Kampusiana

Tingkatkan Reputasi Kampus dengan Jurnal Terindeks Scopus

Ilustrasi (Nurul Fajri/ Magang)

 

SUAKAONLINE.COM – Dari data yang diperoleh di scopus, UIN SGD Bandung telah mencapai peringkat dua tingkat PTKIN dalam jumlah penulisan artikel jurnal ilmiah, setelah UIN Jakarata yang menempati peringka pertama. Total yang dicapai hingga awal tahun 2018 adalah 166 karya. Sedangkan di Provinsi Jawa Barat, saat ini menempati urutan ketujuh, didahului oleh ITB di urutan pertama, UNPAD ke dua dan diikuti oleh UPI.

Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan UIN SGD Bandung, Wahyudin Darmalaksana menjelaskan, UIN SGD Bandung telah mulai melakukan publikasi yang terindeks Scopus sejak tahun 2009, namun pada saat itu hanya ada satu karya tulis ilmiah yang terindeks. Seiring berjalannya waktu jumlah data terus meningkat sedikit demi sedikit.

“Peningkatan yang signifikan terjadi mulai tahun 2016 hingga saat ini. Tahun 2016 terindeks 26, yang kemudian meningkat menjadi 50 di tahun 2017, dan hingga awal tahun 2018 ini telah ada 39 yang diprediksi nantinya akan meningkat kembali di akhir tahun,” ungkapnya, Rabu (14/3/2018) saat ditemui di ruangannya.

Wahyudin menjelaskan, scopus adalah sebuah lembaga pengindeks atau pusat data literasi terbesar di dunia. Berisikan artikel jurnal ilmiah, makalah konferensi, buku, dan lain sebagainya. Scopus menyajikan jutaan data yang dapat memberi pengaruh terhadap institusi dalam hal publikasi internasional dalam berbagai bidang ilmiah.

“UIN SGD Bandung ini termasuk agak terlambat dalam memasuki dunia publikasi dan pengindeksan karya tulis ilmiah. Sebenarnya, bukan hanya dosen yang dapat menulis di jurnal internasional, mahasiswa juga bisa menulis bersama-sama dengan dosen. Apalagi dengan sistem yang berdasarkan digital dan online yang lebih dekat dengan mahasiswa di era sekarang dan tentunya bisa lebih cepat memahaminya,” ungkap Wahyudin.

Baca juga:  UIN Bandung Persiapakan IPPBMM VII di Purwokerto

Wahyudin mengungkapkan, dengan menulis jurnal internasional kemudian dapat terindeks oleh scopus, sudah pasti akan ada banyak orang  yang mengakses tulisan ilmiah tersebut. Lalu melihat asal tulisan tersebut yang kemudian dapat mengangkat nama UIN SGD Bandung. Dan juga dalam mengakses sumber dalam membuat tugas yang diberikan dosen, dengan artikel jurnal yang telah terindeks, sumber-sumber tidak diragukan karena telah terjamin melalui proses, penelitian dan sebagainya.

Menurut Wahyudin sudah seharusnya perguruan tinggi mengajak sivitas akademika termasuk mahasiswa untuk membuat karya tulis  ilmiah dan memanfaatkan publikasi di era digital ini untuk menunjang akademik. “Peradaban dunia itu akan bergantung pada seberapa hebat orangnya itu menulis atau taradisi menulis. Hampir semua negara maju ternyata publikasinya banyak, entah menulis atau mempublikkasikan itu merupakan sebuah indikator kemajuan, tetapi setiap negara maju pasti memiliki publikasinya banyak,” ungkapnya.

Senada denga Wahyudin, Ketua Jurusan Manajemen Keuangan Syariah, Deni Kamaludin Yusup yang turut berkontribusi dalam penulisan jurnal internasional terindeks scopus, beranggapan bahwa nilai ukur bagusnya suatu universitas tidak hanya dapat diukur dari gedung dan lengkapnya prasarana, yang paling penting menurutnya adalah seberapa produktif tradisi keilmuan ilmiah dibangun di universitas itu.

Scopus, lanjutnya  juga menjadi salah satu bahan pertimbangan oleh Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) dalam penilaian terhadap karya tulis ilmiah dosen yang dipublikasikan dalam jurnal internasional, juga menjadi pertimbangan untuk kelayakan dalam kenaikan pangkat, golongan dan lainnya

“Saat ini rektor memiliki program percepatan guru besar,  dan saya dukung karena dapat mempercepat tingkat penulisan jurnal internasional yang terindeks seperti scopus. Menurut saya ada tiga langkah percepatan yang dapat dilakukan,” ujarnya, Kamis (15/3/2018).

Baca juga:  Geramnya Melihat Polisi yang Suka Main Pukul

Ia memaparkan, pertama, menyelenggarakan konferensi nasional dan internasional dn bekerja sama dengan lembaga pengindeks. Kedua, dosen-dosen yang tidak punya id Scopus diberi projek penelitian, dengan memberikan syarat laporan penelitian dibuat summary dalam bentuk artikel. Ketiga, memberikan stimulus kepada para dosen untuk ikut konferensi-konferensi,

Ketua Jurusan MKS tersebut berharap ke depannya setiap dosen bahwa tradisi menulis itu sebenarnya bukan sebuah kewajiban, tapi bagian dari tanggungjawab akademik. Karena ketika kewajiban itu dilakukan, maka selesai. Menulis merupakan bagian dari tanggung jawab akademik untuk memberi kontribusi yang lebih banyak bagi masyarakat.

“Dosen perlu menularkan tradisi itu dengan cara mengajak mahasiswa. Ke depannya  saya kira perlu didorong semua dosen dalam melakukan aktivitas itu lalu memabawa mahasiswa. Nah itu yang mungkin menjadi harapan saya ke depan, nanti hasilnya  pasti akan berbanding lurus dengan apa yang kita lakukan.” pungkasnya.

 

Reporter: Nurul Fajri/ Magang

Redaktur: Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas