Kampusiana

Edukasi, Upaya Menghentikan Catcall dan Seksis

(Dok.Suaka)

Ketua Women Student Center (WSC) tahun 2017, Tia Pramesthi mengeluhkan seksisme dan catcalling yang masih dianggap wajar. Tia yang ditemui selepas acara diskusi umum WSC mengungkapkan bahwa catcalling dan seksisme merupakan musuh perempuan yang saat ini sedang marak terjadi. “Jangankan seksisme, bilang cantik saja sudah seksis. Itu mengobjektifikasi perempuan.” Ujarnya, Rabu,(24/4/2018).

Menjamurnya catcalling dan seksis karena perempuan  seringkali dipandang sebagai makhluk sensual. Budaya yang menempatkan perempuan pada ranah ketidaksetaraan. Budaya pula yang menomorduakanya.  Saat menatap perempuan yang dilihat hanya sisi sensualnya, seolah itulah letak kepuasan perempuan.

“Akhirnya tindakan tak nyaman dilakukan, pun berlaku pula untuk laki-laki pada laki laki juga pasti tidak nyaman. Cat call dan seksis terjadi karena pelaku menganggap perempuan dibawah dia dan menganggap perempuan  layak dilakukan seperti itu”Papar Pembina WSC, Neng Hana di ruanganya Rabu(17/4/2018).

Neng Hannah menceritakan pengalamannya yang sempat mengalami seperti dilecehkan oleh professor dan doktor baik laki-laki maupun perempuan. “Mereka tidak melihat isi presentasi saya justru hal yang menganggu mereka adalah kok ada mahluk seperti itu, padahal saya sudah sopan. Saya marah dan mencoba merenung berfikir betapa keilmuan diidentikan dengan laki laki dan pengetahuan identik dengan keseriusan. Seakan perempuan tidak layak seolah perempuan hanya layak dinikmati tubuhnya, sehingga muncul cat calling yang menurut saya itu bentuk perendahan” paparnya geram.

Dampak dari catcalling untuk perempuan sendiri, wilayah publik menjadi tidak aman dan menakutkan.  Terlihat sederhana tetapi memunculkan parno yang berpengaruh pada minimnya  partisipasi perempuan. Sayangnya oleh sebagian oknum hal itu dijadikan cara untuk mendomestikasi.

Upaya Pencegahan

Hana menuturkan, upaya pencegahan kekerasan verbal semacam melucah dan seksis tidak terjadi bisa dengan dua cara pertama bisa secara pribadi, kedua secara lembaga. Jika secara pribadi jangan mentolerir perbuatan pelecehan seksual sekecil apapun termasuk cat calling. Sayangnya kesadaran pribadi tidak tiba-tiba muncul harus ada edukasi bahwa itu perbuatan buruk.  Di Perancis dan Belanda undang-undangnya sudah diberlakukan tapi tidak dengan Indonesia.

Baca juga:  Humas Kembali Harum Lewat Himmas Cup

“Sebagai perempuan menolaklah untuk dilakukan seperti itu. Edukasi bisa menjadi jalan agar meminimalisr dengan syarat harus melihat situasi dan kondisi bila pelaku adalah preman maka edukasi tidak akan mempan justru menjadi boomerang. Untuk orang yang disekitar beri pemahaman dengan cara yang tenang dan sopan agar informasi yang disampaikan menerap dalam kehidupan dan tidak ada kejadian pengulangan di lain waktu,” pungkas Neng Hannah.

Neng Hannah menambahkan informasi yang memadai akan mengurangi angka pelecehan seksual. Menurutnya mahasiswa sebagai jembatan antara masyarakat dan birokrat harus mampu menularkan ilmu yang sudah didapat. Jangan menimbunya sendiri di kepala. Penyuluhan, memberitahu dengan menggunakan hati bisa diterapkan kepada masyarakat untuk menekan angka kekerasan seksual.

Kedua secara institusi, dapat ditempuh pula dengan cara pendidikan. Semisal membuat plang didepan bertuliskan ‘Kampus ini bebas pelecehan seksual’.  Bukan saja sekadar plang untuk pajangan tetapi ada ruang advokasi dan pengaduan sehingga kampus menjadi tempat yang ramah untuk siapapun, papar Hana, hal itu pula menjadi cita citanya bila ia memiliki kewenangan di UIN SGD Bandung.

“Kalau saya jadi orang yang berpengaruh di kampus ini saya akan punya program seperti itu, bukan saja soal narkoba.  Di plang itu sertakan frasa ‘menerima aduan’.  Minimal hadirnya plang itu memuuculkan ketakutan.  Itu taraf lembaga apalagi kalau sudah tingkat negara yah” tegas dosen fakultas Ushuluddin tersebut.

Adanya Unit Kegiatan Mahasiswa WSC yang ternyata membuka bilik pengaduan pula. Namun karena anggotanya masih mahasiswa tidak dapat banyak bergerak. Mereka hanya lebih proaktif kepada para korban untuk kasus yang tergolong parah mereka refer ke lembaga yang lebih besar yang berkaitan dengan hukum.

Baca juga:  Wisuda 71, Mahmud Lepas 1380 Wisudawan

Ketua WSC tahun 2018, Shania Azzahra membeberkan“Hampir setiap perempuan mengalami pelecehan seksual dalam bentuk verbal. Mestinya kampus bangga punya UKM yang berkiprah di ranah gender, kita berusaha meminimalisir kekerasan seksual bahkan kampus sendiripun tidak respect terhadap masalah-masalah seperti itu. Justru kita yang berjalan kita yang maju. Pihak kampus harus memerhatikan pembelajaran tentang gender kekerasan dan pelecehan” ungkap Shani di depan Gedung Student Center Rabu, 24/4/2018.

Sejalan dengan Shania, Tia Pramesthi mengatakan bahwa perlindungan dari kampus sangat dibutuhkan.  Ketika sampai ranah catcall perlu ada gerakan langsung dari pihak kampus. Baginya kampus tidak bisa menjadi tempat yang ramah ataupun aman bagi perempuan.

Reporter: Anisa Dewi Anggri Aeni

Redaktur: Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas