Kampusiana

SHLC, Diskusi Mahasiswa Ala Indonesia Lawyers Club

Dosen Ilmu Hukum, Atep Muhtar saat memberikan argumentasi dalam diskusi Syariah dan Hukum Lowyer Club (SHLC) bertajuk ‘Apakah Agama dan Politik Harus Dipisah?’ Rabu, (4/10/2017) di Cafetarium UIN SGD Bandung. (Nizar Alfadhilah/ Suaka)

 

SUAKAONLINE.COM – Dewan Mahasiswa Fakultas (DEMA-F) Syariah dan Hukum sukses menyelenggarakan diskusi bertajuk ‘Syariah dan Hukum Lawyer Club’ (SHLC) yang mengangkat tema “Apakah Agama dan Politik Harus Dipisah?” Rabu, (4/10/2017) di Cafetarium UIN SGD Bandung. Mereka mengemas diskusi dengan cara yang berbeda, yaitu meniru dan memodifikasi konsep dari salah satu program TV yang ikonik sebagai acara diskusi, yakni Indonesia Lawyer Club)  yang tayang di salah satu TV Swasta Indonesia.

Dalam acara Indonesia Lawyers Club, diskusi dipimpin oleh seorang moderator sekaligus pemimpin redaksi dalam stasiun TV tersebut, Karni Ilyas.  Dengan gaya dan tutur bahasanya yang khas, penyelenggara acara pun tak luput untuk memperkenalkan Karni Ilyas versi SHLC, yakni Yuyu Wahyudin yang merupakan mahasiswa Hukum Pidana Islam.

Yuyu, dengan mengenakan setelan jas rapi mulai memimpin diskusi dengan khas seorang Karni. Dengan para peserta yang duduk melingkar di meja bundar, Yuyu mulai memberi waktu bagi para peserta untuk memberi argumentasinya. Peserta diskusi terdiri dari Himpunan Mahasiswa Jurusan dari Fakultas Syariah dan Hukum, dan yang lainnya adalah tamu undangan seperti delegasi Dewan mahasiswa perfakultas dan mahasiswa dari kampus lain. Acara ini juga dihadiri oleh Dosen Ilmu Hukum sebagai pengisi diskusi, Atep Muhtar.

Diskusi berlangsung penuh argumentasi,  terdapat perbedaan pendapat tentang harus atau tidaknya agama dipisahkan dari politik. Menurut salah satu mahasiswa Ilmu Hukum, Agama dan politik tidak bisa dipisahkan karena saat Indonesia berdiri, kita berdiri atas dasar rahmat Allah. “Agama dan politik itu seperti daging dan tulang, tak bisa dipisahkan,” ucapnya. Sedangkan menurut mahasiswaa lain dari Jurusan Hukum Pidana Islam, menuturkan bahwa agama dna politik harus dipisahkan tapi tidak secara keseluruhan, hanya beberapa unsurnya yang dipisah agar tak ada konflik agama atas dasar politik yang terulang kembali.

Baca juga:  Rusunawa Rancacili Masih dalam Proses

Menurut Dosen Ilmu Hukum, Atep Muhtar, memang sulit untuk membahas agama dan politik itu dipisah atau tidak, namun pada filosofinya Allah itu satu, dan wahyunya pun menyatu. “Agama adalah suatu yang subjektif, kebenarannya adalah suatu aklamasi, sedangkan kebenaran negara adalah proklamasi,” tuturnya.

Diskusi ditutup dengan kesimpulan oleh notulen, Andri Amin Tawakal layaknya seorang maman suherman dalam ILC. “Politik dan agama seperti sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta, banyak yang iri bahkan ada yang ingin membunuhnya, tapi biarkanlah sekarang tugas kita sebagai generasi penerus untuk menyudahi pertikaian ini. Mari bekerja dengan cinta tanpa memandang agama,” tutupnya.

 

Reporter : Nizar Alfadhilah

Redaktur : Dadan M. Ridwan

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas