Kritik Sastra

Blunder Puisi Sukmawati di Negeri Minim Literasi

(Dok.Net)

Oleh Annisa Dewi Anggri Aeni*

Joh F Kennedy pernah merapal : jika politik itu kotor, maka puisi akan memberishkanya, jika politik bengkok sastra akan meluruskanya. Tapi kali ini, sastra dianggap menyumbang kekruhan yang sekarang sedang terjadi. Terlepas dari pro dan kontra atas puisi itu sebenernya tidak perlu dipermasalahkan,  Barangkali mungkin yang menjadi permasalahan sekarang adalah negeri ini yang gagap literasi. Juga pembacaan puisi yang kurang tepat di waktu genting seperti sekarang : tahun menjelang politik, apa saja dijadikan alat dan kendaraan termasuk sastra dalam hal ini, puisi.

Belakangan khalayak gempar dengan puisi yang dibacakan Sukmawati dalam acara 29 tahun Anne Avantie berkarya di Indonesia Fashion Show. Protes dan kecaman bertubi dilontarkan ke Sukmawati hingga dilaporkan untuk dipidanakan.

Dalam puisi diatas sejumlah acuan ke agama Islam seperti syariat Islam, azan, cadar dan ilahi. Pembaca yang mengenal simbol Islam akan menganggap analogi yang digunakan tidak tepat tapi masalah interpretasi tidak bisa dipaksakan antar satu kepala dengan kepala yang lain. Setiap pembaca memiliki alam ide yang tidak bisa dipukul rata dan penilaianya masing-masing.

Konon puisi adalah mahkota Bahasa , cara pemanfaat Bahasa yang setinggi-tingginya dicapai dalam puisi. Sederhananya, puisi bisa dicapai apabila seseorang bisa bermain-main dengan bahasanya. Sastrawan mempermainkan bahasanya sebagaimana rupa hingga ia mencapai taraf dan makna tertentu. Mungkin saja ketika menulis tidak bermaksud mengatakan sesuatu yang sudah jelas maknanya, yang pasti bahwa makna itu pasti ‘ada’ setelah puisi ditulis.

Pengalaman atau peristiwa sehari-hari yang digunakan untuk menggambarakan peristiwa begitu saja tanpa niat untuk memberi nasihat kepada pembaca atau tanpa berkomentar kecuali hanya sekedar menyiratkan perasaanya oleh Sukmawati dalam puisinya. Diperkuat juga dengan pendapatnya bahwa ia hanya menuliskan apa yang ia rasakan.

Baca juga:  Menulis sebagai Jalan Mengawal Realita Sosial

Puisi Ibu Indonesia cukup merepresentasikan masyarakat yang pernah merasakan hal yang sama denganya entah karena speaker musala/masjid yang rusak, minimnya muazin berkaitan dengan  pengalaman  pribadi  pernah mendengar azan selama lima waktu itu hanya mengalun suara yang bisa langsung ditebak yaitu orang yang berusia lanjut jelas berelasi dengan konteks social.

Puisi yang dianggit 2006 itu bahkan sempat dibuat ontologi dan tidak jadi problematic. 12 tahun berlalu dan ketika negeri ini sedang gerah intolernasi, puisi yang dibacakan itu dianggap memperkeruh. Barangkali saat dilantunkan 2006 atau 15 tahun setelah tahun 2018 akan berbeda respon dari masyarakat.

Sebelum puisi ini ramai dibicarakan Indonesia sempat digegerkan dengan pelarangan penggunaan cadar di dua kampus yang notabenya Islami. Hal itu menyulut kembali kemarahan bagi sebagian orang dengan tuduhan menghina agama.

Berangkat dari permasalahan di atas ada beberapa pisau analisis yang bisadigunakan untuk membedah puisi ini salah satunya secara objektif sebab berkaitan dengan struktur puisi. Sajak yang padat dengan metaphor itu yang boleh dikatakan bebas dari klise. Sebisa mungkin puisi menghindari klise menjauh dari bahasa yang sudah lecek karena sudah sering dipakai, itu hakikat puisi.

Yang pertama diksi. Diksi yang digunakan Sukmawati masih tergolong familiar sehingga setiap orang yang membacanya dapat langsung memahami( tanpa melihat lebih dalam beyond of the text). Definisi defamiliarization yang digaungkan oeh sastrawan Rusia, Victor Shlovsky tidak berlaku sebab diksi yang tertera disana bukan kata-kata asing yang sengaja licentia poetica susun.

Menilik dari perbandingan yang digunakan dalam struktur puisi ada yang disebut imaji sesuatu yang dibayangkan dalam benak kemudian dituangkan dalam tulisan juga Bahasa konkret dimana penggunaan kata atau frasa menjadi perhitungan. Yang menjadi soal puisi ini gempar perbandingan pada bait berikut.

Baca juga:  ARUNIKA

 

Aku tak tahu Syariat Islam

Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah

Lebih cantik dari cadar dirimu

Gerai tekukan rambutnya suci

 

Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok

Lebih merdu dari alunan azan mu

 

Penulis jelas metaforis, ada perbandingan analogis antara syariat Islam dan konde. Dalam gaya Bahasa sah-sah sajatetapi ketika sudah berurusan dengan respon pembaca menjadi lain lagi.  keduanya seolah timpang sebab konde bukan hukum atau atruan untuk menjaga keberlangsungan hidup berbanding terbalik dengan syariat Islam.

Saat penglihatanmu semakin asing

Supaya kau dapat mengingat

Kecantikan asli dari bangsamu

Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif

Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

 

Gemulai gerak tarinya adalah ibadah

Semurni irama puja kepada Illahi

Nafas doanya berpadu cipta

 

Disisi lain, barangkali masyarakat terlalu fokus pada bait yang dianggap kontroversial, tetapi mereka lupa ada bait-bait lain yang mendeskrpsikan keindahan. Penggalan puisi di atas menunjukkan kekaguman terhadap ibu pertiwi yang sejujurnya berelasi pula dengan religiusitas dengan adanya kata doa, suci, ibadah dan ilahi.

Pun, perpaduan antara alam dengan perempuan bila kata William Wordsworth dapat disebut romantic. Ia berujar objek utama  diusulkan pada puisi untuk memilih situasi dan kondisi dari kebiasaan hidup untuk kemudian dihubungkanya, mewarnainya dengan imajinasi agar hal hal yang luar biasa terepresentasikan tidak saja dalam pikiran tetapi menuliskanya sebagai suatu aspek yang tidak biasa.

Dalam kritik sastra ada yang disebut dengan ideological encounter dimana pembaca yang tahu karya yang bagus dan hebat seperti apa namun tetap bergantung kepada selera. Di suatu seminar nasional tentang sastra yang pernah saya ikuti, salah satu pembicaranya dosen sasatra Unpad mengatakan karya yang bisa dibilang nyastra adalah yang bersiafat simbolis dan metaforis. Terdapat banyak symbol yang mengandung interpretasi sehingga makin memperkaya karya tersebut dan perbandingan–perbandingan.

Baca juga:  Beberes Bandung Ajang Warga Bandung Kerja Bakti Akbar

Jika ranah pembicaraan pada sosiologi sastra maka puisi yang baik adalah puisi yang merepresentsikan kondisi sosial dan masyarakat yang ada. Disitu berperan untuk mencatat sejarah kehidupan dengan cara dan kemasanya sendiri.

Dalam buku Sapardi Bilang Begini Maksudnya Begitu, jika kita membaca puisi semata–mata hanya mencari amanat sebagian besar sajak yang ditulis jelas akan mengecilkan hati, sebab tak kunjung mendapat amanat yang jelas. Sebab pada dasarnya lirik menggambarkan konflik yang ada  dan hubungan antar manusia.

Puisi itu pula mengandung blame dan praise sekaligus. Letak blamenya adalah tidak memandang bahwa azan lebih jauh lagi lafaz dari azan sendiri dikesampingkan, begitupun dengan cadar dan syariat Islam. Sisi praisenya adalah pengauman terhadap perempuan-perempuan Di Indonesia yang berbudi luhur dan berahlak mulia serta Ibu pertiwi yang kita cinta ini.

Aristoteles dan Ibnu Rusyd tidak menolak bahwa karya sastra diintregasikan dalam keburukan atau kejahatan lantas menjadikan sastra sebagai sarana. Dan itu pula sebagai proses dari nahimunkar untuk memahamkan pada kita.

Sayangnya,  Rolan Barthes pernah bercerita dalam sastra The Death of Author(kematian pengarang) memang benar adanya, ketika Sukmawati membela dengan serinci apapun perihal puisinya, semua kembali kepada interpretasi pembaca. Ketika karya yang sudah dipublikasikan selalu ada jarak antara pembaca dan penulis, tapi tidak untuk pengarang.

*Penulis adalalah Mahasiswa Sastra Inggris dan merupakan Ketua Litbang LPM Suaka 2018

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas