Pendidikan dan Budaya

Krisis Kenyamanan, Kebebasan Beragama Terancam

Caption foto : Sejumlah jemaat Gereja Kristen Pasundan (GKP) sedang menyanyikan lagu persembahan pujian sebagai ucapan syukur kepada Tuhan di GKP Minggu, (25/2/2012) Kebon Jati Bandung. (Annisa Dewi A/Suaka)

SUAKAONLINE.COM-Penyerangan di Parung, Bogor 2005  ketika  Jemaat Ahmadiyah menggelar acara Jalsah atau pertemuan tahunan daerah, rupanya masih terekam jelas dalam memori salah satu korban.  Adalah Nina Syafwan, seorang Ibu rumah tangga yang ada di lokasi ketika peristiwa itu terjadi.  “Kami kan sedang duduk tiba- tiba banyak suara teriakan, sontak orang–orang panik  mencari anak–anaknya karena ada segerombolan orang berjubah putih menyerang” jelas Nina sambil mempraktikan kepanikanya, Rabu(26/2/2018) di Lantai 1 Masjid An – Nasir, Astaanyar Bandung.

Tak berhenti di tahun 2005, Mubaligh cabang Bandung Kulon, Luthfi Julian Putra menjelaskan, saat Serikat Jurnalistik untuk Keberagaman (Sejuk) berkunjung ke Masjid An–Nasir, penyerangan terjadi pula pada tahun 2012. Sebanyak tiga kali masjid itu menjadi sasaran oleh segerombolan orang berjubah putih. Penyerangan pertama terjadi ketika sedang berlangsung kegiatan pengajian anak- anak. lantas  ketua Cabang Bandung Kulon, Irvan Yanur   dibawa dari masjid Polsek  untuk diminta tanda tangan, demi keamanan anak – anak akhirnya ia mau menandatangani.

Kedua pengaman diperketat dengan adanya  beberapa dari Polsek yang datang ke masjid  menjaga supaya tidak terjadi lagi. Orang–orang berjubah putih mendekati masjid kembali yang hanya di respon oleh Polsek setempat dengan kalimat “Sudah aman”.  Ketiga Penyerangan selanjutnya terjadi pada malam Idul Adha.  Segerombolan  orang berjubah putih merusak fasilitas dan membawa salah satu diantara mereka ke Polsek, kedua kali  diminta tanda tangan lagi.

“Lembaran yang diminta untuk ditandatangani adalah kertas kosong, saya dipaksa menuliskan agar ditiadakanya  kegiatan Idul Qurban esok harinya, kurang lebih seperti itu” jelasnya. Ia juga menambahkan  ini benar–benar didiskriminasi. Ahmadiyah, tutur Lutfi, dianggap bukan Muslim , dianggap antek – antek Inggris. Dan ncaman dilontarkan apabila Lutfi tidak menandatangani lembar itu dalam waktu 20 menit masjid akan di rusak.  Ia tidak bisa mengambil keputusanya karena memang bukan wewenangnya.

Tidak ada keputusan  yang jelas saat itu, namun masjid lagi–lagi menjadi sasaran untuk melakukan penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah. Barulah Polsek menurunkan pasukanya untuk menghentikan tindakan represif dari yang berjubah putih.  Meski sudah digempur segala macam bentuk diskrimansi dan penyerangan, tak ada niat untuk membalas dendam justru mereka tetap berdakwah mengingat motto Ahmadiyah adalah love for all hurted for none.

Menilik bahwa tujuan utama didirikan Ahmadiyah adalah menghidupkan kembali agama dan menjalankan syariat serta mengembalikan individu pada jalan Tuhan. Hujatan yang seringkali mamprang di media sosial bukan tidak mereka tanggapi, namun mereka lebih memilih untuk mendoakan dan fokus pada kegiatan sosial seperti bakti sosial, pengobatan gratis, bazar murah yang berasal dari barang–barang yang sudah tidak terpakai dan dijual dengan harga minimal 15 ribu.

Meski sudah tidak ada lagi penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di Masjid An-Nasir tidak lantas membuat mereka tenang. “Saya rasa kebebasan beragama di Indonesia sudah tidak aman terutama sesama mulim sendiri harusnya lebih toleran, saya sekarang melihat orang berkopyah putih jadi takut,” ujar Nina sambil membenarkan jilbab hijau yang dikenakanya.

Tak Hanya Ahmadiyah

Tidak hanya Jemaat Ahmadiyah yang diserang, Gereja Kristen Pasundan (GKP) pun menjadi salah satu objek penyerangan. “Kami pernah di serang dan mereka mengatasnamakan golongan tertentu lalu kami mengadakan musyawarah apa yang mereka cari dan ternyata penyerangan yang dilakukan justru berasal dari daerah jauh. Untungnya  masyarakat sekitar membela, ” jelas Ida selaku pengurus gereja GKP tersebut.

Pun, sejalan dengan Nina, salah satu Jemaat Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Kebonjati, Hany Juliani mengalami keluhan yang sama perihal kebebasan beragama. “Dulu ketika saya paskah tidak ada penjagaan apa-apa dari polisi, tapi kok sekarang dijaga,memang kita kenapa? Toh kita Cuma merayakan paskah nggak akan ngapa ngapain. Ya mungkin itu bentuk fasilitas kepedulian dari  negara karena sekarang sudah tidak aman”ujar perempuan berkacamata saat ditemui selepas sembahyang.

Ia juga menyebutkan bahwa isu SARA yang sedang berkembang, dihidupkan oleh orang–orang yang tidak bisa menerima perbedaan dan kebhinekaan. Ada oknum  yang ingin sengaja merusak keberagaman itu. Selain pemahaman agama yang belum mendalam penyebab intoleransi adalah wawasan yang tidak terbuka sehingga mudah untuk disusupi hal-hal yang memancing.  Mengamini pernyataa Hany, Ida menerangkan perihal intoleransi bahwa kita memiliki  pancasila terutama sila pertama kalau kita benar-  benar ingin menjalankannya, tidak akan ada perpecahan atau kecurigaan satu dengan yang lainya.

 

Reporter : Annisa Dewi A

Redaktur : Nizar Al Fadillah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas