Pendidikan dan Budaya

Generasi Millineal Dituntut Bijak Gunakan Internet

Wakil Ketua ISKI Pusat, Ade Karisman sedang memaparkan materi dalam acara Seminar Komunikasi di Gedung Abdjan Sulaiman, Sabtu (3/3/2018). (Dhea Amellia/Magang)

SUAKAONLINE.COM – “Generasi millineal harus cerdas dalam menggunakan internet,” ucap Wakil Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Pusat, Ade Kadarisman salah satu pemateri dalam acara Seminar Komunikasi di Gedung Abdjan Sulaiman, Sabtu (3/3/2018). Acara yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) Cabang Bandung Raya ini memiliki tema “Peran Generasi Millenial di Era Digital” . Selain Ade Karisman, acara ini juga dihadiri oleh pemateri lain diantaranya Ketua Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kota Bandung, Ahyani Raksanagara dan Anggota KPU Kota Bandung, Akhmad Roziqin.

Ketua pelaksana, Hendi Supriatna menuturkan, pemilihan tema ini dimaksudkan agar kedepannya mahasiswa khususnya mahasiswa komunikasi mampu berkontribusi dilingkungan masyarakat sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki. Dirinya menjelaskan tujuan utama diadakannya seminar yang merupakan salah satu rangkaian acara dalam kegiatan musyawarah cabang ini, mampu meningkatkan tali silaturhami antar kampus yang ada di Jawa Barat.

Wakil Ketua ISKI Pusat, Ade Kadarisman menuturkan, pada masa kini generasi muda masuk pada fase pengguna. Pada fase ini, teknologi dan informasi dapat berkembang dengan cepat sehingga memungkinkan seseorang  dapat menjangkau dunia tanpa batas. Selain itu, hal ini dapat berdampak pada lahirnya beragam profesi baru yang berbasis daring.

Ade juga menuturkan, generasi millineal tidak bisa dipisahkan dari internet, karena Indonesia pada tahun 2013 – 2018  menduduki peringkat ke-6 pengguna internet tertinggi di dunia dengan jumlah sekitar 123 juta pengguna. Pengguna internet tersebut umumnya berusia 18-24 tahun serta 25-34 tahun yang memasuki fase produktif dan usia emas.

Baca juga:  Menulis sebagai Jalan Mengawal Realita Sosial

Diakhir pemaparannya Ade menyampaikan, peran generasi muda selaku agen perubahan harus bisa cerdas dalam menggunakan internet. Internet harus dimanfaatkan secara baik dan positif, seperti untuk menyebarkan kebaikan dan pengetahuan. Selain itu, internet juga harus dijadikan ajang untuk jemput bola dalam meningkatkan bakat dan kemampuan. Kemudian harus mampu menyaring informasi yang tidak tepat, serta perlu adanya penetrasi pengguna atau penyesuain dalam menggunakan internet. “Generasi muda harus bisa memilah, memilih serta menyebarkan infomarsi dengan tepat,” tuturnya.

Sedangkan Ketua Diskominfo Bandung, Ahyani Raksanagara memaparkan, pada zaman sekarang ini setiap orang tidak bisa jauh dari handphone. Terlepas dari hal tesebut peran pemerintah sebagai regulator, dinamisator dan fasilitator harus mampu mengimbangi kondisi yang ada saat ini. Melalui situs website www.bandung.go.id  pemerintah Kota Bandung mencoba untuk merealisasikan perannya dengan sistem digital yang saat ini tengah berkembang.

Pemateri selanjutnya yakni anggota KPU Kota Bandung, Akhmad Roziqin, menuturkan bertapa  pentingnya peran generasi muda dalam menentukan pemimpin daerah. Peserta seminar yang hadir umumnya merupakan generasi Z, yaitu orang yang lahir pada tahun 1995 – 2010 ini masuk dalam kelompok pemilih pemula. “Kalau misal 30% netral gak milih saat pemilu gimana kan lumayan juga, jadi generasi Z seusia kalian yang termasuk salah satu kategori pemilih pemula punya pengaruh besar,” tuturnya.

Akhmad juga menyampaikan, di era digital saat ini generasi muda bisa lebih mudah menggali informasi dengan menggunakan internet. Meskipun generasi muda tidak bisa ikut aktif dalam pemilu menjadi panitia atau pelaksana, setidaknya bisa berperan pasif melalui ikut serta memilih saat pelaksanaan.

Salah satu peserta seminar dari Telkom University Bandung, Fakhri, mengungkapkan bahwa acara ini sangat positif terutama bagi insan komunikasi agar tidak terjadi kesalahan dalam komunikasi. “Acara ini bagus dan positif sih, soalnya kan mulai dari bangun sampai tidur kita ada komunikasi, jadi bahaya kalau misal sampai jadi salah kaprah dalam komunikasi,” ungkapnya.

Baca juga:  UIN Bandung Terima 3011 Mahasiswa Baru Jalur Ujian Mandiri

Reporter : Dhea Amellia/Magang

Redaktur : Nizar Al Fadillah

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas