Pendidikan dan Budaya

Moshing, Bentuk Apresiasi Musik Tanpa Melihat Gender

(Dok.Suaka)

Berbekal sering menonton mini gigs genre hardcore seperti menyukai grup musik Outright, Blind to See dan Billfold sejak SMP, membuat mahasiswi Jurusan Pendidikan Masyarakat, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu tak takut untuk melakukan moshing, ekspresi menikmati konser musik beraliran keras dengan cara menggerakan tubuh secara berulang-ulang secara cepat dan tak teratur.

Dialah Mutia Choirunnisa, salah satu Serigala Militia (sebutan penggemar grup musik Seringai) yang awal mula menyukai Seringai bermula gemar mendengarkan musik aliran keras seperti Bad Religion, Black Sabbath, Motorhead dan akhirnya mendengarkan Seringai. Ia mendengarkan dan membeli kaset grup yang digawangi Arian13, Sammy, Ricky Siahaan dan Edy Khemod tersebut. Walaupun sekarang ia berhijab, Mutia, sapaan akrabnya merasa tidak terlalu khawatir dengan hijab yang ia kenakan.

“Waktu SMP belum berhijab sih, kemarin-kemarin terakhir moshing pas Seringai ke Bandung, acara Road to Soundrenaline itu udah berhijab, bagiku sih hijab gak menghalangi, malahan kayaknya orang sekitar lebih jagain gitu,” tutur Mutia, Senin (3/3/2017).

Ia bercerita, semasa SMP dan SMA masih berani melakukan stage diving, dan Mutia tidak takut ketika moshing menggunakan hijab, ia malah menanggapi secara santai ketika ada yang mengomentari, karena moshing adalah kesenangan baginya.

”Dulu emang masih berani stage diving, cuman sekarang engga deh, inget badan juga, berhenti olahraga makin melar dan gak mau nyusahin orang. Walaupun menolak tua tapi inget umur juga sih. Dan mungkin karena saya selalu ngerasa saya cowok kali ya, soalnya temen-temen aku nonton gigs cowok semua,” ujarnya.

Lanjutnya, selama stage diving pun Mutia tidak pernah di raba anggota tubuhnya atau dilecehkan secara fisik oleh penonton yang mayoritas lelaki. Selain itu, perempuan yang sangat menyukai lagu Amplifier dan Fett Sang Pemburu tersebut pernah mengalami kejadian terjatuh ketika moshing, karena tali sepatu terinjak penonton lain ketika menonton pagelaran Billfold.

“Waktu itu jatuh dan temen-temenku gasadar, malahan yang bantuin orang lain. Berarti masih ada orang yang emang saling bantu gitu di area pit, gak semua jahat atau apalah modus-modus. Mungkin ada yang modus, cuman alhamdulillah selama ini aku moshing atau stage diving gapernah ada yang iseng, kalau pun ada udah di tonjok juga,” kata Mutia seraya tertawa.

Baca juga:  BKI FAIR Sebagai Ajang Silaturahmi Dosen dan Mahasiswa

Menanggapi celotehan orang-orang atau pun nyinyir karena kegemaran Mutia yang menyukai musik keras dan terkadang moshing tidak membuatnya gusar, nyatanya ia didukung di lingkungan pergaulannya dan tidak ada masalah terkait kegemaran Mutia. Bahkan, teman-teman perempuan Mutia mengerti dan selalu mengingatkannya agar selalu hati-hati ketika melakukan moshing.

Nyatanya, respon mayoritas penonton lelaki di area pit ketika Mutia moshing tidak semua memahaminya. Ia menemukan kejanggalan, salah satunya cat calling, pelecehan verbal di ruang publik. Dulu ia merasa perempuan ketika masuk area moshpit ada beberapa kaum lelaki yang cat calling. Walaupun menurut perempuan kelahiran 17 November 1996 tersebut perilaku itu akhir-akhir ini jarang bahkan tidak ada di pagelaran gigs yang ia datangi.

“Menurutku gak wajar sih, tapi kadang sulit ya, serba salah juga. Banyak perspektif yang beda-beda, ada yang bilang wajar pada cat calling, ada juga yang bilang tidak wajar karena seharusnya lelaki menghargai perempuan. Jadi bingung juga, tapi yang pasti, tidak hanya di moshpit, di tempat lain juga cat calling itu sering ditemui,” ujarnya diakhir pembicaraan.

Moshing Bukan Milik Budaya Patriarki

Menurut Pegiat Jurnalisme Musik sekaligus penulis di Rolling Stones Indonesia, Idhar Resmadi, moshing ialah semacam slam dance, sebuah gerakan tubuh yang biasanya ditemui di konser musik. Biasanya dilakukan berupa memutar gerakan tubuh. Fenomena ini sering ditemui di gigs musik keras macam rock, punk, metal atau hardcore. Karena wataknya memang sangat pas untuk mengapresiasi musik keras semacam ini. Selain itu, musik cadas ini sangat pas untuk memacu adrenalin.

“Kalau diperhatikan, musik itu adalah media berekspresi. Salah satu media ekspresi penonton yang melakukan moshing karena sangat pas dengan musik cadas, dalam pertunjukan musik itu seolah ada zonasinya, biasanya zonasi untuk moshing berada di area dekat panggung atau disebut moshpit. Hal ini tentu berbeda dengan zonasi yang dibelakang karena cenderung lebih santai,” ujar Idhar saat dihubungi via surel, Kamis (2/3/2018).

Baca juga:  Tanggapi Video Pemukulan, Ratusan Ojol Sambangi Pangkalan Ojek Cipadung

Idhar melanjutkan, jenis moshing menurutnya ada beberapa, ada head banging, ada stage diving, ada juga circle pit, dan wall of death. Semuanya merupakan bentuk ekspresi dalam musik cadas. Pun dengan moshing, sedikitnya kaum hawa yang melakukan aktivitas ini karena ada semacam budaya patriarki di masyarakat Indonesia. Seolah-olah musik cadas memang merupakan konsumsi kaum adam semata. Ditambah lagi dengan karakter musik cadas memang lekat sebagai media ekspresi kaum adam  yang penuh adrenalin.

Media moshing juga rentan dengan pelecehan seksual terhadap perempuan, yang membuat perempuan riskan untuk melakukannya. Tapi karena wacana feminisme dalam musik cadas juga sudah mulai berkembang, membuat moshing tidak hanya milik kaum lelaki, dalam beberapa gigs pun sering juga ditemukan perempuan yang melakukan moshing.

Bukan hanya budaya patriarki yang melekat, stereotip masyarakat Indonesia juga masih kental terhadap musik cadas. Walaupun menurut Idhar, banyak perempuan yang mengapresiasi musik cadas, serta lebih banyak knowledge agar bisa mengapresiasi perempuan untuk mengekspresikan (moshing-red) sehingga tidak terjadi pelecehan seksual atau hal yang tidak diinginkan.

“Dulu memang sedikit kaum perempuan yang moshing, Sekarang sih udah agak biasa juga yah perempuan moshing. Cuman pas penampilan band atau penonton perlu terus diedukasi agar terus menghormati perempuan yang ada di area moshpit,” pungkas Idhar.

Perlunya Pemahaman Kesetaraan dan Catcall

Menurut catatan Komnas Perempuan, yang diterbitkan oleh Beritagar.id menggolongkan aktivitas macam catcall sebagai ‘Pelecehan Seksual’ yang termasuk dalam 15 bentuk kekerasan seksual. Mereka pun memerinci aktivitas yang termasuk pelecehan seksual antara lain, siulan, main mata, ucapan nuansa seksual, hingga gerakan atau isyarat.

Aktivitas macam itu bisa menjadi kesalahan bila mengakibatkan seorang perempuan menjadi tidak nyaman, tersinggung, direndahkan martabatnya, terganggu kesehatannya, hingga merasa terancam. Merujuk argumen itu, salah satu artikel Klinik Hukum Online, menyatakan bahwa pelaku pelecehan seksual bisa dijerat dengan pasal-pasal pencabulan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), pasal 289-296.

Menanggapi moshing yang enggan dilakukan para perempuan, Editor Geotimes, Cania Citta Irlanie beranggapan, ada sisi-sisi realita yang sulit diputuskan menurut kerangka ideologis. Dalam kasus moshing, mungkin perempuan takut masuk ke area moshing jadi tersentuh tanpa konsen. Tersentuhnya pun tanpa disengaja. Perempuan tidak mau mengambil resiko itu, jadinya mereka tidak ikut moshing. Dan juga banyak laki-laki yang tidak ingin ikutan karena alasan yang sama. Baginya, ini menjadi kebebasan masing-masing individu untuk mengikuti atau tidak.

Baca juga:  Ilmu Politik Jadi Prodi Baru UIN Bandung

”Mungkin selama ini jarang ada partisipasi perempuan untuk moshing, pasti ada stigma buruk terhadap perempuan yang suka moshing. Itu kan kegiatan laki-laki, perempuan yang ikutan itu di cap murahan lah, yang kaya gitu-gitu, dan lebih mengedepankan konteks kulturalnya,” ujar Cania saat diwawancara via WhatsApp. Rabu, (7/3/2018).

Lanjut Cania, harus diberikan pemahaman bahwa semua aktivitas yang ada di dunia ini harusnya bebas gender, kecuali memang keterbatasan biologis seperti hamil, mengeluarkan sperma dan menampung ovum .

Harus juga dibuat sebuah kegiatan bahwa wajar saja kegiatan terlepas dari gendernya, dari latar belakang sosialnya, setiap individu punya pilihan yang setara untuk memilih kegiatan apa yang akan dilakukan. Harusnya itu informasi yang disebar luaskan kepada semua orang.

”Seharusnya para laki-laki dan perempuan tidak hanya diedukasi, tapi dicoba praktiknya, seperti perempuan di area moshing pit. Dan juga pas didepan gerbang sebelum masuk ke area musik kan suka ada dilarang bawa makanan, bawa senjata tajam, nah harus ada juga larangan jangan melecehkan, masing-masing harus mawas diri agar tidak melecehkan orang lain, baik perempuan maupun laki-laki.” pungkasnya.

Reporter : Rendy M. Muthaqin

Redaktur : Nizar Al Fadillah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas