Kampusiana

SGD Violin, Rasa Baru Musik UIN Bandung

Yaumil Fatia dan empat orang lainnya yang tergabung dalam komunitas SGD Violin tengah melakukan latihan untuk mengisi event Resital XXXI PSM UIN SGD Bandung di Gedung Studen Center (SC) lantai tiga, Kamis (1/2/2018). (Yosep Saepul Ramdan/ Suaka).

 

SUAKAONLINE.COM Sayup-sayup terdengar musik instrumen film Pirates of The Carabbean keluar dari gesekan bow dan biola. Yaumil Fatia dan empat orang lainnya terlihat asik menggesek biolanya, sambil sedikit berdiskusi menanyakan not dan ketukan yang pas. Riuhnya Student Center tak menyurutkan semangat mereka untuk terus berlatih dan mengasah kemampuan menggesek senar-senar biola itu.

Berawal dengan tiga orang yang memiliki hobi sama dan intens latihan bareng, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Tegar dan dua temannya kian menarik minat banyak orang. Sehingga pada Juli 2017 terbentuklah sebuah komunitas yang dinamai SGD Violin. Kini komunitas yang belum genap satu tahun itu telah beranggotakan sekitar 28 orang.

Salah seorang anggora SDG Violin, Ubaidillah Cahya Eka menceritakan awal ketertarikan dirinya menggandrungi alat musik ini. Berawal dari ungkapan seorang tokoh yang mengatakan bahwa keindahan dunia itu salah satunya terdapat pada gesekan pertama biola. Dari ungkapan itu pria yang kerap disapa Uce ini menjadi penasaran dan mulai menyukai alat musik ini.

“Pada awal mencoba masih kekerekekan, tapi seiring proses lama-lama semakin sering latihan alhamdulillah bisa,” papar mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika itu, Kamis (1/2/2018).

Berdeda halnya dengan Yaumil Fatia, dia sedari awal memang sudah menyukai alat musik gitar. Namun seiring berjalannya waktu Fatia merasa gitar sudah menjadi alat musik mainstream, sehingga dia mulai tertarik dengan alat musik gesek ini. Baginya, seorang wanita yang bisa bermain biola terlihat anggun dan keren.

Baca juga:  UIN Bandung Jembatani Peluang Kerja Mahasiswa dengan UPT Pusat Karir

“Bermain biola itu berbeda dengan bermain gitar. Main biola itu akan terasa hambar jika bermain sendirian, namun jika bermain bersama maka akan muncul nada-nada yang enak. Makanya main nada biola ketika bareng-bareng itu feelnya harus dirasain, jadi ga bisa main sendiri,” papar mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik itu.

Komunitas yang sedang fokus latihan untuk mengikuti beberapa even ini memiliki cita-cita besar dimasa mendatang. Dimana komunitas ini menginginkan anggota dengan kemampuan bermain musik yang berbeda. Sehingga kedepan komunitas ini bisa menjadi sebuah grup orkestra.

Komunitas SGD Violin yang tergabung dalam Alliance Violin Community (AVC) ini, rutin melakukan  latihan setiap hari Sabtu di Tugu Kujang, depan Aula Anwar Musaddad. Perkumpulan ini tidak dikhususkan untuk mahasiswa UIN saja, dengan lengan terbuka komunitas ini memperbolehkan siapa pun yang ingin ikut bergabung, bersama-sama belajar dan mengasah skil bermain alat musik ini.

 

Reporter: Yosep Saepul Ramdan

Redaktur: Elsa Yulandri

 

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas