Pendidikan dan Budaya

Tetap Memberi Meski Terdiskriminasi

Foto bersama Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) dengan Jemaat Ahmadiyah, di Masjid An-Nashir, Astana anyar, Bandung, pada Minggu, (25/2/2018). Kegiatan ini bertujuan untuk berdialog langsung dan mengenal kelompok Ahmadiyah, serta melatih keterampilan menulis reportase keberagaman. (Dok. Sejuk)

SUAKAONLINE.COM- Lelaki berkaos putih kusam itu menghampiri sambil mempersilahkan mengitari masjid seraya rumah sendiri. Tak banyak yang ia ucapkan, hanya perkataan senang dibarengi senyuman. Seraya menjabat tangannya yang erat, wajahnya kali ini lebih familiar, jenggot dan kumisnya akan mengingatkan kita dengan petinju asal Filipina, Manny Pacquiao.

Dialah Maman Suparman, seorang penganut Ahmadi kepercayaan Ahmadiyah, sekaligus Sekretaris Tabligh di Masjid An-Nashir, Astana Anyar Kota Bandung. Bapak tiga anak tersebut bercerita soal pengalaman hidupnya menjadi seorang Ahmadi, yang tetap menebar cinta ditengah pusaran kebencian.

Maman yang kedua orang tuanya seorang Ahmadi, mengaku pernah terasingkan di daerah kelahirannya, Cibaduyut. Walaupun tetangganya tau ia seorang Ahmadi, Maman mengundang masyarakat sekitar untuk mengikuti pengajian di kediamannya untuk mencoba berdiskusi dan berbagi agar saling terbuka.

“Waktu itu ada yang bilang, katanya syahadat Ahmadiyah beda, kitabnya bukan Al-quran, dan hajinya bukan ke Makkah, akhirnya saya jelaskan apa perbedaan kepercayaan yang saya anut, walaupun tetangga saya juga ada yang seorang Ahmadi,” ujar Maman, Minggu, (25/2).

Tak urung, walau tetangganya masih tendensius soal kepercayaan yang ia anut, lelaki yang bermukim di Bandung sejak tahun 85-an itu mengundang Ustadz setempat untuk mengaji dirumahnya. Setelahnya, Ustadz tersebut tak mempermasalahkan aliran apa yang Maman anut. “Bahkan pas pak Ustadz pulang, ada tetangga yg bilang jangan ngaji di pak Maman, soalnya Ahmadiyah itu kafir, tapi pak Ustadz bilang enggak ada yang beda karena ngajinya sama kaya kita. Sehingga pak ustadznya sendiri yang meluruskan,” tutur seraya meniru kalimat sang Ustadz.

Baca juga:  ARUNIKA

JAI Masih di Diskriminasi

Berdasarkan catatan Setara Institute, sejak 2012 sampai 2015, Jamaah Ahmadiah Indonesia (JAI) menjadi korban pelanggaran hak-hak konstitusional dalam isu keagamaan atau keyakinan dalam 164 peristiwa. Jumlah ini menunjukkan betapa masifnya muslim Ahmadiyah menjadi sasaran intoleransi dan persekusi.

Laporan tahunan Komnas HAM menunjukkan, dari Januari sampai Desember 2016, ada 22 dari 97 pengaduan pelanggaran hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan terhadap JAI. Jumlah itu naik dari 17 pengaduan pada 2015. Data ini menunjukkan persekusi terhadap muslim Ahmadiyah masih jadi masalah serius di bawah pemerintahan Joko Widodo.

Sejumlah riset baik oleh Komnas HAM, Setara Institute, dan Wahid Institute, yang mereka rilis setiap tahun, kerap menyebutkan bahwa pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota lewat aparatur sipilnya, adalah pelaku terbanyak yang melakukan pelanggaran terhadap hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Menebar Cinta dengan Berbagi

Tiga tahun kebelakang, maraknya isu Ahmadiyah muncul ke permukaan media. Bukan hanya itu, Menurut Ketua Cabang Bandung Kulon, Irvan Yanuar, pada tahun 2012, ada tiga kali penyerangan yang kelompok Ahmadiyah rasakan. Pertama, Masjid An-Nashir yang merupakan masjid Ahmadiyah tertua  di Bandung, didatangi kelompok berbaju putih, sekaligus membawa Irfan yang sedang ada di tempat, dipaksa untuk mendatangani surat dengan tujuan untuk tidak mengadakan kegiatan anak-anak di masjid tersebut.

Ditengah pusaran diskriminasi yang diterima kelompok Ahmadiyah, pada tahun 2017, Museum Rekor Indonesia (Muri) menganugrahkan Ahmadiyah sebagai pendonor kornea mata terbanyak di Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Pendiri Museum Rekor Indonesia, Jaya Suparna di Jakarta, (22/7/2017).

Senada dengan Irfan, Mubaligh Wilayah Jabar 5, Danang Prasetyo mengamini Ahmadiyah selalu mengikuti bakti sosial terutama soal kesehatan. Baginya, kelompok Ahmadiyah taat hukum, mengabdi dan bela kepada negara merupakan bagian dari iman. Bahkan Ahmadiyah mendirikan rumah sakit secara gratis di Yogyakarta.

Baca juga:  Beberes Bandung Ajang Warga Bandung Kerja Bakti Akbar

Ahmadiyah Terbuka dan Tidak Ditunggangi Kepentingan

Maraknya politisasi masjid tidak membuat Ahmadiyah khawatir, pasalnya masjid An-Nashir yang didirikan tahun 1948 tersebut bebas dari indikasi politik tertentu. Mubaligh Cabang Bandung Kulon, Maulana Lutfi Julian Putra mengungkapkan, Ahmadiyah bukan organisasi politik dan netral, serta membebaskan jemaat nya untuk menentukan pilihannya. Ia berpendapat bahwa penyerangan yang diterima Ahmadiyah ada unsur kepentingan politik, ekonomi dan kepentingan lainnya.

Sejak didirikannya masjid An-Nashir, menurut Ayo seorang sesepuh Ahmadiyah bernama Abdul Kudus  pernah menjadi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) An-Nashir pada tahun 90-an. Ayo yang menghabiskan masa kecilnya di Bandung Kulon dan menjadi saksi perkembangan Masjid An-Nashir dari dulu hingga sekarang. Menurutnya, dulu Masjid ini didirikan tidak semegah sekarang, sebelum direnovasi pada tahun 1997.

Ayo yang asli Garut tidak merasakan diskriminasi yang dilakukan oleh warga sekitar, menurutnya masjid yang dibangun tahun 1948 tersebut sejak dulu terbuka untuk siapapun, baik jemaat Ahmadiyah atau pun masyarakat luar. “Malahan warga yang bilang masjid ini aktif, banyak orang intelek, mereka merasa senang, itu laporan dari warga.” tutup kakek kelahiran 45 tersebut.

Mengutip ceramah Jalaluddin Rumi yang termaktub dalam buku Fihi Ma Fihi, Rumi berkata bahwa di Tanah Suci Ka’abah sana, dimana pusat doa bermukim dan manusia bermunajat, tak ada ruang untuk membatasi perbedaan – perbedaan antar umat islam. Perbedaan keyakinan dalam menjalankan ibadah, bagi Rumi, itu hanyalah jalan, sedangkan tujuannya tetaplah sama.

“Ketika mereka tiba di Ka’bah, semua perdebatan, pergulatan, dan perbedaan yang ada di perjalanan, seperti ungkapan “Kamu salah! Kamu kafir” yang ditimpali dengan jawaban serupa, semua itu akan lenyap. Setelah sampai disana, mereka segera taju bahwa berbagai pertentangan itu hanya terjadi di jalan, sementara tujuan mereka (tetaplah) sama,” ucap Filsuf Muslim kelahiran Samarkand, Ubzekistan tersebut.

Baca juga:  UIN Bandung Terima 3011 Mahasiswa Baru Jalur Ujian Mandiri

 

Reporter : Rendy M Muthaqin 

Redaktrur : Nizar Al Fadillah

1 Comment

1 Comment

  1. Malik abdul hakim

    1 Maret 2018 at 17:47

    Berita bang rendy rmang terbaik atuh. Keren abis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas