Kampusiana

Festival Islam Cinta, Hadirkan Cinta dan Damai

Founder Peace Generation, Irfan Amalee, memaparkan materi di acara Festival Islam Cinta di Aula Anwar Musadad, Selasa (19/12/2017). Acara ini digelar oleh Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum (PMH) yang bekerjasama dengan komunitas Gerakan Islam Cinta, Peace Generation dan komunitas Youth Interfaith Peace Camp (YIPC). (Siti Elva / Suaka)

 

SUAKAONLINE.COM – Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum (PMH) bekerjasama dengan komunitas Gerakan Islam Cinta, Peace Generation dan komunitas Youth Interfaith Peace Camp (YIPC) menyelenggarakan Festival Islam Cinta. Festival yang bertajuk “Risalah Cinta dan Kebahagiaan Millennial” digelar di Aula Anwar Musadad, Selasa (19/12/2017). Acara ini bertujuan untuk mengurangi tindakan intoleran khususnya di Jawa Barat.

Menurut Ketua Pelaksana, Purna Aditya Irawan mengatakan acara ini diselenggarakan karena masih banyaknya kasus intoleran. Setidaknya bisa mengurangi agresi orang-orang yang intoleran. “Semoga acara ini bisa memberikan dampak yang baik, orang-orang terinspirasi dari acara ini dan lebih banyak lagi orang-orang yang peduli terhadap isu-isu perdamaian,” ujarnya.

Saat bincang buku Islam itu Ramah bukan Marah, Irfan Amalee yang merupakan alumni dari IAIN Bandung menjelaskan bahwa rasa dendam yang dimiliki seseorang bisa menghancurkan dirinya sendiri. Ia memberikan gambaran perbandingan antara Zimbabwe dengan Afrika. “Kenapa Afrika tidak hancur sedangkan Zimbabwe malah mengalami kemerosotan mata uang yang jauh?” tanyanya.

Menurut Irfan karena orang-orang Zimbabwe masih menyimpan dendam untuk orang-orang kulit putih, sehingga mereka mengusir orang kulit putih saat mereka merdeka. Berbeda dengan orang Afrika yang menerima orang kulit putih dan membangun negara bersama. Karena itulah Irfan mengatakan dalam judul bukunya bahwa Islam itu Ramah bukan Marah. Artinya tidak ada yang buruk dari Islam. “Keindahan Islam hanya tertutup oleh orang Islam itu sendiri,” ujar Founder Peace Generation ini.

Baca juga:  ARUNIKA

Menurut Penduduk asal Amerika, Eric Lincoln, memaafkan itu tidak sama dengan melupakan. Memaafkan tidak harus menunggu hati hingga reda, melainkan harus dimulai saat hati masih bergejolak. “Memaafkan itu butuh proses, tapi proses memaafkan itu harus memutuskan kepahitan dan kebencian,” tutupnya sambil mengakhiri sesi bincang buku.

Rangkaian acara dari kegiatan ini pun beragam, mulai dari talkshow, seminar, lomba baca puisi, pameran, bazar, musik, puisi, tari, launching dan bincang buku, hingga workshop.

 

Reporter : Indah Rahmawati

Redaktur : Dadan M. Ridwan

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Festival Islam Cinta, Hadirkan Cinta dan Damai – PERBANDINGAN MADZHAB UIN BANDUNG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas