Infografis

Berlomba-lomba dalam Hypebeast

 

SUAKAONLINE.COM, Infografis – Dalam arti sempit Hypebeast,  Hype berarti kegilaan seseorang akan memenuhi hasratnya di bidang tertentu. Jadi dapat disimpulkan bahwa Hypebeast adalah suatu kegilaan seseorang terhadap tren fesyen atau bisa disebut sebagai fesyen sejati. Contohnya dengan mengumpulkan pakaian, sepatu, dan aksesoris lainnya yang bertujuan untuk menegaskan kepada orang lain bahwa saya seorang hype.

Awal mulanya, Hypebeast merupakan sebuah media digital (online) dan perusahaan e-commerce yang berbasis di Hong Kong. Hypebeast didirikan oleh Kevin Ma pada tahun 2005. Yang di mana Hypebeast lebih mengarah kepada dunia fesyen streetwear khususnya sneaker dan fokus dalam fesyennya kaum anak muda.

Seiring berkembangnya zaman, Hypebeast pun menjadi lebih luas lagi tidak hanya fokus kepada fesyen streetwear tetapi juga membahas gaya hidup atau tren orang-orang di perkotaan, contohnya seperti membahas gaya hidup seorang fesyen bintang ternama yang ada di Amerika seperti Kanye West, Taylor The Creator, Travis Scott dan masih banyak lagi.

Fenomena “Hypebeast”, sebutan untuk para pengguna barang streetwear yang sedang hype atau tren saat diluncurkan. Fenomena ini pada mulanya hanya berkisar di produk-produk streetwear seperti Palace (didirikan Lev Tanju pada 2009 di Inggris), Supreme (didirikan oleh James Jebbia pada 1994 di Amerika), atau BAPE (didirikan oleh Nigo pada 1993 di Jepang). Namun, kini merek-merek adibusana seperti Louis Vuitton, Gucci, dan Dior mulai melirik pasar Streetwear.

Target pasarnya tentu saja kaum Milenial dan Gen Z, fenomena hypebeast merupakan produk industri fesyen yang sebenarnya mudah diduga. Orang tak lagi ingin terlihat keren di pesta mewah, tapi juga di kehidupan sehari hari. Louis Vuitton, Gucci, dan Dior adalah nama besar yang mewakili merek mahal. Mereka yang menggunakan merek ini biasanya mencari kebanggaan, glamor, dan tentu saja kualitas terbaik dari sebuah produk pakaian. Salah satu alasan mengapa kolaborasi ini muncul, banyak anak muda generasi Z hari ini menyukai gaya pakaian streetwear yang nyaman digunakan dan memiliki karakter. Digabungkan dengan kebanggaan dan gengsi maka hasilnya adalah kolaborasi yang digemari.

Baca juga:  Zen RS: Simulakra Sepakbola

Limei Hoang dari Bussinessoffashion.com menyebut bahwa pada 2025, sebanyak 45 persen pasar barang mewah akan dikuasai oleh Milenial dan Gen-Z. Hal ini bersumber dari riset dari Bain & Co. Luxury Study yang bekerja sama dengan Fondazione Altagamma. Salah satu indikator yang digunakan adalah belanja barang mewah pada 2016 yang mencapai 280 miliar dolar. Diperkirakan pada 2025 pasar barang mewah akan mencapai 324 miliar dolar di mana generasi Z dan milenial akan menjadi konsumen utama.

Merek-merek fesyen terkemuka butuh pasar baru, saat Baby Boomer atau Gen X tak lagi jadi fokus pasar. Mereka mulai melirik ke kelompok milenial dan Gen Z. Tentu ada penyesuaian tipe pakaian dan juga desain. Selera yang ada disesuaikan untuk kemudian dibuat produk adibusananya. Tapi bukan berarti merek-merek terkenal ini tunduk pada selera pasar, malah sebaliknya, dengan pengaruh kebanggaan dan besarnya citra merek, mereka dengan mudah membentuk selera pasar.

Namun, di balik brand image yang kuat, strategi pemasaran juga berpengaruh dalam membentuk eksklusivitas merek tersebut. Strategi utama pemasaran salah satu merek ternama yaitu Supreme adalah membuat produknya ‘langka’. “Jika kita bisa menjualnya 600 buah, kita akan memproduksinya 400 buah, begitulah cara kami,” kata James Jebbia, pendiri merek Supreme.

Supreme pandai memposisikan dirinya untuk sulit didapatkan. Walaupun terdapat permintaan yang besar, Supreme konsisten untuk memproduksi itemnya dalam jumlah terbatas. Satu buah desain dari suatu produk hanya akan diproduksi dan dijual dalam satu kali rilis. Supreme juga memiliki aturan khusus dalam menjual barangnya, seseorang tidak boleh membeli lebih dari satu produk yang sama sekaligus.

Meroketnya tren Hypebeast di Indonesia kemungkinan dikarenakan mengikuti budaya fesyen dari luar yang sedang hangat-hangatnya. Tren Hypebeast di Indonesia juga sudah sangat luas, kita bisa melihat anak muda di zaman sekarang khususnya milenial dan Gen Z ini yang rela menghabiskan uang jutaan bahkan puluhan juta rupiah untuk membeli barang-barang fesyen streetwear ternama seperti Supreme, A Bathing Ape, Balenciaga, Stussy, dan yang lainnya.

Baca juga:  Peduli Bencana Palu, Dema-U Selenggarakan Konser Amal

Dalam akun @pahi.id kita bisa melihat bagaimana anak muda Indonesia tenggelam dalam subkultur Hypebeast ini. Dalam akun instagram tersebut,  terlihat seseorang tengah memakai Supreme x Louis Vuitton yang produknya berkisar mulai dari 20-60 juta rupiah. Ada pula seseorang yang memakai sepatu Nike Air MAG Back To The Future (2016) sepatu dengan harga $28.000 atau setara dengan Rp374.024.000. Di Indonesia produk-produk streetwear sangat laku dijual di Instagram, meski harganya tidak murah, untuk satu produk pakaian seperti BAPE bisa dijual dengan harga Rp1-3 juta, sementara untuk jaket Supreme bisa mencapai Rp8-12 juta tergantung kebaruan, langka, dan ukuran.

Atau yang paling unik adalah sebuah batu bata yang dijual dengan harga US$ 30 atau hampir setara dengan 400 ribu rupiah. Bahkan, penjual yang lain berani menjual kembali batu bata tersebut dengan harga yang lebih tinggi. Tengoklah halaman eBay, di sana harga jual tertinggi yang ditemukan mencapai angka 1000 Dollar AS, atau setara 13 Juta rupiah untuk sebuah batu bata. Sekilas, bahan bangunan tersebut tak jauh berbeda dengan batu bata biasa berharga 800 rupiah di toko bangunan. Bentuknya balok, berwarna kemerahan, dan sama-sama terbuat dari tanah liat. Tetapi, ada satu alasan yang memotivasi orang untuk membelinya, yakni sebuah merek yang tertera; “Supreme”.

 

Sumber data : Tirto.id, Zetizen.com, Dailysyahnakri.net

Peneliti          : Galih Muhamad

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas