Kampusiana

Seminar Kebangsaan, Upaya Mengokohkan Empat Pilar Kebangsaan

    (Dari Kiri) Ketua Senat Mahasiswa Universitas (Sema-U) UIN SGD Bandung, Acep Jamaludin, Kepala Biro Sekretariat Pimpinan Sekretariat Jenderal MPR RI, Muhammad Rizal, Ketua Komisi Delapan DPR RI, Ali Taher dalam seminar kebangsaan yang diselenggarakan oleh Sema UIN SGD Bandung, Senin (9/4/2018) di Aula Anwar Musaddad UIN SGD Bandung. (Siti Ressa/ Magang).

SUAKAONLINE.COM- Dalam rangkaian dies natalis ke-50 tahun UIN SGD Bandung Senat Mahasiswa UIN SGD Bandung adakan seminar kebangsaan dengan mengusung tema “Mengokohkan Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara sebagai Komitmen Kebangsaan” bertempat di Aula Anwar Musaddad UIN SGD Bandung, Senin (9/4/2018).

Menghadirkan Kepala Biro Sekretariat Pimpinan Sekretariat Jenderal MPR RI, Muhammad Rizal yang  perwakilan dari Pimpinan MPR RI. Sebagai narasumber utama dalam seminar ini, Rizal mengupas soal Pancasila dan arti pentingya bagi bangsa. Menurutnya, alasan mengapa pancasila masih bertahan adalah karena pancasila sumber dari segala sumber dari kehidupan bangsa Indonesia yang terumuskan di dalam lima sila. Kerena di dalamnya ada nilai agama yang tidak ada satupun sila pancasila bertentangan dengan agama islam

“Pancasila tidak bertentangan dengan agama Islam karena tokoh-tokoh Islamlah yang mempengaruhi pemikiran-pemikiran dalam perumusan pancasila. Termasuk founding father bangsa Indonesia yaitu Soekarno belajar dari tokoh-tokoh Islam, maka wajar nilai-nilai pancasila itu adalah nilai-nilai agama,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Rizal menyatakan menyinggung keadaan Negara Indonesia setelah adanya Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta tahun lalu dan puisi Sukmawati Soekarno Putri. Menurutnya setelah pilkada berlalu ditambah muncul puisi tersebut, Ia menilai kebangsaan Indonesia mulai goyah.

Selain itu banyak pergolakan yang menjadi keprihatinan seluruh elemen bangsa termasuk MPR. Keperihatinan tersebut diaktualisasikan MPR dengan upaya sosialisasi empat pilarnya ke berbagai elemen masyarakat di seluruh Indonesia termasuk UIN SGD Bandung.

Baca juga:  Musyawarah KPI UIN Bandung Bersama Askopis Jabar

“China mengakui kehebatan Indonesia, Barack Obama mengakui bahwa Indonesia sudah kuat karena ada Pancasila. Coba bayangkan, Negara Uni Soviet sebuah negara besar, bisa pecah menjadi 15 negara.  Sekarang negara-negara Arab seperti Irak, Iran, Libya, Yaman, Suriah banyak hancur terkoyak-koyak hanya karena perbedaan-perbedaan. Kita bersyukur bertahan dengan segala perbedaan dan berbagai masalah karena Pancasila,” ujarnya dengan penuh optimisme

Selain Muhammad Rizal, hadir pula dalam seminar tersebut Ketua Komisi Delapan DPR RI, Ali Taher. Dalam pembukaannya ia melontarkan kritik terhadap puisi Sukmawati Soekarno Putri. Ia mengungkapkan, siapapun yang menyamakan perspektif budaya dengan agama tidak akan pernah relevan. Taher pun menekankan bahwa mahasiswa khususnya mahasiswa UIN SGD Bandung harus paham perbedaan antara budaya dengan agama.

“Misalkan kita lihat sekarang ada yang menyamakan antara konde dengan cadar, masalah budaya kok bisa disamakan dengan syariat agama ya gak nyambung. Ini tidak bisa karena budaya tidak bisa disandingkan dengan agama,” papar politikus senior dari Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut

Ia pun menambahkan bahwa sesuai dengan TAP MPR No. VI Tahun 2001 Tentang Etika Kehidupan Berbangsa ada lima tantangan internal dalam kebangsaan. Pertama, masih lemahnya penghayatan dan pengamatan agama serta munculnya pemahaman terhadap ajaran agama yang keliru dan sempit. Kedua, pengabaian terhadap kepentingan daerah serta timbulnya fanatisme kedaerahan.

“Yang menjadi tantangan internal dalam kebangsaan adalah kurang berkembangnya pemahaman dan penghargaan atas kebhinekaan dan kemajemukan, kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagai pemimpin dan tokoh tokoh bangsa, dan tingkat berjalannya penegakan hukum secara optimal,” jelas Taher.

Sedangkan yang menjadi tantangan eksternalnya adalah adanya pengaruh globalisasi kehidupan yang semakin meluas dan persaingan antar bangsa yang semakin tajam. Ia menambahkan, tantangan eksternal yang lainnya adalah makin menguatnya intensitas intervensi kekuatan global dalam perumusan kebijakan nasional.

Baca juga:  Problematika Pelecehan Seksual di Ranah Kampus

“Kebijakan-kebijakan publik masih di intervensi oleh para kapitalisme. Berangkat dari sana maka MPR memandang perlu melakukan sosialisasi karena kalian adalah pemimpin bangsa di masa depan,” ungkapnya dengan penuh pengharapan.

Ketua Sema-U, Acep Jamaludin menyatakan, menginjak UIN SGD Bandung ke-50 tahun, Kampus  harus mampu menjadi gerbang awal dalam membentuk kerakter-karakter bangsa Indonesia dan menjadi kampus yang mendistribusi kader-kader Islam.

“Maka dengan ini kami Sema-U UIN Bandung melakukan sosialisasi empat pilar merupakan sebuah bentuk kritis kami, keinginan kami bahwa kedepannya kita harus menjadi orang-orang yang luar biasa dan kami sangat menginginkan sebuah gerakan dimahasiswa yaitu gerakan idealisme bukan sparatisme yang dibiayai parpol,” tutup Acep Jamaludin.

 

Reporter: Siti Ressa/ Magang

Redaktur: Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas