Kampusiana

Dies Natalis Ke 50 Tahun, UIN Bandung Kukuhkan Tiga Guru Besar

Rektor UIN SGD Bandung, Mahmud membacakan Surat Keputusan kepada ketiga guru besar, dari Fakultas Adab dan Humaniora, Sulasman (kanan), Fakultas Syariah dan Hukum, Mohamad Anthon Athoillah (tengah) dan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Nina Nurmila (kiri)  di Aula Gedung Pascasarjana kampus 2 lantai 4, Rabu (28/3/2018). (Lia Kamilah/ Magang)

 

SUAKAONLINE.COM – Dalam rangkaian Dies Natalis UIN SGD Bandung yang ke 50 tahun, UIN SGD Bandung kukuhkan tiga guru besar pada Sidang Senat terbuka, Rabu (28/3/2018) di Aula Pascasarjana Kampus II Jalan Soekarno-Hatta, Bandung. Pengukuhan tersebut dilakukan langsung oleh Rektor UIN SGD Bandung, Mahmud.

“Saya mengucapkan selamat kepada guru besar yang atas kegigihannya. Saudara-saudara patut berbangga karena di kampus kita saja ada 1000 lebih dosen tapi yang jadi guru besar hanya sekitar 30 dosen saja. Pengukuhan ini perlu dilakukan, karena jika belum dikukuhkan maka belum masuk anggota Senat Universitas UIN SGD Bandung walaupun sudah mendapatkan Surat Keputusan,” ujar Rektor UIN SGD Bandung, Mahmud, Rabu (28/3/2018).

Mahmud memberikan sedikit amanat kepada para guru besar baru. Ia meminta, agar mereka bersyukur, silakan berbangga diri tapi dibalik itu, dipundak mereka ada tanggung jawab akademik dan sosial yang harus dipenuhi dan dilaksanakan dengan baik.

Ketiga guru besar yang  dikukuhkan tersebut adalah dosen di jurusan Sejarah dan Perdaban Islam  pada Fakultas Adab dan Humaniora, Sulasman, dosen  Ilmu Fiqih pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Nina Nurmila, dan dosen Ilmu Ekonomi Islam pada Fakultas Syari’ah dan Hukum, Mohamad Anthon Athoillah. Setelah dikukuhkan ketiganya memaparkan orasi ilmiah masing-masing.

Pada orasi ilmiahnya, Sulasman mengambil materi Islam Nusantara: Islam Berkemajuan, Damai, Moderat dan Toleran. Ia menjadikan keberagaman budaya yang Indonesia miliki sebagai alasannya. Menurutnya keislaman orang Nusantara telah mampu memberikan penafsiran ajarannya sesuai dengan konteksnya melalui cara mereka sendiri sesuai dengan budayanya.

Baca juga:  Kasus Ojol dan Opang Cipadung Berakhir Damai

“Islam Nusantara adalah Islam khas ala Indonesia, yang merupakan gabungan Islam teologis dengan nilai-nilai budaya lokal di Tanah Air. Islam Nusantara bukan untuk mengubah doktrin Islam, tetapi hanya metode bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Dengan merujuk pada dalil, apa yang dipandang baik oleh kebanyakan manusia, maka itu juga baik menurut Allah.” Jelasnya, Rabu (28/3/2018).

Ia juga berharap dengan kekayaan budaya dan dengan melakukan aksi perdamaian itu mampu menjadi senjata ampuh dalam mengatasi masalah dunia Islam di Timur Tengah saat ini yang tengan dibakar oleh api kekerasan yang berujung pada pertumpahan darah. Yang Ironisnya, agama Islam acapkali digunakan sebagai justifikasi bagi pengrusakan-pengrusakan tersebut.

Selanjutnya orasi ilmiah Mohamad Anthon Athoillah yang mengambil materi Saintifikasi Ekonomi Islam: Antara Ijtihad Akademik dan Bukti Empirik. Secara jelas ia mengatakan alasannya mengambil materi tersebut adalah kecintaannya kepada Ilmu Ekonomi Islam dengan segala keberagaman prinsip dan implikasinya yang baginya menarik untuk dikaji lebih dalam.

Alasan lain adalah karena Ilmu Ekonomi Sosial dan Ilmu Ekonomi saat ini seolah bersaing dalam mengemukakan gagasan terkait pemikiran ekonomi masa depan. Sementara Ekonomi Islam, dalam pandangannya memiliki “modal” yang lebih dari cukup untuk memposisikan dirinya dalam “rumah” Ilmu Ekonomi Sosial. Ia berharap, kemungkinan pertumbuhan dan pengembangannya lebih luas di masa yang akan datang.

“Saya ingin merekomendasikan bahwa sementara negara-negara Muslim sekarang berada di ambang era baru dalam kebijakan sains dan teknologi, mereka harus secara jelas mengidentifikasi prioritas apa saja yang akan mereka bangun dalam nilai-nilai sosial dan menghubungkannya dengan strategi pembangunan ekonomi islam,“ ucapnya.

Berbeda dengan Sulasman dan Mohamad Anthon, Guru Besar dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Nina Nurmila mengambil materi Fiqih Kontemporer Berperspektif Keadilan Gender.  Menurutnya Fiqih adalah sumber ijtihad yang menarik. Karena dari ijtihad, munculah perspektif baru diantaranya, kepemimpinan rumah tangga, poligami atau monogami, Islam adalah agama yang menentang budaya patriarkhal, dan Islam adalah agama yang mendukung kesetaraan dan keadilan.

Baca juga:  Geramnya Melihat Polisi yang Suka Main Pukul

Ia mengutip dari seorang ilmuan Islam Fazlur Rahman, bahwa ada dua gerakan yang sangat baik untuk ditiru. Pertama, gerakan kembali dari masa sekarang ke masa lalu saat diturunkannya al-Qur’an untuk mengetahui kekuatan atau tujuan diturunkannya al-Qur’an. Kedua adalah gerakan kembali dari masa lalu saat turunnya ayat ke masa sekarang dengan tujuan untuk mengaplikasikan maksud dari tujuan turunnya al-Qur’an. Metode ini dapat dipakai oleh para mufassir dalam menafsirkan ayat al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an. Agar maknanya tepat.

 

Repoter: Lia Kamilah/Magang

Redaktur: Elsa Yulandri

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas