Kolom

Jurnalisme Musik Sebagai Penghayatan Pendengarnya

Dok. Suaka

 

Oleh Rendy M. Muthaqin

Setelah menonton film “Coco” sambil ditemani lampu redup dan telinga yang acuh karena tidak menggubris tukang popcorn XXI, membuat penulis berkata dalam hati ‘parah nih filmnya keren’. Kenapa demikian? Karena film yang disutradarai Lee Unkrich dan Adrian Molina sukses mengawinkan genre Animasi serta Musik secara akur dan harmonis.

Apalagi balutan grafis khas Disney yang semakin membuat penonton tercengang, sekaligus membuat setiap mata akan melewatkan satu detik pun dalam setiap adegan. Cerita yang dikemas pun bisa membuat sulit ditebak. Banyak lucunya, padat juga porsi harunya.

Miguel, anak yang terlahir dari keluarga pembuat sepatu yang membenci musik, keluarganya percaya musik menjadi kutukan berpuluh-puluh tahun. Ini yang membuat dirinya harus menemukan pencerahan agar bakatnya tersalurkan. Serta menjadi musisi seperti idola legendarisnya Ernesto de La Cruz. Petualangannya semakin menarik ketika ia memasuki kehidupan sesudah mati.

Tulisan ini tidak akan membuat resensi atau spoiler, silakan menonton film tersebut dengan rasa gembira dan penuh penghayatan. Karena film ini tidak akan membuat jenuh, tidak rugi menonton jauh-jauh, ataupun tidak tertarik menunggu film di situs nonton streaming kesayanganmu.

Miguel mengajarkan bahwa keluarga adalah segalanya, serta hidup beriringan dengan musik. Miguel salah satu penggemar berat Ernesto de La Cruz, sama seperti kerja jurnalisme musik, pada awalnya jurnalisme musik lahir dari fans musik itu sendiri, atau yang sering disebut fans yang tercerahkan (Gudmondsson, G, Lindberg. Turning Points in British Rock Critism. 2002), karena musik juga sebagai sarana informatif dan menghibur. Media pers kita lebih banyak memuat musik-musik hiburan seperti musik dangdut, pop dan rock (Munsyi, Alif Danya, Bahasa Menunjukan Bangsa. 2005).

Baca juga:  UIN Bandung Terima 3011 Mahasiswa Baru Jalur Ujian Mandiri

Seiring dengan bertambah dewasanya industri musik, membuat rasa haus akan informasi musik itu kian dibutuhkan. Penyaluran menulis soal musik tidak melulu harus melalui gerbang “media mainstream”, tapi non-jurnalis pun bisa melakukannya. Era konvergensi media seperti sekarang dirasa ampuh dan variatif karena banyaknya media alternatif online yang jadi pilihan. Walaupun sebenarnya tidak ada pure majalah yang kontennya berisikan musik keseluruhan, ada juga tulisan soal entertaintment dan lifestyle beriringan disana, tapi dengan cara itulah prinsip co-evolusi agar media tersebut mampu bertahan.

Beberapa media musik mampu bertahan dan tetap dengan strategi masing-masing, bahkan Rolling Stones, Trax, HAI juga membuat online guna mempertahankan eksistensinya. Prinsip konvergensi media diarasa cocok untuk nafas para media musik sekarang, ada juga yang menjodohkan jurnalisme musik dengan teknologi media seperti youtube, berita online dan media sosial.

Sama seperti ucapan front man The SIGIT, Rekti Yoewono,  mendengarkan musik mau itu dengan beraliran baru ataupun band yang tidak pernah terdengar lagunya, membuat banyaknya referensi dan wawasan bermusik. Mungkin aku tidak akan pernah tau band yang sedang menjalani tournya di Indonesia seperti Devil Electric asal Australia, yang bergenre Doom dan berhasil memainkan riff-riff ala Black Sabbath dengan apik kalau bukan dari media sosial Instagram.

Menurut Idhar Resmadi dalam makalahnya berjudul Jurnalisme Musik di Indonesia, Nyatanya peran internet dirasa ampuh dalam praktik informasi jurnalisme musik di Indonesia. Kini media musik tidak hanya ditemukan dalam media cetak seperti majalah ataupun tabloid saja, ada juga melalui media streaming radio, video streaming dan webzine.

Semua bisa menjadi seorang jurnalis musik berkat pesatnya internet, kemudahan dalam mengakses internet tidak membuat semua orang harus berada dalam satu institusi pers serta menulis dan meliput pemberitaan musik. Munculnya blog-blog online menjadikan gairah baru untuk menulis musik, para penulis “non-jurnalis” seolah-olah mengembalikan kekhasan bahwa menulis musik untuk orang yang memiliki passion dan antusias dalam musik itu sendiri.

Baca juga:  Beberes Bandung Ajang Warga Bandung Kerja Bakti Akbar

Setiap kelompok musik punya pesan yang ingin disalurkan untuk pendengarnya. Contohnya siapa yang tidak kenal band cadas paling disegani beraliran grind core, Rajasinga, dalam lagunya berjudul ‘Masalah Kami di Negeri Ini’ bercerita soal masalah kesenjangan sosial, politik, pemilik modal dan masih banyak lagi yang tersirat sambil dibalut dengan drum yang padat. Jauh dari itu, Mondo Gascaro pun mencoba menyampaikan hal penuh penghayatan di lagu ‘Dan Bila…’.

Benar kata Arian13, yang asalnya mengkonsumsi musik hanya lewat platform digital seperti Joox, Spotify ataupun Bandcamp. Ketika menonton idola kesayangannya di gigs play secara langsung, dengan orang yang ingin menonton itu pula, energinya akan terasa serta berbeda rasanya ketika menonton langsung, dan bakal terus menonton di pagelaran gigs-gigs selanjutnya.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas