Lintas Kampus

Tendy : Media Sudah Tidak Eksklusif Lagi

Tendy K Somantri menyampaikan terpaan teknologi yang berdampak pada bahasa media saat ini. Ia menyayangkan masih terdapat beberapa pihak yang menyalahkan media dalam penggunaan bahasa yang dianggap tidak sesuai, di Aula Balai Bahasa Bandung, Kamis (23/11/2017). (Awallina Ilmiakhanza/ Suaka)

 

SUAKAONLINE.COM – Media massa dianggap sebagai elemen penting dalam pemartabatan bahasa. Terpaan teknologi informasi yang begitu besar bisa meluluhlantakan jagat jurnalistik. Akibatnya semakin beragam pula laras bahasa yang digunakan. Kondisi yang juga mengubah ‘posisi bahasa’ media massa.

Penggagas sekaligus Ketua Forum Bahasa Media Massa, Tendy K Somantri mengatakan dewasa ini jurnalis hanyalah ‘alat’ dari media penyampai informasi kepada khalayak. Terpaan teknologi membuat media sudah tidak eksklusif lagi, karena informasi yang menjadi komoditasnya telah dimiliki secara luas.

Banyak media cetak yang akhirnya gulung tikar dan bermetamorfosis menjadi media digital, hal itu terjadi juga pada media sebesar Newsweek dan Washington Post. Pada ranah yang lebih khusus, keberadaan bahasa pun terancam karena para ‘wartawan dadakan’ tidak seutuhnya paham dengan kaidah bahasa jurnalistik.

“Pada akhir 1990, saat saya ditanya tentang motivasi menjadi jurnalis, saya menjawab bahwa saya ingin menjadi orang pertama yang mengetahui informasi dan peristiwa. Ternyata jawaban saya tidak sepenuhnya benar,” kata pria yang sempat menjadi Redaktur Pelaksana Pikiran Rakyat tersebut, Kamis (23/11/2017).

Pada prinsipnya, media adalah alat atau sarana penghubung yang bersifat netral dan dapat diisi apa saja. Oleh karena itu, Tendy menegaskan laras bahasa yang dipergunakan dalam media pun sangat beragam, bergantung pada kesesuaian bahasa dan fungsi pemakainya.

Masalahnya, bahasa sering dipandang tidak penting eh para jurnalis. Alasan seperti ini tidak pernah lekang oleh waktu sehingga terasa seperti sebuah keangkuhan para jurnalis. Menurutnya, laras bahasa jurnalistik adalah laras bahasa yang digunakan dalam karya jurnalistik. Dimana langkah awalnya para jurnalis hanya perlu menguasai cara penyusunan kalimat efektif. “Tidak semua muatan media massa berupa karya jurnalistik,” tukasnya

Baca juga:  Check – Recheck dan Komparasi, Upaya Tanggulangi Banjir Informasi

 

Reporter : Awallina Ilmiakhanza

Redaktur : Dadan M. Ridwan

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas