Kampusiana

Menyikapi Permasalahan Perempuan, WSC Gelar Bedah Buku

UKM Women Studies Center menyelenggarakan acara bedah buku Leila Khaled dalam rangka Pra- International Women’s Day di bawah pohon rindang UIN SGD Bandung, Rabu (7/3/2018). Selain menghadirkan penerjemah buku, Pradewi Tri Chatami (kiri), juga mendatangkan aktivis perempuan, Linda Sudiono (kanan). (Siti Ressa/Magang)

SUAKAONLINE.COM – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Women Studies Center yang bekerja sama dengan Rumah Diskusi, Sastra Rakyat, Kopri, Kohati, LPIK dan juga dari Himpunan Mahasiswa Jurusan lainnya menyelenggarakan bedah buku karangan Sarah Irving yang berjudul Leila Khalid,  dalam rangka menyambut International Women’s Day (IWD) Rabu (7/3/2018). Bedah buku ini menghadirkan dua pemateri yaitu Pradewi Tri Chatami, sebagai penerjemah buku dan juga seorang aktivis perempuan bernama Linda Sudiono.

Ketua pelaksana Pra-IWD, Sri Nursyifa mengatakan bahwa tujuan mengangkat tema “Manifestasi Pejuang Perempuan Revolusioner” dan membedah buku ini adalah refleksi diri bahwa perempuan tidak melulu mengurus soal domestik saja. Akan tetapi bisa bergerak dan terjun langsung ke masyarakat seperti yang dilakukan Leila Khaled.

“Ya sebagai salah satu refleksi diri buat kita bahwa perempuan itu tidak melulu mengurus soal domestik atau sumur, dapur, dan kasur. Tapi kita juga bisa loh bergerak turun tangan ke masyarakat kaya Leila Khaled. Ikut politik iya, perang sampai membajak pesawat juga,” tegasnya

Ia pun menambahkan bahwa dengan adanya acara ini, ia berharap perempuan di Indonesia lebih maju dalam hal intelektual, berani terjun ke masyarakat langsung dan masuk ke ranah pemerintahan yang saat ini masih didominasi oleh laki-laki. Sehingga adanya kesenjangan antara perempuan dan laki-laki pun lebih dilihat dari perspektif laki-lakinya saja dikarenakan kurangnya minat dan kesempatan bagi perempuan untuk masuk ke ranah tersebut.

Baca juga:  Aniva Kusumawardani : Ciptakan Puisi dan Mensyukuri Makna Kehidupan

Pada pembahasan bedah buku, Pradewi Tri Chatami yang akrab disapa Che menjelaskan, dalam buku tersebut disebutkan bahwa awal mulanya Leila Khaled tergabung dalam Partai Komunis Palestina dan menjadi seorang Kombatan. Kemudian seorang pemimpin Partai Komunis Palestina, John Abbas, memintanya untuk pindah ke Partai Perempuan Serikat Palestina. Ia sempat menolak karena sebagai seorang prajurit dan membahas isu-isu perempuan bukan kapasitasnya. Namun dikarenakan ia taat terhadap partai maka akhirnya dia patuh terhadap perintah tersebut.

Selanjutnya, setelah Leila Khaled bergabung dengan Partai Perempuan Serikat Palestina, ia mulai menyadari bahwa ada masalah yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui mengenai perempuan di Palestina. “Dari bergabung dengan serikat perempuan itu akhirnya ia mengetahui ada banyak nuansa masalah dalam kehidupan perempuan Palestina pada umumnya. Misalnya bahwa perempuan ini bisa bekerja dan mobile tapi tidak bebas untuk memilih pasangan,” paparnya

Akar Permasalahan Perempuan di Indonesia

Seorang aktivis perempuan, Linda Sudiono berpandangan bahwa perlunya melihat akar permasalah perempuan khususnya dalam konteks Indonesia dan bagaimana analisa gerakan perempuan di Indonesia. Dalam analisanya, persoalan pertamanya adalah ketika runtuhnya kerajaan Majapahit menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang menyebabkan terpecahnya tenaga produktif di Indonesia (alat produksi, sasaran kerja dan tenaga kerja). Akibatnya, tidak terpusatnya tenaga produktif Indonesia.

Selanjutnya, kapitalisme masuk ke Indonesia dan diterapkannya politik etis ada irigasi edukasi dan transmigrasi. Kemudian memaksa tenaga produktif khususnya tenaga kerja di Indoneisa untuk bisa berkembang agar bisa mengimbangi perkembangn alat produksi dan teknologi. Akan tetapi karena akumulasi produksinya di bawa ke Eropa dan dikuasai pemodal Hindia Belanda, maka produksi di Indonesia tetap tidak berkembang, akhirnya borjuis di Indonesia adalah transformasi dari para priyayi.

Baca juga:  Hadiri Santriversary 2018, Jokowi Ajak Santri Rawat NKRI

Ia pun berpandangan bahwa sistem ekonomi di Indonesia adalah kapitalisme, akan tetapi  masih ada sisa-sisa feodalisme dalam kehidupan budayanya. Kemudain berdampak pada posisi perempuan di Indonesia yang membedakan persoalan dengan perempuan di negara maju. Karena ketika feodalisme masih tersisa di Indonesia, budaya seksisme dipertahankan. kemudian stigma atau stereotype negatif tentang perempuan pun dipertahankan.

“Budaya seksisme dipertahankan, pun dengan stigma atau stereotype negatif tentang perempuan. Misalnya, kalau di Jawa Kanca wingking bahwa perempuan adalah teman belakang laki-laki, hanya untuk semacam recovery untuk mengasuh laki-laki yang sudah bekerja di wilayah publik,” jelasnya

Dengan terciptanya persahabatan yang erat antara seksisme dan feodalisme, kemudian dimanfaatkan oleh kapitalisme untuk bisa menekan upah murah kepada tenaga perempuan, menciptakan citra tertentu untuk melariskan produknya, mempertahankan institusi keluarga dan untuk mengaburkan kontradiksi objektif.

Analisis Solusi Permasalahan Perempuan Indonesia

Menurut analisis Linda, bahwa gerakan perempuan saat ini yang harus ditekankan pertama adalah bahwa perempuan bukan kategori sosial. Memperjuangkan pembebasan perempuan menjadi syarat mutlak di semua sektor agar menjadi pembebasan nasional. Maka ia ada di dalam semua sektor, diantaranya buruh, petani, rakyat miskin kota dan sebagainya.

Yang kedua, harus membangun sel kerja perempuan di semua organisasi-organisasi demokratik tujuannya untuk mencegah oraganisasi demokratik yang mayoritas laki-laki. Membebaskan produktifitas perempuan agar bisa bersama dengan laki-laki untuk memajukan peradaban manusia. Oleh karena itu, untuk mengembalikan produktifitas perempuan agar bisa bergerak bersama-sama untuk memberikan dobrakan. Dan laki-laki pun harus berangkat bukan dari kesadaran moralis tetapi kesadaran objektif yang bersifat politis dan ideologis.

 

Repoter : Siti Ressa/ Magang

Redaktur : Muhamad Emiriza

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas