Lingkungan dan Kesehatan

Dampak Bahaya Asbes Bagi Masyarakat

 

Firman Budiawan, salah satu tim advokasi dan jaringan tengah memaparkan bahaya asebes bagi masyarakat, di Kantor Walhi Jawa Barat, Cikutra Baru, Bandung, Senin (18/12/2017). (Puji Fauziah/Suaka).

SUAKAONLINE.COM – World Health Organization (WHO) telah menyatakan bahwa asbes bersifat karsinogen atau penyebab penyakit paru-paru. Tidak hanya itu, penyakit yang disebabkan oleh asbes yang lain adalah asbestosis, mesothelioma,kanker laring, dan kanker ovarium.

Hal tersebut disampaikan melalui diskusi yang diselenggarakan oleh Indonesia Ban Asbestos (INA-BAN) yang bekerjasama dengan Wahana Lingkungan dan Hidup (Walhi) Jawa Barat, di Kantor Walhi Jawa Barat, Jalan Cikutra Baru X, Bandung, Senin (18/12/2017).

Salah satu tim advokat dan Jaringan INA-BAN, Firman Budiawan mengatakan bahwa setiap tahunnya 90 ribu penduduk di seluruh dunia meninggal dunia akibat penyakit yang berhubungan dengan asbes yang disebabkan oleh pajanan pekerjaan.

Saat ini ada 65 negara yang melarang secara keseluruhan atau secara parsial penggunaan asbes. “Seperti kanada secara tegas negaranya melarang secara tegas penggunaan asbes di negaranya, tapi karena Kanada punya tambang Asbes disana jadi dia masih menambang dan mengekspor ke luar negara, namun di negaranya ia menyatakan bahwa asbes tersebut berbahaya,” papar Firman.

Selanjutnya Firman mengatakan bentuk dari partikel asbes ketika melihat debunya memang halus, tapi ketika di zoom oleh alat medis itu  tajam, dan ketika terhirup itu akan menempel pada saluran pencernaan dan pernafasan.

Serat asbestosis dapat terinhalasi masuk ke dalam parenkim dan bila tersimpan dan tertahan di sana, makan akan berkembang menjadi fibrosis interstisial dan alveload yang difus dan bersifat permanen. Resiko mesothelioma berkaitan dengan kadar pajanan terhadap debu asbes. “Setelah paparan asbes, biasanya membutuhkan waktu antara 10 sampai 30 tahun sebelum gejala mesothelioma berkembang, dan prognosis mesothelioma buruk, kemampuan hidup penderita rata-rata 12 sampai 48 bulan semenjak diagnose ditegakkan,”

Asbestos telah digunakan di Indonesia sejak tahun 1959 dengan 97% bahan bahan baku asbestos di Indonesia digunakan untuk produk atap, semen plafound dan partisi sedangkan sisanya untuk gasket dan rem atau kopling kendaraan. Menurut data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), 2012-2015 jumlah import asbes ke Indonesia sejak 2007 sampai 2012 mengalami kenaikan dari 74% sampai 162%, namun di tahun 2015 impor asbes ke Indonesia turun di angka 120%.

Dalam Keppres No. 22/1993 menyatakan bahwa asbestosis, kanker paru dan mesothelioma dikategorikan sebagai penyakit akibat hubungan kerja. “Namun kebijakan pembatasan impor asbes belum diterapkan di Indonesia,” katanya.

Menurutnya Jawa barat masuk dalam peringkat ke-7 dari 10 daerah pengkonsumsi atap asbes terbesar di Indonesia, dengan jumlah pemakaian di perkotaan dan pedesaan sebesar 10,54%. Menurut data BPS, pusat kota menjadi konsumen terbesar dalam pemakaiann asbes.

 

Reporter : Puji Fauziah

Redaktur : Hasna Salma

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas