasi millenial juga mudah bosan dan  lebih percaya User Ganeration Content. “Sekarang iklan saja tidak cukup. Generasi millenial lebih percaya pengulas suatu produk.” Karena menyesuaikan dengan teknologi, generasi millenial cenderung menggemari transaksi online.

Dalam dunia kerja, Harry mengklasifikasi generasi millenial dengan ciri-ciri menginginkan gaji tinggi dengan jam kerja    fleksibel, cenderung tidak loyal tapi bekerja efektif. “Lalu muncul pertanyaan, generasi millenials sebagai bonus demografi atau bencana demografi. Di mana Tahun 2025 nanti, usia produktif di indonesia berasal Generasi millenials,” terang Harry.

Baca juga:  Ribuan Driver Online Menggelar Aksi Damai

Peneliti Kebudayaan Digita, Mody Affandi mengklasifikasi ada tujuh unsur kebudayaan, diantaranya bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemsyarakatan, sistem peralatan hidup atau teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi dan kesenian. Masing-masing dari unsur tersebut juga terpengaruh oleh digital.

“Saya menulis sebuah artikel tentang millenial. Bahwa diri itu terbagi dua, primer yakni diri kita sebenarnya dan sekunder, diri kita yang lain dan dipengaruhi oleh gadget,” ujar Mody. Ia juga menjelaskan bahwa sebenarnya teknologi tidak lebih penting dari pangan, namun masalahnya semua orang menggunakannya. Teknologi membuat siapapun menjadi apapun, mampu memberikan gambaran, membentuk struktur masyarakat yang baik, menjadi e-comers.

Seseorang akan memiliki peran jika orang tersebut mengerti  konsep komoditas di dunia milenial seperti kecepatan, perubahan, perhatian, dan kebudayaan.  Dipenghujung pembicaraan, Mody menjelaskan digital menghadirkan beragam kemungkinan. “Salah satunya adalah batas kelas tradisional yang perlahan menghilang kesamarataan yang begitu kental di dunia digital. Mengubah konsumen menjadi produsen.

 

Reporter : Isthiqonita

Redaktur : Hasna Salma

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas