Hukum dan Kriminal

Malam Mencekam di Tamansari

(Dok.Pribadi)

SUAKAONLINE.COM- Eva panik. Sepulangnya mengawal sidang gugatan SK DPKP3, ada seorang warga dari RW 6 memberitahu bahwa dirinya mendapat surat sosialisasi akan dimulainya pembangunan Rumah Deret (Rudet) Tamansari dari PT Sartonia Agung, Selasa(6/3/2018).

Dirinya bersama warga penolak Rudet tidak merasa mendapat sosialisasi dari kontraktor yang ber-kop surat PT Sartonia Agung tersebut. “Ya saya panik dong, kita kan sedang proses di PTUN, harusnya dihentikan dulu proses pembangunan Rudet ini,” kata Eva yang merupakan sekretaris RW 11 Tamansari saat ditemui Suaka di Masjid al-Islam Tamasari, Kamis (9/3).

Akhirnya, Eva dan beberapa warga yang menolak Rudet pergi ke PTUN untuk melanjutkan agenda hukum warga RW 11 Tamansari dengan berita acara menggungat Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terkait ketimpangan program Rudet.

Terjadi Pengejaran dan Pemukulan

Salah satu massa solidaritas penolak Rudet, Ega, menuturkan saat itu di waktu yang bersamaan, ketika warga yang menolak Rudet menghadiri persidangan di PTUN, sekitar pukul satu siang, ekskavator yang terparkir di Taman Film bergerak turun ke arah rumah warga. Warga panik, dan sidang di PTUN tidak berjalan sesuai jadwal.

Tidak lama kemudian, ekskavator berhenti karena ada kendala teknis, lalu teknisi mulai memperbaiki ekskavator tersebut. Sejurus kemudian, ekskavator jalan kembali dan bergerak ke bawah. Saat itu aktivis mahasiswa mulai mendokumentasikan pergerakan ekskavator tersebut.

Lalu pihak kontraktor datang mendekati para aktivis mahasiswa. Terjadilah dialog agar kontraktor menghentikan pergerakan alat berat. Dengan nada tinggi kontraktor mengajak salah satu mahasiswa untuk mengobrol di posko warga yang pro Rudet, namu sang aktivis menolak untuk mengobrol di sana.

Sejak saat itulah oknum preman dan oknum ormas mulai naik pitam dan terjadi pengejaran terhadap para aktivis mahasiswa. “Kawan-kawan semua mulai kabur, dari belakang sampai depan Baltos, mulai dari situ ada yang terpencar ada yang ke Baltos, ada yang ke mana, karena kan panik,” ungkap Ega. Padahal menurutnya, niat mahasiswa di sana hanyalah merekam kejadian dan pergerakan ekskavator.

Baca juga:  Belajar Politik Sehat dan Menyehatkan

“Saat itu terjadilah pemukulan, ada beberapa kawan yang kena pukulan, setelah itu kawan-kawan sudah bisa lepas dari oknum preman, sekitar jam empat atau jam lima, saat itu mulai kondusif karena oknum preman sudah tidak lagi mengejar,” papar Ega.

Sejak sore sampai malam, para aktivis mahasiswa mulai berdatangan dan menyepakati untuk menghentikan proses pembangunan Rudet. Sampai terjadilah kesepakatan untuk menduduki ekskavator dan menghentikan proses pembangunan Rudet.

“Malam hari dua orang mulai tumbang, kena aniaya karena para oknum melempari batu, pecahan genting, pecahan kaca, apa pun yang mereka lihat itu di lempar ke kawan solidaritas,” sahutnya.

Menurut Ega, saat itu para aktivis mahasiswa sepakat untuk tidak memulai konflik, sehingga pada akhirnya para oknum tersebut mulai lelah dengan kondisi lapangan, mereka mundur, dan para aktivis mahasiswa mulai maju untuk menduduki ekskavator.

Akibat pelemparan dan pemukulan tersebut banyak yang mengalami luka-luka. “Ada 21 korban yang benjol dan luka-luka, ada 4 orang yang luka berat, salah satunya adalah warga, yang tiga dari kawan solidaritas,” katanya.

Intimidasi dari Aparat

Saat itu Aktivis Mahasisa lainnya, Faris Lazuardi, datang jam 11 malam. kondisi kembali memanas. Sejumlah massa solidaritas mulai membuat barisan pertahanan yang terbagi menjadi tiga bagian, depan, tengah, dan belakang. Saat itu para mahasiswa mulai berjalan mundur karena ada aparat yang berusaha untuk membubarkan mereka.

Dirinya berada di barisan depan, berjalan mundur perlahan. Saat itu para para mahasiswa yang berada di barisan tersebut diintimidasi oleh aparat. “Jalan jongkok, jalan jongkok, jalan jongkok,” teriak Faris menirukan aparat tersebut. “Temen-temen ga mau, kita tetep jalan mundur biasa”.

Dia dan beberapa mahasiswa yang berada di barisan tersebut mulai didorong mudur oleh pihak aparat, padahal menurutnya mereka sudah mundur, lalu pihak aparat tersebut memanggil warga. “Mana Eva, mana Ilo,” teriak aparat tersebut memanggil kedua warga yang menolak Rudet tersebut.

Baca juga:  Refleksi Rapat Koordinasi Pertama Dema-U

Saat itu aparat merekam kejadian tersebut di depan barisan para aktivis yang didorong mundur. Kemudian Faris yang berada di barisan paling depan mengeluarkan ponsel miliknya untuk merekam juga. Dan sejurus kemudian dirinya dicari. “Mana yang tadi ngerekam itu,” teriak salah satu aparat mencari Faris.

Faris sempat ditarik oleh aparat, namun berhasil ditarik kembali oleh para mahasiswa yang berada di barisan. Faris pun mengalami luka kecil akibat dari cakaran salah satu aparat yang mencoba mengambil ponselnya.

Sekitar pukul 11 malam terjadi mediasi. Penanggung Jawab Pengembangan Rudet, Dasep, turun tangan karena sudah banyak korban yang berjatuhan. Aliansi mahasiswa mulai mundur menjauh dari ekskavator, namun karena larut malam, proses mediasi tidak terjadi.

Melihat kejadian itu Eva merasa sedih. Saat bercerita kepada Suaka, air matanya perlahan mengalir. Diiringi hujan deras, dengan suara yang parau, dirinya merasa sangat bersalah karena ada beberapa aktivis mahasiswa yang mengalami luka parah akibat pelemparan kaca.

Warga Menuntut

Atas kejadian itu, pada Kamis (8/3) warga yang menolak Rudet bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar melakukan konferensi pers di Masjid al-Islam Tamansari untuk menyatakan sikap.

Dengan dihadiri oleh beberapa awak media dan juga beberapa Badan Eksekutif Mahasisa (BEM) yang ada di wilayah Bandung, menuntut kepada pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk menghentikan proyek pembangunan Rudet Tamansari, menuntut aparat penegak hukum untuk memproses pelanggaran yang dilakukan pengembang dan Pemkot Bandung, dan menurut kepolisian RI untuk mengusut tindak kekerasan yang dilakukan pihak pengamanan proyek terhadap warga dan massa solidaritas.

Reporter : Puji Fauziah

Redaktur : Nizar Al Fadillah

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Warga Tamansari Menuntut Pembongkaran Dihentikan – Suaka Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas