Kampusiana

Seni, Menempatkan Perbedaan sebagai Anugerah

Bunyamin Fasya (kiri) Dosen Sastra Fakultas Adab dan Humaniora UIN SGD Bandung dalam acara Open Gallery, Rabu (8/11/2017) di Aula Abdjan Soeliman mengambil benang merah dari paparan Acep Zam – Zam Noor (kanan), yakni Isu kebhinekaan yang awalnya adalah isu kebersamaan bukan perpecahan yang kemudian di dunia politik menjadi tunggangan yang berbeda – beda. (Anisa Dewi A/ Suaka)

 

SUAKAONLINE.COM – Lembaga Seni Lukis dan Kaligrafi (LSLK) menggelar seminar yang mengangkat tema seni dalam Kebhinekaan, Rabu (8/11/2017) di Aula Abdjan Soelaiman. Seminar ini merupakan rangkaian acara Open Gallery yang dimulai pada Selasa(7/11/2017). Steering Comitee, Bintang menuturkan jika tema diambil karena melihat konteks sosial sekarang yang marak dengan perpecahan dan jauh dari persatuan.

Seminar yang menghadikran sastrawan sekaligus seniman, Acep Zam – Zam Noer yang dimoderatori oleh Bunyamin Fasya, dosen Sastra Fakultas Adab dan Humaniora UIN SGD Bandung. Menurut Acep, berbicara mengenai seni berarti bicara juga soal qhodam. Perihal kebhinekaan adalah soal keberagaman, namun  kini di Indonesia sedang carut marut karena diacak – acak oleh kepentingan politik.

Berbicara mengenai kebudayaan saat ini bukan hanya soal kesenian, tetapi bagaimana masyarakat membangun budaya. Misalnya budaya dalam pertanian, infrastruktur, dan perairan. Cara hidup masyarakat Indonesia pada umunya dipengaruhi oleh alam, sehingga mereka berkewajiban memlihara alam. Contohnya Suku Sunda yang pada dasarnya memang tidak bisa  lepas dari alam.

Menilik tentang sejarah di zaman Orde Baru, kebhinekaan dikelola oleh pemerintah sehingga beberapa  budaya adalah kebudayaan nasional.  Gagasan tersebut bertujuan demi kestabilan akibat dari perbedaan budaya dan agama.  Di satu sisi ada ekspresi yang terbatas karena ada pelarangan, seperti kaum Tiong Hoa yang pernah vakum merayakan cap Gomeh karena dilarang oleh pemerintah saat itu. Setelah Orba runtuh muncul semangat – semangat muda yang berkiprah di kesenian, pembangunan kelenteng yang marak dan menghidupakan kembali budaya Cap Gomeh.

Baca juga:  Media Sosial, Sumber Kekuatan Media

Menurut Acep kota yang masih kental dengan tradisi adalah Yogyakarta. Jika Jogja lebih pada otentiknya dan Bandung  lebih  cenderung ke abstrak. Pada tahun 1980 kesenian melebur sehingga tidak ada perbedaan antara seniman Bali dan Bandung. Dalam seni, hal – hal semacam itu menjadi indah dan sebagai anguerah dari Yang Maha Kuasa. “Permasalahan sekarang ada unsur politik yang sengaja dibenturkan dalam seni. Dipecah pecah untuk kepentingan tertentu; isu sara, agama budaya. Kita sudah mencapai kebhinekaan kemudian terpecah lagi hanya karena satu nama ‘pilkada’. Dalam kesenian perbedaan itu anugerah dan barokah,” ungkap Acep.

Karya tradisonal entah musik, tari drama atau berupa sastra tak lepas dari spiritual yang sifatnya religius. Karya sastra lahir sebagai penghormatan terhadap alam, terhadap Tuhan karena bagi orang Sunda sendiri alam adalah Tuhan. Fungsi seni bukan saja menghibur tapi juga untuk kontemplasi.

 

Reporter : Anisa Dewi A

Redaktur : Dadan M. Ridwan

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas