Pendidikan dan Budaya

Mengenal Chekhov, Sastrawan Klasik dari Negeri Beruang Merah

Dosen Sastra Rusia Unpad, Trisna Gumilar sedang menjelaskan saat Anton Chekhov dalam dinamika dan dialektika kesusastraan Rusia dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Himarus Unpad di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Rabu (4/4/2018). (Indah Rahmawati/ Suaka).

SUAKAONLINE.COM – Himpunan Mahasiswa Sastra Russia (Himarus) Universitas Padjajaran (Unpad) menggelar seminar nasional yang bertajuk “Perkembangan Kesusastraan Rusia di Indonesia: Dunia Chekhov”. Bertempat di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) pada Rabu, (4/4/2018). Seminar ini merupakan program kerja dari Departemen Keilmuan Himarus Unpad yang telah diselenggarakan sejak tahun lalu.

Menurut Ketua Pelaksana sekaligus Ketua Departemen Keilmuan Himarus, Nabila Rizkiwati mengatakan, dipilihnya Chekhov sebagai tema seminar tahun ini adalah untuk membahas sejauh mana Chekhov dikenal di Indonesia, pengaruh karya Chekhov dan untuk mengulas kehidupan Chekhov, terlebih penikmat karyanya yang tidak sedikit di Indonesia. “Saya harap tahun depan ada yang lebih waw,” ujar mahasiswi semester 4 tersebut.

Seminar yang digelar dalam dua sesi ini menghadirkan banyak pembicara diantaranya Pegiat Teater; Sophan Ajie, Penerjemah novel tiga saudari karya Anton Chekhov, Trisa Triandesa, Ketua Program Studi (Kaprodi) Sastra Indonesia, Lina Meilinawati Rahayu, serta dua Dosen Sastra Rusia Unpad, Ladinata dan Trisna Gumilar.

Sebagai Moderator, Hilman F. Khoeruman yang merupakan Dosen Sastra Rusia ini membuka seminar dengan memperkenalkan Chekhov terlebih dahulu. Ia menjelaskan bahwa Anton Chekhov yang dikenal sebagai Raja Cerita Pendek (Cerpen) Rusia ini merupakan lulusan Universitas Kedokteran di Moskow. Berawal dari menulis cerita lucu di tahun 1880, membuatnya terus menulis cerpen fenomenal. Sampai akhirnya ia menjadi ahli drama yang cerpennya diterjemahkan dan dipentaskan di berbagai belahan dunia.

Ahli bidang kesusastraan Rusia, Trisna Gumilar lebih membicarakan Chekkov dalam dinamika dan dialektika kesusastraan Rusia. Perkembangan yang terjadi pada kesusastraan Rusia berbeda dengan yang di Eropa Barat. Bangsa Rusia merupakan salah satu yang tidak mengenyam pencerahan di Eropa abad 16. Karena pada abad itu Rusia sedang bergelut dengan bangsa Mongolia. Sedangkan bangsa Rusia baru mencicipi sastra di abad 18.

Ia juga menambahkan, realisme di Rusia terjadi karena kondisi masyarakat. Permasalahan yang terjadi pada saat itu dipenuhi dengan agama dan sekularitas. Chekhov yang merupakan seorang ateis tidak membungkus hal-hal besar tapi hal-hal kecil seperti kemampuan tidak bisa beradaptasi dalam menghadapi pikiran-pikiran modernitas. Chekhov melihat hal-hal kecil sebagai pantulan dari bagaimana perjalanan hidup dan pandangannya terhadap dunia.

Kaprodi Sastra Indonesia, Lina Meilinawati Rahayu lebih membahas Anton Chekhov dan pengaruhnya dalam kesusastraan Indonesia. Menurutnya, Chekhov di Indonesia kehilangan kerusiaannya. Banyak buku Chekhov yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bahkan, teater di Indonesia banyak menyadur karya Chekhov. Contohnya saja kelompok teater modern tertua di Indonesia, Studiklub Teater Bandung (STB) tercatat tidak lebih dari 10 pertunjukkan menggunakan karya asli. STB lebih banyak menampilkan drama karya Chekhov.

Chekhov banyak berperan dalam kesusastraan Indonesia. Karena pengenalan karya sastra asing di Indonesia sebagian besar melalui terjemahan atau saduran. Bahkan cara tergampang mendapatkan naskah adalah dengan menerjemahkan.

Dalam sejarah Sastra Indonesia setidaknya ada tiga penulis yang mempunyai kontribusi cukup besar dalam memperkenalkan karya sastra asing. Diantaranya adalah Trisno Sumarjo yang memperkenalkan sastra asing dari Inggris, Asrul Sani dengan sastra dari Rusia dan Sapardi Djoko Damono dengan sastra dari Amerika, Inggris dan Timur Tengah.

Ia juga menambahkan sebuah pernyataan, “Drama Pinangan karya Chekkov akan dipentaskan di Universitas Pasundan. Artinya Chekhov sangat dikenal sampai saat ini. Bahkan karya-karyanya berulang kali dipertunjukkan di mana-mana,” pungkas perempuan berambut bondol ini sambil menutup perbincangan.

 

Reporter : Indah Rahmawati

Redaktur : Nizar Al Fadillah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas