Hukum dan Kriminal

Tanggapi Video Pemukulan, Ratusan Ojol Sambangi Pangkalan Ojek Cipadung

Ratusan pengendara ojek online (Ojol), menunggu keputusan hasil mediasi antara pihak ojek online (Ojol) dan ojek pangkalan (Opang), di halaman Polsek Panyileukan, Kamis (19/4/2018). Ratusan ojol mendatangi Polsek Panyileukan dipicu oleh video pemukulan yang dilakukan oleh Opang terhadap Ojol. (Harisul Amal/ Magang)

 

SUAKAONLINE.COM – Konflik yang melibatkan ojek pangkalan (Opang) dengan ojek berbasis online (Ojol) kembali terjadi, kali ini melibatkan ojek pangkalan Arda Cipadung dengan ratusan pengemudi Ojol di Jalan A.H Nasution, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Kamis (19/4/2018). Kejadian ini bermula setelah beredarnya video mengenai seorang pengendara Ojol yang diintimidasi oleh sejumlah Opang yang tengah mengambil orderan di sekitar komplek Cipadung Permai.

Korban pemukulan tersebut, Dadan Kadarisman, mengatakan kejadian tersebut terjadi Jumat (13/4/2018) lalu, ketika itu ia mendapatkan orderan dari komplek Cipadung Permai menuju kampus 2 UIN SGD Bandung di Jalan Soekarno Hatta, namun di tengah perjalanan ia dipepet dan dihadang oleh sejumlah tukang ojek pangkalan.

“Terus ditanya, ‘ini online ya? Bukan ini saudara, kata penumpang’. Namun setelah mengetahui saya ojek online, di situlah terjadi kontak fisik, beberapa kali kepala saya dipukul dengan helm, dan setelah itu ia meminta STNK saya untuk ditahan. Karena waktu itu saya takut makin kenapa-kenapa, saya berikan saja,” akunya.

Dadan mengaku awalnya tidak mengetahui bahwa aksi penyerangan hari ini dipicu oleh video dirinya yang viral di kalangan Ojol. Siang itu ia sedang beristirahat di sekitaran Kampus UIN dan melihat banyak Ojol dan Opang yang ribut. Setelah tanya-tanya ada apa dan Ojol lain memberitahunya kalau ada Ojol yang diintimidasi Opang, ia melihat video tersebut dan baru sadar kalau yang ada dalam video tersebut adalah dirinya. Setelah itu ia pun ikut mediasi bersama perwakilan Opang di Aula Polsek Panyileukan.

Ketua ojek pangkalan Arda Cipadung, Cecep Septajudin, mengatakan sebagai tukang ojek pangkalan, mereka mempunyai aturan-aturan yang berada di bawah naungan Kapolsek terdekat, sehingga ketika ada permasalahan-permasalahan yang terjadi dapat segera dirundingkan dan diselesaikan bersama-sama. Menurutnya ada hal yang harus dihormati bahwa di setiap pangkalan itu terdapat hukum sosial, sehingga ketika ada terjadi kekerasan, itu berarti kemarahan mereka sudah mencapai klimaks.

“Aturan tersebut di antaranya, ketika ada pengendara berbasis online lewat, kita tanya mau ke mana, jika mau mengantar atau mengambil semacam barang ya silakan, karena kami tidak arogan. Tapi mohon maaf kalo konteksnya dalam mencari nafkah, mengambil penumpang yang notabene adalah penumpang yang suka kita tarik. Mohon saling mengerti, Anda (Okol) -kan bisa cari penumpang lain di kota. Tapi ketika masuk ke zona kita, maaf kita juga butuh isi perut,” ujarnya.

Ia pun mengklarifikasi, alasan di balik pemukulan dan penahanan STNK milik Dadan adalah karena saat itu kondisi kemarahan Opang sedang sudah mencapai batas klimaks. “Kenapa kemudian diambil STNK-nya, itu karena kami memiliki aturan, itu tujuannya supaya nanti dari perwakilan perusahan transportasinya agar datang mengambil biar nantinya kita bisa berdialog,” pungkasnya

Cecep pun meminta maaf atas benturan yang telah terjadi, menurutnya jika waktu kejadian itu diselesaikan dengan baik, kejadian seperti ini tidak akan terjadi. “Saya mewakili Opang Arda Cipadung mewakili teman-teman yang lain menyatakan sangat menyesal sekali atas peristiwa ini, mohon maaf sebesar-besarnya atas peristiwa ini saya mohon untuk tidak diperpanjang dan tidak diperkeruh lagi dengan hal-hal yang lain,” tutupnya.

 

Reporter  : Harisul Amal/ Magang

Redaktur : Muhammad Iqbal

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas