Kampusiana

Diskusi Rakyat Anti Kriminalisasi Kebon Jeruk

Pembacaan Deklarasi Aliansi Rakyat Anti Penggusuran untuk berkomitmen hadir dalam aksi anti kriminalisasi rakyat Kebon Jeruk bertempat di Kopma, Rabu (22/11/2017). Aksi yang akan digelar besok, Kamis (23/11/2017) di Polda Jawa Barat ini akan diikuti oleh mahasiswa UIN SGD Bandung bersama empat universitas, diantaranya Telkom University, Unisba, ISBI dan UPI. (Dadan M. Ridwan/ Suaka)

 

SUAKAONLINE.COM – Dalam diskusi yang digagas oleh Komite Aksi Mahasiswa UIN membahas kriminalisasi yang menimpa warga Kebon Jeruk, menghadirkan Yuris Fahman Zaidan dan Bambang sebagai pembicara. Diskusi tersebut dihadiri pula oleh empat warga Kebon Jeruk, Yayah (55), Jamiah (53), Hamdiyah (37) dan Itoh (55) sebagai korban dari penggusuran. Mereka mengeluhkan betapa sulitnya hidup dilahan milik sendiri.

Warga Kebon Jeruk, Yuyun mengaku dirinya telah menempati rumah yang terletak di Kebon Jeruk sudah 47 tahun lalu. “Disana sejak nenek ibu, orang tua ibu sampai ibu sebagai generasi ke tiga tinggal disana,” papar Yuyun sambil menangis, Rabu (22/11/2017).

Warga lainnya, Itoh mendapatkan surat panggilan dari polisi dengan tuduhan menempati lahan orang lain padahal menurutnya lahan tersebut adalah miliknya. “Ibu tidak bisa apa-apa, cuma bisa nangis. Ibu mohon bantuannya pada ade-ade mahasiswa mahasiswi,” ungkap Itoh sambil menahan tangisnya.

Yuris Fahman Zaidan sebagai pembicara juga memaparkan bahwa kampus saat ini kurang berelasi dengan kenyataan. Sehingga mahasiswa kini tidak berelasi dengan rakyat. “Wacana-wacana yang kita bicarakan di sekre-sekre itu hanya wacana borjuistis semata jika tanpa pengalokasian diri untuk rakyat,” pungkasnya, Rabu (22/11/2017)

Sebagai tindak lanjut dari diskusi ini, Komite Aksi Mahasiswa UIN bersama empat kampus lain, diantaranya Telkom University, Unisba, ISBI dan UPI akan melakukan aksi bersama rakyat kebon Jeruk di Polda Jawa Barat pada Kamis mendatang.

Baca juga:  UKM Fokus Unpad Gelar Pameran Foto Pasar Tradisional

Bambang yang juga pembicara dalam diskusi ini pun mengatakan bahwa UIN yang secara geografis paling dekat dengan Polda Jawa Barat harus menjadi kekuatan terbesar dengan energi dan suara yang lantang pula. “Kalo besok mahasiswa UIN Bandung banyak tidak hadir, mahasiswa UIN sudah kehilangan rasa kemanusiaannya,” pungkasnya.

KAI sebagai pihak yang melakukan penggusuran dengan melibatkan ribuan personel gabungan sebenarnya sudah kalah dalam proses persidangan di pengadilan negeri. Akhirnya pada mei 2017 hakim yang bertugas kala itu memenangkan gugatan warga Kebon Jeruk karena PT. KAI tidak memiliki bukti kepemilikan lahan. PT. KAI pun dijatuhi hukuman berupa ganti rugi sebesar Rp. 375.000.000.

 

Reporter : Yosep Saepuloh

Redaktur : Dadan M. Ridwan

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas