Kampusiana

Abraham Samad: Korupsi, Genosida Peradaban Penghancur Generasi

Ketua KPK Periode 2011-2015, Abraham Samad sedang memaparkan sosialiasi anti korupsi dalam acara seminar motivasi yang bertajuk ‘Spirit of Indonesia ‘. Acara yang diadakan oleh Kami Indonesia yang bekerja sama dengan Dewan Mahasiswa (Dema) FISIP dan HMJ Tasawuf Psikoterapi diadakan di Aula Anwar Musaddad, Senin (12/2/2018). (Siti Elva/Suaka).

 

SUAKAONLINE.COM- Menghadapi pembangunan pada  era milenial, Kami Indonesia yang merupakan Non Profit Goverment Organization, bekerja sama dengan Dewan Mahasiswa (Dema) FISIP dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Tasawuf Psikoterapi (HMJ-TP) menggelar seminar motivasi.  Acara yang bertajuk ‘Spirit of Indonesia’ diadakan di Aula Anwar Musaddad, Senin (12/2/2018) dengan  menghadirkan Ketua Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) periode 2011 – 2015, Abraham Samad, Direktur Pindad periode 2014-2016 Silmy Karis, dan Ketua Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf.

CEO Kami Indonesia, Asri Hanas dalam sambutannya menegaskan bahwa acara ini merupakan upaya melibatkan langsung generasi muda terhadap pembangunan Indonesia. Meskipun masih berumur tiga bulan pembentukannya, dalam acara ini Kami Indonesia berharap pemuda membangun bangsa dengan benar untuk kepentingan masyarakat dan memberikan spirit terhadap Indonesia.

“Indonesia sekarang yang merupakan generasi milenial dan generasi Z selalu bergantung pada  teknologi. Zaman yang serba instan ini mestinya menjadikan generasi yang aktif dan produktif serta mampu menjunjung sikap nasionalisme, nilai – nilai yang terkandung dalam UUD 1945  dan Pancasila yang sanggup mewujudkan generasi emas,” tambahnya, Senin (12/2/2018).

Ketua KPK 2011 – 2015, Abraham Samad dalam pemaparan sosialisasi anti korupsinya mengatakan bahwa 100 tahun ke depan Indonesia memiliki cita-cita menghasilkan generasi emas. Hanya saja yang masalah yang kini menghadang adalah masalah peradaban. Menurutnya, korupsi adalah genosida peradaban dan kejahatan luar biasa untuk menghancurkan generasi. Korupsi tumbuh karena sistem yang buruk, juga karakter moral yang merosot dan seringnya melakukan kecurangan.

Baca juga:  Turnamen Pramusim itu Fana, Kompetisi Resmi yang Abadi

“Sebelum memberantas korupsi kita harus mengetahui korupsi, dan motif-motifnya terlebih dahulu. Ada dua motif seseorang berlaku koruptif yang pertama corruption by need karena penghasilan tidak mencukupi kebutuhan hidup dan yang kedua keserakahan atau tamak,” ujarnya.

Abraham Samad pun mencontohkan bahwa Corruption by need  seperti penilangan, dimana polisi menerima suap hanya sekedar 50 ribu atau 100 ribu karena memang gaji tidak memenuhi kebutuhan. Sedangkan contoh yang  menunjukkan keserakahan adalah pejabat –  pejabat tinggi yang  korupsi. Dari segi penghasilan yang didapat sudah tergolong memadai, cukup untuk memenuhi kebutuhan tetapi karena  gaya hidup yang arus dilengkapi  mereka tetap melakukan tindak korupsi.

“Cara mencegah perilaku korupsi ada tiga. Pertama, dengan penindakan represif di mana koruptor ditangkap lalu diselidiki kemudian dijebloskan ke penjara. Kedua, fase pencegahan, dimana memperbaiki sistem tata kelola di seluruh lembaga dan instansi agar tidak menghasilkan kegiatan korupsi. Dan ketiga, membentuk generasi muda yang  berintegritas sehingga generasi emas dapat terwujud,” pungkasnya.

Ketua KPK periode 2011-2015, Abraham Samad  menegaskan  jika ingin menciptakan negara tanpa korupsi bisa dengan pendidikan yang berbasis nilai-nilai integritas. Hal seperti itu harus diberikan pada generasi muda bukan saja soal faktor kognitif, tetapi menggaris bawahi juga perihal pendidikan karakter  yang bisa dilakukan didua tempat informal dari SD sampai perguruan tinggi, dan pendidikan di dalam keluarga.

 

Reporter: Anisa Dewi Anggri Aeni/ Suaka

Redaktur: Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas