Lingkungan dan Kesehatan

Mencium Bau Limbah, Warga Panyileukan Resah

Seorang anak melewati kawasan terdampak air limbah di Jalan Terusan Panyileukan, Kelurahan Cipadung Kidul, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung, Kamis (20/4/2017) pagi. Air limbah terlihat hitam pekat dan mengeluarkan bau tak sedap, masyarakat menduga air limbah tersebut berasal dari perusahaan tekstil yang ada di Kecamatan Cipadung. (Muhammad Iqbal/ Suaka)

 

SUAKAONLINE.COM – Sekitar pukul 02.30 Senin dini hari, warga di Perumahan Bumi Panyileukan resah. Mereka mencium bau menyengat di dalam rumah. Bau itu diduga berasal dari air limbah yang menggenang di selokan dan baunya terdorong oleh angin. Bau itu tercium sampai satu kilo meter dari asal air yang menggenang.

Warga RW 02 Bumi Panyileukan, Sukatman mengaku bahwa bau pada dini hari kemarin berbeda dengan bau biasanya. “Memang tiap malam bau, tapi baunya sudah melebihi batas. Beda dengan dini hari tadi, biasanya gak pernah kayak begini baunya,” ujar Sukatma saat berbincang di depan halaman Masjid As-Salam RW 07 Bumi Panyileukan, Selasa (19/9/2017).

Sukatman setiap dini hari sering pergi ke masjid, sehingga mencium bau menyengat tersebut. Dia penasaran lalu pergi ke rumah Dikdik Rahadian untuk menanyakan soal bau tersebut. Dikdik dianggap mengetahui informasi mengenai bau tersebut. Dikdik merupakan salah satu anggota dari Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) di Panyileukan.

Dikdik dan masyarakat mengetahui asal bau tersebut berasal dari selokan. Tetapi masyarakat belum tahu asal air yang diduga limbah tersebut. Dikdik serta empat orang lainnya mencoba mencari tahu dengan menyusuri selokan, mulai dari pintu gerbang perumahan sampai mereka berhenti di selokan samping Jalan A.H Nasution, depan kampus UIN Bandung.

Dikdik menduga bahwa air ini merupakan bau soda kaustik yang sering digunakan untuk pabrik pakaian. Dikdik juga menduga bahwa air limbah ini dibuang pada malam hari, dan baru sampai di Bumi Panyileukan sekitar satu atau tiga dini hari. “Diduga air yang dibuang sekitar 10.000 liter,” ujar Dikdik.

Baca juga:  Kuliah Umum Hindu bersama Religious Studies

Sekitar  pukul 04.30 Dikdik dan warga lainnya memilih untuk pulang setelah berhenti di depan kampus, karena bukan wilayah tugasnya. Sejauh ini, Dikdik dan masyarakat lainnya sudah berkoordinasi dengan KIM yang berada di Kelurahan Cipadung Wetan dan Palasari serta petugas lapangan Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung.

 

Reporter : Muhammad Iqbal

Redaktur : Dadan M. Ridwan

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas