Sosok

Batman Sang Penjaga Sepatu

Wawan Rantiewan (Rizky Syahaqy/Magang)

SUAKAONLINE.COM – Langit mendung menyelimuti Kampus Hijau sore itu. Adzan ashar yang berkumandang membawa langkah kaki semua sivitas akedemika menuju Masjid Iqomah. Di sudut masjid, terlihat laki-laki paruh baya berkacamata, dengan topi warna coklat dan kaos hijau yang dilapisi jaket abu, sedang sibuk melayani Mahasiswa yang menitipkan sepatu kepadanya. Dengan keramahan dipancarkannya, membuat mahasiswa merasa nyaman dan aman menitipkan sepatunya.

Salat ashar selesai, berangsur orang-orang lalu lalang keluar dari pintu masjid dan berkerumun di depan tempat penitipan sepatu. Sang paruh baya, di sudut penetipan, sangat cekatan dan jeli menanggapi kartu nomor dan memberikan sepatu. Tak lupa, senyumnya terus mengalir kepada siapapun. Lewat sunggingan senyumnya, ia seolah tak pernah merasa lelah dengan begitu banyak sepatu yang dititipkan. “Alhamdulillah bapak nggak ngerasa capek, karena Bapak di sini berdasarkan hati  Bapak, ikhlas bapak mah yang penting bisa jaga amanah dan ibadah Bapak jadi lebih baik lagi karena kerja di sini,” ujarnya dengan logat sunda nan kental.

Dia adalah Wawan Rantiewan, yang akrab disapa Wawan Batman. Julukan Batman disematkan ketika dulu, saat ia masih menjadi tukang ojek di Cipadung, ia selalu memakai kacamata hitam dan helm yang menyerupai topeng Batman. Jika hujan, ia selalu mengenakan jas hujan lebar yang  jika tertiup angin, terlihat seperti sayap dari kotstum altar-egonya Bruce Wayne.  Namun ia tak lagi berkendara, kini Batman adalah si relawan penjaga sepatu di masjid Iqomah UIN SGD Bandung.

Batman bertugas menjaga penitipan setiap Senin hingga Jumat sedari pukul delapan pagi sampai empat sore. Namun, ia sering melebihkan jam kerjanya. Misal, setiap hari ia berjaga sampai pukul setengah lima sore, ia juga tetap masuk bekerja di hari Sabtu meskipun hanya sampai waktu zuhur.

Baca juga:  Api Obor Asian Games 2018 Sambangi Bandung, Warga Antusias

“Jadwalnya kan sampai jam empat, tapi bapak lebihin sampai jam setengah lima. Hari Sabtu bapak tetap masuk walaupun bukan jadwalnya, karena di sini masih ada tanggungjawab bapak. Karena bapak di sini bukan sekedar bekerja tapi mau ibadah juga karena bapak kan sudah tua, bapak senang di sini,” tutur Batman.

Ketika disinggung soal gaji, Batman menuturkan bahwa itu bukanlah prioritasnya, karena disini merasa bukan menjadi pegawai, melainkan relawan. “Kalaupun ada paling dari DKM, Pak Bachrun, ngasih dari kotak ini, misalnya ada 50 ribu atau berapa, itu juga Alhamdulillah bapak bisa tabung buat biaya anak sekolah,” ungkapnya sambil menunjuk kotak amal yang biasa diisi oleh penitip sebagai infak.

Salah satu mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Gusti Irawan, mengatakan bahwa dirinya sering menitipkan sepatunya dan merasa nyaman dengan pelayanan Batman. “Bapak itu baik, ramah, dan bagus pelayanannya. Kita juga gak diharuskan untuk memberikan infak, tapi kita juga harus mengapresiasi dengan  memberikan koin-koin yang kita punya,” terangnya setelah mengambil sepatunya dari penitipan. Sama halnya dengan Gusti, mahasiswa Jurusan Biologi, Deden mengaku dirinya senang dengan pelayanan Batman yang selalu tersenyum dan ramah.

Senada dengan kedua mahasiswa tersebut, dosen Ilmu Komunikasi, Cecep Suryana, yang tengah mengambil sandal yang dititipkannya juga memberikan tiga kata untuk Batman. “Bagus, ramah, disiplin. Sudah itu saja,” ucapnya lugas seraya memakai sandal lalu bergegas menuju gedung fakultas.

Juga Pengrajin Hiasan Bambu

Selain menjadi relawan di Masjid Iqomah, Batman juga merupakan seorang pengrajin hia san dari bambu. Hasil karyanya berupa kereta kencana, delman, dan perahu yang biasa ia pajang di pinggir jalan atau di depan rumahnya.

Baca juga:  Belajar Politik Sehat dan Menyehatkan

“Kadang ada yang pesen dulu dateng ke rumah terus nanti bapak buatin. Harganya ya kisaran 50 ribu sampai 250 ribu. lumayan buat nambah penghasilan untuk biaya hidup keluarga,” tutupnya ramah, kemudian melanjutkan pekerjaannya penuh semangat.

Reporter : Rizky Syahaqy/Magang

Redaktur : Nizar Al Fadillah

 

1 Comment

1 Comment

  1. Bagas Kawanmu

    14 Maret 2018 at 18:43

    Ya saya apresiasitulisanmu bagus, namun alangkah lebih baik bila membuang penjelasan penjelasan yang tidak perlu agar akal nalar pembaca dapat lebih mudah menemukan inti topik yang sedang dibicarakan. Walau begitu tetap salut atas penulisannya buat rizky syahaqi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas